Mohon tunggu...
Edy Supriatna Syafei
Edy Supriatna Syafei Mohon Tunggu... Jurnalis - Penulis

Tukang Tulis

Selanjutnya

Tutup

Healthy Pilihan

Kisah Antri "Ngesot" di RSUD Cibinong yang Mengasyikan

26 Oktober 2017   21:05 Diperbarui: 26 Oktober 2017   21:24 3611
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Motto pelayanan, keberpihakan kepada kualitas layanan. Foto | Dokumen Pribadi.

Saya terpaksa membuka-buka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi kedua mencari kata yang tepat untuk menyebut antrean orang-orang berobat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cibinong yang dilakukan sambil duduk, lalu menggeser pantat perlahan-lahan menanti pintu rumah sakit tersebut dibuka petugas.

Bukan lantaran ikut-ikutan karena pada setiap bulan Oktober berlangsung bulan bahasa, agar berdisiplin menggunakan bahasa Indonesia, - yang baik dan benar - sehingga harus menempatkan susunan kata dalam sebuah artikel tepat sesuai kaidah bahasa itu sendiri. Jauh dari makna ganda, apa lagi mengandung kalimat bersayap.

Sebabnya, saya bukan ahli bahasa. Tetapi mencoba mengungkapkan, kata apa yang tepat bagi sekumpulan orang berderet duduk memanjang di lorong, lalu bersama-sama menggeser pantatnya ke arah kanan. Ketika di sisi kanan sedikit kosong, bergeser orang yang satu ke arah kanan. Seterusnya di susul rekan-rekannya dari sisi kiri dengan gerakan yang sama.

Saya menyebutkan mereka itu antre ngesot. Ketika dicari di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terbitan Balai Pustaka (1991), sayangnya tidak ditemukan kata yang dimaksud.

Sejak subu, RS ini sudah dipenuhi pasien BPJS. Foto | Dokumen Pribadi.
Sejak subu, RS ini sudah dipenuhi pasien BPJS. Foto | Dokumen Pribadi.
Ini bagian yang menyenangkan. Habis antre, tersedia kuliner menyenangkan di depan RS. Foto | Dokumen Pribadi.
Ini bagian yang menyenangkan. Habis antre, tersedia kuliner menyenangkan di depan RS. Foto | Dokumen Pribadi.
Namun di KBBI Online, ngesot dimaknai sebagai olah raga tangan, (bukan atraksi jungkir balik), posisi duduk di lantai, pake tangan buat jalan, sehingga badan jadi terseret.

Sedangkan laman pada Kamus Gaul, dijelaskan bahwa kata ngesot diambil dari Bahasa Jawa yang secara harafiah berarti berjalan menggunakan pantat dan tangan. Kata ini yang diasosiasikan dengan orang yang tak mampu berjalan menggunakan kedua kakinya.

Ingatan saya pun lalu mengarah kepada cerita film horor. Makanya, perlu waspada ketika lewat jalan gang sempit rada gelap, nanti bisa jumpai suster ngesot. Hehehe, ngeri.

Setelah membaca arti kata ngesot, saya meyakini bahwa kata tersebut tidak meleset. Terpenting, arti kata ngesot yang saya pakai tidak memiliki konotasi negatif.  Orang banyak pun paham. Pelakunya, orang-orang yang berobat, sudah antre ngesot sebelum Azan Subuh berkumandang. Tapi, peristiwa ini tentu tidak sama dengan cerita horor suster ngesot itu.

Suasana antrean di dalam rs. Foto | Dokumen Pribadi.
Suasana antrean di dalam rs. Foto | Dokumen Pribadi.
Ambil nomor dibantu petugas dan dikawal Satpam. Foto | Dokumen Pribadi.
Ambil nomor dibantu petugas dan dikawal Satpam. Foto | Dokumen Pribadi.
Kenapa ngesot?

Di sini uniknya. Para pasien BPJS Kesehatan di RSUD Cibinong, Jawa Barat, begitu sampai langsung duduk di tepi lorong jalan rumah sakit. Di antara orang-orang yang berobat itu sudah tiba sebelum azan Subuh berkumandang. Mereka itu kebanyakan bermukim jauh dari rumah sakit. Kebanyakan datang menggunakan ojek, kendaraan sewa dan pribadi.

