Untuk mewujudkan hal ini, pemimpin organisasi mesti selalu menyiasati agar konflik yang terjadi sebagai bentuk dinamika itu bermanfaat bagi organisasi. Tidak sebaliknya, menjadi disfungsional sampai memperburuk keadaan, bahkan membuat kondisi organisasi terpuruk.
Dibutuhkan keterlibatan pemimpin dalam upaya mengelola konflik yang mengarah pada kemajuan dan tujuan organisasi, bukan sebaliknya.
Apa yang Bisa Dilakukan Pemimpin?
Lalu, apa yang bisa dilakukan oleh pemimpin atau manajer dalam organisasi untuk memanajemeni konflik ini?
Pertama, fokus pada inti masalah.
Pemimpin mesti menelusuri apa sejatinya akar masalah yang terjadi sehingga menimbulkan konflik tersebut. Kedua belah pihak yang berkonflik mesti digali informasinya dengan mendalam sehingga diketahui akar masalah yang sesungguhnya.
Jika masalahnya sudah diidentifikasi, maka selanjutnya dicarikan solusi terbaiknya. Solusi yang hendak diambil mesti dipertimbangkan secara matang: menjadi cara terbaik untuk menyelesaikan masalah. Jangan sampai maksud awalnya menyelesaikan masalah, akhirnya justru menimbulkan masalah baru.
Di sinilah, kemampuan pemimpin diuji untuk mampu menerapkan seni berkomunikasi dengan kedua belah pihak yang berkonflik dan membantu mengurai masalah dan menemukan jalan keluar terbaiknya.
Kedua, tidak memihak pada salah satu pihak.
Pemimpin mesti menegaskan sikap ini kepada kedua belah pihak dan mewujudkannya dalam penyelesaian konflik.
Jika pemimpin masuk di dalamnya dan bersikap berpihak pada salah satu dari mereka yang berseteru, maka kekisruhan bisa kian menjadi-jadi. Sang pemimpin akan dipandang sebagai pihak yang telah bersikap memihak dan keputusannya pun dipandang tidak adil.