Mohon tunggu...
Dyah Tribuwana
Dyah Tribuwana Mohon Tunggu... Penulis - Defense Analyst, Master of Defense, The Republic of Indonesia Defense University

Together, Understanding Indonesia Better

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Menilik India: Raksasa yang Bangkit

28 Agustus 2024   17:50 Diperbarui: 28 Agustus 2024   19:31 111
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

India, dengan populasi sekitar 1,42 miliar jiwa pada tahun 2023, merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia. Lebih dari 50% penduduknya berusia di bawah 25 tahun, memberikan negara ini keuntungan demografis yang sangat besar dalam bentuk angkatan kerja muda yang dinamis. 

Populasi muda yang besar ini menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi India dan merupakan salah satu faktor yang menjadikan India sebagai salah satu ekonomi besar yang tumbuh paling cepat di dunia, dengan PDB sekitar $3,5 triliun USD pada tahun 2023 menurut Bank Dunia. Sementara Indonesia juga mencatat prestasi dengan PDB sebesar $1,1 triliun USD, perjalanan India menawarkan pelajaran berharga yang bisa kita adaptasi untuk mempercepat pertumbuhan dan perkembangan kita.

Sukses India di sektor IT adalah salah satu contoh nyata bagaimana investasi strategis dalam teknologi dan penanaman budaya inovasi bisa membawa dampak besar. Kota-kota seperti Bangalore dan Hyderabad telah menjadi pusat teknologi global, rumah bagi banyak perusahaan multinasional. 

India juga sukses menciptakan istilah "Digital India" yang menggambarkan fokus negara ini pada pembangunan infrastruktur digital dan mendorong adopsi teknologi digital di berbagai sektor. Inspirasi ini bisa diadaptasi oleh Indonesia untuk membangun ekosistem teknologi yang kuat, mendukung startup lokal, dan menarik investasi asing.

Selain itu, tokoh-tokoh teknologi dari India yang mendunia menjadi bukti nyata kualitas sumber daya manusia mereka. Misalnya, Sundar Pichai (CEO Alphabet dan Google), Satya Nadella (CEO Microsoft), Shantanu Narayen (CEO Adobe), dan Arvind Krishna (CEO IBM) adalah beberapa contoh pemimpin asal India yang telah menorehkan prestasi besar di dunia teknologi. 

"Brain Drain" atau migrasi para intelektual ke luar negeri tidak menjadi hambatan bagi India, melainkan menjadi kekuatan global. Indonesia bisa belajar dari ini dengan meningkatkan kualitas pendidikan dan menciptakan iklim yang mendukung inovasi, agar kita juga bisa melahirkan talenta global.

Di sektor farmasi, India dikenal sebagai "Pharmacy of the World" karena produksi obat generik berkualitas tinggi dengan harga terjangkau yang diekspor ke seluruh dunia. Indonesia dapat meniru model ini, terutama dalam mengembangkan kemampuan farmasi untuk meningkatkan akses kesehatan dalam negeri dan membuka peluang ekspor yang lebih luas. Selain itu, "Make in India"---sebuah inisiatif untuk mempromosikan produksi dalam negeri---juga bisa menjadi inspirasi bagi Indonesia untuk memperkuat industri lokal kita.

Dalam upaya transisi menuju ekonomi yang lebih hijau, kepemimpinan India dalam energi terbarukan, khususnya tenaga surya, dapat menjadi contoh yang baik. Program "International Solar Alliance" yang diinisiasi oleh India menunjukkan komitmen mereka dalam memperluas penggunaan energi terbarukan. Indonesia dapat menjalin kolaborasi dengan India di sektor ini untuk berbagi pengetahuan dan menciptakan usaha patungan yang dapat mempercepat pencapaian target energi terbarukan kita.

Penting juga untuk melihat peran pendidikan dalam kesuksesan India. Persentase mahasiswa India di universitas-universitas ternama dunia seperti MIT, Oxford, Harvard, dan NTU terus meningkat. 

Mahasiswa asal India menempati sekitar 20% dari populasi internasional di MIT, 16% di Harvard, dan lebih dari 15% di NTU, menunjukkan keseriusan India dalam mendorong generasi mudanya untuk meraih pendidikan terbaik di dunia. Indonesia perlu memperkuat program beasiswa dan pendidikan tinggi agar mampu bersaing di panggung global.

Di kancah politik internasional, keturunan India memainkan peran penting. Contohnya, Rishi Sunak, Perdana Menteri Inggris saat ini, adalah salah satu tokoh keturunan India yang menonjol di panggung dunia. Ini menunjukkan betapa kuatnya dampak diaspora India dalam mempengaruhi kebijakan global. "Soft Power" India ini bisa menjadi inspirasi bagi Indonesia untuk mendorong diaspora kita agar lebih berperan di tingkat global.

Selayaknya India, Indonesia juga memiliki sejarah dan budaya yang kaya yang patut dirayakan.  Indonesia menghadapi tantangan yang sama seperti pembangunan yang tidak merata dan masalah tata kelola. Meskipun demikian, tantangan ini juga menghadirkan peluang bagi generasi muda untuk bangkit dan menjadi agen perubahan.

Indonesia memiliki potensi besar dengan populasi sekitar 273,8 juta jiwa pada tahun 2023. Sekitar 45% penduduk kita berusia di bawah 30 tahun, memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk menggerakkan perekonomian dengan memanfaatkan sumber daya manusia yang besar ini secara optimal. Selain itu, urbanisasi yang lebih tinggi di Indonesia dibandingkan dengan India, dengan sekitar 56% penduduk Indonesia tinggal di perkotaan, dapat menjadi faktor penting dalam perencanaan investasi dan pengembangan infrastruktur yang lebih efektif.

Dengan semua pelajaran dan data ini, Indonesia dapat belajar untuk meningkatkan daya saingnya di kancah global. "Digital Indonesia," "Pharmacy of Southeast Asia," atau "Green Energy Hub" adalah impian yang bisa diwujudkan jika kita mengikuti jejak sukses India, sambil tetap mempertahankan jati diri dan menyesuaikan strategi dengan kebutuhan nasional. Bagaimana jika Indonesia bisa memanfaatkan bonus demografisnya seperti India? 

Dengan potensi besar untuk menjadi "Digital Indonesia," "Pharmacy of Southeast Asia," atau bahkan "Green Energy Hub," kita memiliki peluang untuk bersinar di panggung global. Kuncinya? Belajar dari kesuksesan India sambil tetap mempertahankan identitas kita. Sudah saatnya generasi muda mulai berkolaborasi dan merancang masa depan ekonomi Indonesia yang lebih cerah dan berkelanjutan. 

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun