Jadi, setiap orang tidak perlu mengeruhkan diri agar orang lain kesulitan menyelami dasar. Tulis saja apa adanya.
Barangkali juga tidak sepenuhnya salah penulis. Mungkin saja pembaca seperti saya lah yang menyusahkan diri sendiri. Kata seseorang kenalan saya di medsos begini kira-kira menyindir, Â "kita terlalu pusing menggali makna sampai lupa menikmati". Menurutnya puisi yang bagus akan terkenang dan merasuk sendiri ke sanubari pembaca. Â Tanpa perlu kita cari-cari arti maupun tujuannya.
Benar, saya mungkin gatal memikirkan arti, tujuan, makna, atau sekadar inti dari puisi, sebagai usaha saya dalam menyelami isi kepala seorang penulis.Â
Saya lupa, entah karya puisi yang dibuat cuma kerjaan iseng waktu buang air, atau sehabis cuci baju. Lalu penulis unggah di medsos, kemudian saya baca dan saya selami berhari-hari (inilah yang disebut bodoh).
Apa kekurangan puisi di zaman sekarang?
Di era milenial, teknologi memang membantu  memberi ruang bagi para penulis puisi untuk menyebarkan tulisannya. Kemudahan akses dan banyaknya media tulis yang bisa dipakai berarti  sejalan dengan lahirnya banyak-banyak penulis muda yang baru merintis.
Salah satu usaha penulis puisi di masa sekarang agar dikenal publik adalah dengan cara menerbitkan karyanya secara indie. Biasanya dilakukan berkelompok supaya antalogi itu laku. Sedihnya, pasar buku puisi bagi penulis baru itu bisa dikatakan nihil.
Nyatanya teknologi tidak menghapus tradisi sastra masa lalu. Kebanyakkan cerpenis dan penyair dipaksa lahir dari media cetak besar.Â
Seiring kali kredibilitas penulis dipertanyakan apabila belum pernah tulisannya dimuat di koran atau majalah sastra. Walaupun realitanya media cetak perlahan-lahan mulai ditinggalkan dan tergantikan portal berita online.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H