Semenjak pulang liburan di Kota Makassar dari tanggal 23 Desember 2020 hingga masuk awal bulan Januari 2021, disambut hujan deras yang turun setiap saat. Tidak tanggung tanggung, terkadang sampai seharian hujan tidak berhenti tumpah dari langit.
Akibatnya saya lebih banyak menikmati hari berdiam di rumah sembari melakukan aktivitas menulis. Padahal tadinya liburan hendak diisi dengan berjalan cuci mata menikmati kemajuan pembangunan Kota Makassar, sembari tetap mengikuti protokol kesehatan (Prokes). Namun niat ini harus ditahan, karena cuaca yang tidak mendukung.
Namun dalam kesempatan jalan menggunakan kendaraan roda dua saat hujan reda, satu hal yang saya lihat dari kemajuan pembangunan di Kota Makassar adalah telah rampungnya pembangunan jalan tol layang di ruas jalan AP Pattaran akhir tahun 2020 yang lokasinya tidak jauh dari rumah saya di Gunung Sari Baru Makassar.
Keberadaan jalan tol layang yang telah rampung, sudah pasti akan dapat mengurai kemacetan yang tidak terhindarkan di ruas jalan tersebut. Selain itu akan mempercepat akses mobilisasi logistik yang diangkut oleh kendaraan berat yang melintasi jalan tol layang tersebut nantinya.
Niat hati hendak melintas menyusuri sepanjang jalan AP Pettarani di bawah jalan tol layang untuk sekedar menggagumi hasil pembangunan infrastruktur, sebagai lompatan kemajuan di Kota Anging Mamiri tersebut. Namun apa mau dikata, hujan deras yang turun tiap hari, membuyarkan niat tersebut.
Jadilah waktu yang ada dinikmati bersama keluarga, sembari berjaga jaga jika hujan deras berpotensi menyebabkan banjir di dalam rumah. Pengalaman tahun sebelumnya, dimana  setiap bulan Desember hingga Januari rumah kami pasti kemasukan air, jika hujan deras tidak berhenti selama beberapa hari.
Kondisi teras rumah yang rendah membuat luapan air masuk sampai kedalam rumah. Akibatnya sudah pasti dirasakan harus rela menguras air yang masuk hingga kering. Jelas ini pekerjaan merepotkan, karena butuh waktu dan tenaga ekstra untuk pekerjaan insidentil tersebut.
Untungnya tahun ini teras rumah sudah ditinggikan untuk mengantisipasi masuknya air kedalam rumah, jika hujan dengan intensitas yang tinggi tidak berhenti.Â
Terbukti beberapa hari lalu hujan deras turun dari langit membasahi Kota Makassar dan air sudah meninggi hingga melewati pagar rumah. Untungnya saat hujan berhenti rumah aman tidak kebanjiran.
Jujur saja meski tidak kemasukan air saat hujan pasca rehab teras rumah, namun rasa was was jika cuaca yang ekstrim disertai tumpahan air dari langit yang lebih deras berlanjut tanpa henti. Niat untuk ingin tenang di rumah harus dibarengi dengan sikap waspada, untuk menjaga dari hal yang tidak diinginkan terjadi yakni banjir dalam rumah.
Sebagai insan yang senantiasa mensyukuri  setiap anugrah dari alam semestta, maka  fenomena hujan yang turun setiap hari harus diterima sebagai realitas wujud anugrah Sang Pencipta. Walau terkadang hujan membuat repot, namun tak harus direspon dengan perasaan dan pikiran yang ribet.
Meski hingga kini belum menyebabkan banjir dalam rumah, namun paling tidak hujan yang turun telah turut membasahi tanaman ibu saya dan membuatnya menjadi subur. Itulah yang terkadang menjadi sebuah kesyukuran, dibalik datangnya hujan deras, yang kadang tak terduga bisa menjadi bencana.
Lebih dari pada itu, bagi kita yang pernah merasakan repotnya kebanjiran, pasti terbiasa untuk tanggap mengantisipasi hal tersebut. Rasanya kami sekeluarga juga sudah tahu pasti apa yang harus dilakukan, jika hujan deras turun di tempat kami berada.Â
Semoga hujan di tahun 2021 menjadi berkah dan sebaliknya tidak membawa kesengsaraan bagi kita.
.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI