Demokrat marah, dan menyatakan keluar dari koalisi untuk membentuk koalisi baru dg PAN & PKS agar mencapai PT 20%. Situasi ini akan menyebabkan Gerindra kurang suara sehingga Prabowo terancam tidak dapat ikut Pilpres. Di sisi lain, suara umat 212 pun pecah dan logistik tidak aman.
Atau
C. Prabowo & Salim Assegaf:
Dengan resiko Demokrat marah dan mencoba membentuk poros ketiga dg menggandeng PAN dan satu partai dr Koalisi Jokowi (kemungkinan besar PKB) agar mencapai PT 20% atau skenario terburuk ikut ke dalam gerbong Jokowi.Â
Dalam kondisi ini keuntungan yg diperoleh pada kubu Prabowo adalah bersatunya suara umat dan diperolehnya militansi PKS dalam mendukung pencalonan PS. Namun sisi buruknya logistik tidak aman karena kantong Galang Perjuangan Prabowo pun sampai sekarang baru berhasil mengumpulkan uang senilai Rp. 1,3 miliar, jumlah yg tidak ada artinya buat proyek sangat besar ini. Lihat analisa saya mengenai hal tersebut ditautan ini.
Dari analisa di atas sebenarnya sudah terlihat pilihan mana yg paling aman untuk kubu Prabowo tentu dengan segala resikonya.
Oleh karena itu pada 10 Agustus mendatang dapat diperkiraka  yang akan didaftarkan dari Koalisi pemerintah adalah Joko Widodo dan Mahfud MD. Sementara koalisi Prabowo akan datang dengan membawa nama Prabowo - AHY
Dalam keadaan yg tidak mengenakan di kubu Prabowo tersebut akibat dipilihnya AHY, maka suasana kebatinannya yang akan diciptakan adalah sbb:
1. PKS tetap setia pada gerbong Prabowo walau tidak terpilih sebavai cawapres, karena tidak ada pilihan lain. Bergabung dengan koalisi Jokowi hanya akan menjadi boomerang bagi masa depan politik PKS.
2. PAN menyatakan bergabung dengan Jokowi karena bosan kalah terus dan hasil Pileg 2019 demi mempertahankan dukungan suara bagi Pileg 2019.
3. Amien Rais menyatakan tidak mendukung pilihan PAN tersebut tetapi tidak menyatakan keluar dari PAN. Dia akan duduk dalam tim kampanye Prabowo, sesuatu yang biasa untuknya.