Begitu tiba di halaman parkir, ada di antaranya cepat bergegas ke masjid terdekat untuk melaksanakan shalat dahulu. Setelah itu, mereka mengambil posisi duduk di tepi lorong jalan rumah sakit. Lantas, disusul para pasien lainnya duduk di tempat yang sama di sisi kiri.

Saya pun ikut dalam barisan ini. Duduk, lalu ngesot ke arah kanan perlahan di susul lainnya dengan gerakan serupa. Tentu, acara ini diisi sambil ngobrol dengan orang yang berada di sebalah kanan dan kiri.

Loket pelayanan kini ditambah. Foto | Dokumen Pribadi.
Loket pelayanan kini ditambah. Foto | Dokumen Pribadi.
Motto pelayanan, keberpihakan kepada kualitas layanan. Foto | Dokumen Pribadi.
Motto pelayanan, keberpihakan kepada kualitas layanan. Foto | Dokumen Pribadi.
Sebagai pasien baru, cara antre berobat seperti ini rasanya rada asing. Di beberapa rumah sakit, pasien BPJS antre duduk setelah mendapat karcis dari petugas. Di sini, antrean pasien ada dua macam: pertama untuk mendapatkan nomor antre berobat, kedua setelah mendapat nomor antre berobat barulah ikut antre pendaftaran ke dokter yang dituju.

Antrean pertama sangat menentukan jadi atau tidaknya berobat. Sebab, ketika nomor habis, maka bisa jadi yang bersangkutan tak dapat berobat. Bisa pula diberi tahu untuk poli tertentu tak melayani pasien disebabkan dokter sakit, ikut seminar atau tak punya dokter pengganti.

Karenanya, antrean ngesot terlihat demikian banyak pesertanya. Sebab, mereka merasa takut tak terlayani. Saya perkirakan antrean mengular sampai 50 sampai 70 meter sampai ke dalam rumah sakit.

Antrean ngesot berhenti tatkala pintu rumah sakit dibuka. Sekitar Pukul 06.00 WIB.  Mereka cepat berdiri rapi, berjalan beriringan bagai warga tengah antre sembako -- sembilan bahan pokok -- kala zaman kampanye terbuka berlangsung. Bisa pula disamakan seperti kaum dhuafa tengah minta belas kasihan orang kaya membagikan zakat menjelang Lebaran.

Antrean makin tertib. Foto | Dokumen Pribadi.
Antrean makin tertib. Foto | Dokumen Pribadi.
Pelayanan yang menyenangkan ketika mendapat senyum suster. Foto | Dokumen Pribadi.
Pelayanan yang menyenangkan ketika mendapat senyum suster. Foto | Dokumen Pribadi.
Berubah, sedikit ?

Sambil ngesot, saya mendapt cerita bahwa pelayanan sekarang sudah lebih baik. Dulu, kata rekan saya yang baru kenal dalam barisan itu, antrean dibagi dua. Kiri dan kanan. Terjadi rebutan masuk untuk mendapatkan nomor antrean pertama. Saat berebut, kaca pintu masuk rumah sakit pecah. Lantas, diperbaiki dengan cara antre satu barisan.

Dulu, loket antrean untuk ke dokter hanya lima buah. Sekarang sudah sembilan loket. Pasien usia lanjut dapat prioritas pelayanan. Sedangkan kelengkapan administrasi, ada petugas yang menjadi relawan memberi petunjuk cara pengisi formulir. Lansia kebanyakan minta bantuan petugas tersebut meski layanannya terasa setengah hati.

Berbeda dengan layanan para suster atau para medisnya. Bolelah diacungi jempol.

Hanya saja, di zaman demikian maju, saya jadi bertanya-tanya. Kok rumah sakit tergolong besar ini belum juga memanfaatkan IT secara optimal. Untuk menghindari pasien antre ngesot, sebetulnya manajemen rumah sakit bersangkutan bisa memanfaatkan Informasi Teknologi (IT). Misal, menjadwalkan pasien datang ke rumah sakit yang sudah tersusun apik dalam basis data di komputer.

Hari apa, jam berapa pasien harus datang. Semua nama paseien diregister. Termasuk dokter yang akan memberikan layanan. Penggunaan catatan dan banyaknya berkas dalam lembaran kertas, untuk layanan publik seyogyianya secara bertahap sudah dapat ditinggalkan.

Manfaatkanlah IT untuk menghindari antrean ngesot, yang terasa unik dan mengasyikan itu, tentu tidak ada salahnya, kan?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun