Saya pernah mendengar cerita.
Suatu hari ada seorang anak yang bisa menemukan listrik dari buah mangga. Anak ini merasa bahwa idenya sangat brilian dan merasa tetangga-tetangganya dan pemerintah akan mendukung idenya. Dia bermimpi tinggi bahwa dia akan menjadi ilmuwan hebat dengan listrik dari mangganya. Ekspektasinya sangat besar.
Namun, ternyata tetangga-tetangganya tidak merasa penemuannya spesial. Pemerintah pun tidak terlalu mengapresiasi idenya. Ternyata realita yang terjadi tidak sesuai dengan ekspektasi. Karena anak ini terlalu banyak berekspektasi, kegagalan menjadi pukulan yang sangat pahit baginya. Sekarang, anak ini sudah dewasa dan dia bekerja di kantor kelurahan tempat ia tinggal. Saya tidak tahu dia bekerja dibagian apa, tapi yang pasti kantor kelurahan tidak membutuhkan ilmuwan.
Ekspektasi yang terlalu tinggi (dan gagal) akhirnya membunuh mimpinya.
Saya merasa mungkin ini adalah kasus yang sama dengan yang dihadapi oleh pemenang-pemenang olimpiade di ajang internasional. Mereka berharap di Indonesia mereka pulang menjadi pahlawan. Ekspektasi mereka begitu tinggi. Ternyata, ketika mereka pulang, hanya segelintir orang mungkin yang menyambut mereka. Bahkan, di Gorontalo ada mantan petarung olimpiade yang sekarang menjadi penjaga kandang ayam.
Dunia memang terlalu kejam, jika kita hanya fokus dengan ekspektasi kita saja.
Mari kita bandingkan dengan Presiden kita, Joko Widodo. Jokowi punya karir yang sangat bagus. Lahir dari keluarga miskin dan pernah digusur, akhirnya Jokowi mampu menjadi seorang pengusaha meubel. Tapi kariernya tidak berhenti disitu. Dia ternyata mampu menjadi walikota Solo, lalu menjadi Gubernur DKI Jakarta, dan kini menjadi Presiden RI. Ada hal unik yang menyertai perjalanan karier Jokowi.
Jokowi tidak pernah berekspektasi terlalu tinggi, yang beliau percayai adalah kerja keras dan etos kerja.
Jokowi tidak pernah berekspektasi mendapat jabatan setinggi-tingginya. Sebelum pemilu 2014, nama-nama seperti Prabowo Subianto, Aburizal Bakrie, Dahlan Iskan, Surya Paloh, dan Wiranto adalah nama-nama yang digadang-gadang akan menjadi Presiden RI ke-7. Kita semua pasti tahu tidak pernah sekalipun mulut Jokowi mengatakan jika ia akan melaju menuju RI-1.
Namun ternyata hasil kerja dan prestasinya berteriak lebih keras daripada mulutnya.
Itu kenapa rakyat lebih memilih “anak baru” daripada harus memilih politisi-politisi senior yang kontribusinya terhadap negara bisa dibilang tidak besar-besar amat.