Hmmm. Penulis tak sengaja masuk ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada Libur Natal 2019, Rabu siang. Nggak sengaja lantaran tak punya niat untuk masuk kawasan wisata keluarga yang lokasinya tak jauh dari kediaman, Kelurahan Ceger, Cipayung, Jakarta Timur.
Boleh jadi penulis merasa jenuh kala berolahraga pada Sabtu atau Minggu di lokasi TMII itu yang dipandang melulu itu-itu saja. Â Tapi, pada Rabu pagi, penulis merasa terkejut. Pengunjung berjubel. Wuih, banyaknya orang tua membawa putera-puterinya.
Kalau saja tidak menemani isteri tercinta, penulis tak tahu persis situasi terkini di TMII. Saat itu penulis diminta menemani lantaran ada seorang rekannya yang membawa keluarga dari Bandung tengah berada di TMII.
Kontak person sebelumnya sudah dilakukan melalui telepon genggam, akhirnya dapat dijumpai. Ya, sekedar melepas rindu. Dan, setelah mengobrol ngalor-ngidul di pelataran Tugu Api Pancasila, lalu kami berpisah.

Pokoknya, libur Natal harus dimanfaatkan untuk menghilangkan rasa penat yang dialami pada hari-hari sebelumnya. Begitulah cara menikmati liburan, disesuaikan dengan selera dan ukuran dompet.
Kawasan wisata ini tercatat memiliki lahan seluas 150 hektar. Jika kita naik kereta gantung, kita akan menyaksikan danau arsipelago dengan di tengah-tengah gugusan kepulauan Indonesia.Â
Tercatat TMII memiliki 32 Anjungan Daerah, 18 Museum, 20 Wahana utama dan Teater, 13 Taman, 22 fasilitas, 7 Rumah Ibadah dan 13 Bangunan utama yang tersebar di area TMII.
"Kami sudah keliling Indonesia," kata seorang bocah dari Bandung yang datang bersama keluarga.
Ia mengatakan itu lantaran sudah naik bus wisata yang mengelilingi sejumlah kawasan wisata itu. Termasuk menyaksikan beberapa anjungan dari dalam bus yang ditumpangi. Ia terlihat gembira seolah dirinya telah mendapati informasi tentang wajah Indonesia yang demikian luas dan multi etnis.

Pandangan penulis, ya sederhana. Kekuatannya ada pada wisata edukasi. Ada unsur pendidikan yang berkaitan erat dengan wisata (keluarga). Meski yang nampak berkunjung orang tua, namun sejatinya mereka itu tengah mendampingi anak-anak. Di situ sang anak mendapati informasi berbagai hal.
Mengapa bisa demikian. Ya, karena tadi di lokasi wisata itu hadir museum (Keprajuritan), termasuk bangunan rumah adat dengan perangkat di dalamnya. Bagi anak yang menyaksikan semua itu tentu akan diserap sebagai tambahan wawasan. Belum lagi hadirnya Taman Burung, Taman Jam Bunga, Taman Prasasti APEC,
Danau Arsipelago, Taman Kaktus, Taman Apotik Hidup, Taman Melati, Taman Bekisar, Taman Burung, Taman Konservasi Burung, Monumen Persahabatan Negar Non Blok, Taman Budaya Tionghoa, Taman Legenda Keong Mas dan Taman Borobudur, jika dikunjungi juga akan menambah pengetahuan bagi anak didik.
Nah, bagi orang tua yang juga sebagai penggemar burung, pada saat liburan seperti ini sambil membawa putera-puterinya, ya tidak membuang kesempatan untuk melihat burung terbaik di sini.
"Kekuatannya ada pada wisata edukasi. Ada unsur pendidikan yang berkaitan erat dengan wisata (keluarga). Meski yang nampak berkunjung orang tua, namun sejatinya mereka itu tengah mendampingi anak-anak."
Ya, kita tahulah. Di Jakarta dan beberapa kota lainnya kini warganya tengah "demam burung". Coba saksikan, rumah di pinggir jalan raya hingga gang sempit dapat disaksikan kandang burung dari halaman luar. Hmmm, nilainya dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah.
Jadi, tak salah jika ada orang tua memprioritaskan kunjungannya di sini untuk menyaksikan burung-burung yang cantik dan merdu suaranya.
Hingga kini manajemen TMII masih membanggakan Teater Keong Mas. Pengunjungnya memang selalu, wuih, banyak. Teknologi pada Teater Keong Mas menggunakan layar IMAX yang spektakuler.Â
Di sini film yang ditayangkan banyak mengangkat kisah dari budaya lokal dan pengetahuan dari negara maju. Durasinya antara 1 jam sampai 2,5 jam.
Masih banyak tempat-tempat wisata menarik lainnya. Wisata ke TMII selain terjangkau dengan dompet juga dapat menghibur anggota keluarga tanpa repot. Tapi, jangan lupa, jaga kebersihannya.
Selamat berlibur
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI