Jacobson mendapati banyak kritik. Yang pertama dari Michael Riffaterre, beliau mengemukakan pendapat bahwa bukan lingulislah yang menentukan apa yang relevan dalam sebuah sajak, betapapun halusnya anlisis linguistik yang diberikan. Selain itu ada kritik dari segi sosiologis seorang ahli bahasa Amerika serikat yang bernama Merry Louis Pratt, luterariness tidak ditentukan oleh ciri khas pemakaian bahasa krama tetapi oleh ciri khas situasi pemakaian bahasa tersebut. makna sebuah karya sastra baru dapat kita pahami sebab kita tahu sebelumnya bahwa karya itu adalah karya sastra yang berdasarkan konvensi dan aturan tertentu.
Teori sastra Pratt, dalam bukunya sebuah teori sastra yang tergantung pada konteks yang dimaksudkan dengan konteks dalam buku semacam ini ialah keadaan sosial dalam artian yang luas. Beberapa hal yang penting, pertama pembaca telah menerima peranan sebagai audiens dalam situasi menanggapi pesan sastra misalnya hak jawab langsung tidak ada lagi, paling-paling ditangguhkan titik kedua konvensi. Kedua yang sangat penting yaitu si pembaca yang membaca karya sastra lebih tahu sebelumnya bahwa bacaan yang dihadapinya bukan sembarang tulisan sehingga masyarakat sudah tahu atas nilai-nilai yang terkandung d dalamnya, dan penulis berharap para pembaca membeli buku tersebut. Ketiga berat juga membicarakan tentang ciri khas karya sastra yang disebut tel ability itu dipakai bersama tetapi juga bertentangantentang sesuatu atau membujuk agar mempercayai.
Kedua teori ini sangat penting dalam perkembangan sejarah sastra karena dua-duanya dianggap penting dan sangat menjelaskan secara rinci sastra beserta ciri khasnya masing-masing.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H