Tautan antara dua simpul dalam sebuah jaringan, suatu tahapan atau deret tahapan suatu proses, rute yang dilalui oleh sistem operasi untuk menuju ke suatu tempat, atau juga sebagai ruang di antara dua garis pada permukaan yang luas itulah, bernama jalur.Â
Dan, di kala mengalami kamacetan, jalan buntu bagi siapapun yang berkemauan meraih tujuan, dipilihlah jalur alternatif. Jalur lain, karena yang utama tak kuasa dilalui menurut kaidah dan tahap langkah pasti yang ideal, jalan pintas adalah pilihan. Daripada tidak sama sekali, aji-aji mumpung pun dimainkan dengan leluasa demi memenuhi nafsu selera yang tak biasa, luar biasa, dan ambisi!
Proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang, kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia lewat upaya pengajaran dan pelatihan, seterusnya dalam proses, cara dan perbuatan mendidik, adalah makna ideal tentang pendidikan. Apalagi, pendidikan sempat dinyatakan sebagai pusat kebudayaan dengan segala aspeknya, dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa menuju adil dan sejahtera dalam prinsip keseimbangan berbangsa dan bernegara.
Hingga sampai saat ini, apa yang telah dicapai dan diraih, hasil dari pendidikan nasional kita di negeri ini?
Milik siapakah sebenarnya pendidikan nasional kita ini?
Apakah hanya didominasi oleh mereka yang berada punya?
Begitukah?
Jikalau memang begini caranya, dengan tata kelola yang begini ini, sampai kapanpun, upaya mencerdaskan kehidupan bangsa hanyalah sebuah utopia belaka ..! Pencederaan atas falsafah bangsa sendiri 'tlah terjadi di negeri ini. Tak usah dipungkiri karena memang nyata kita telah mengkhianati ...
Tentang korupsi? Menjadi hal yang biasa dari hari ke hari sejak lahirnya negeri ini sampai saat ini. Belum berkesudahan jua kiranya. Entah mengapa? Korupsi tak terkendali, melumat moral dan etika menembus batas norma dan agama. Tak peduli!
Tersebut sebuah korupsi lantaran diketahui dan ketahuan. Bila tak diketahui dan tak ketahuan, adakah yang menyebutnya korupsi? Meski kita 'tlah memiliki rumah institusi sebagai kaki tangan negara dalam menegakkan integritas bangsa, memiliki rumah institusi sebagai alat kontrol terhadap jalannya pemerintahan bangsa dan negara, dan memiliki komisi-komisi berorientasi menghadang dan memberantas korupsi agar tak menggerogoti tegaknya bangsa dan negara yang dengan susah payah diperjuangkan oleh para pejuang kita, founding fathers kita dengan air mata dan darah, korbankan segenap harta, jiwa  dan raga ... Korupsi masih saja menari-nari di negeri ini! Justru mereka yang ditasbihkan sebagai penegak antikorupsi, terseret menjadi pelaku bagai pagar makan tanaman, korupsi pula! Berbagai jurus dan rumus tata kelola terhadap manajemen bangsa dan negara di negeri ini, di seluruh sendi kehidupannya, menjadi tak berdaya ketika berhadapan dengan tindak korupsi yang kian menggurita merajalela dimana-mana. Ampun sudah!
Korupsi sudah tak mau peduli lagi. Di ranah ideologi, politik, sosial, ekonomi, sosial-budaya, dan pertahanan-keamanan pun, masih punya taji dan bernyali. Apalagi di divisi pendikan,  mulai dari sekolah dasar, menengah dan lanjutan, kampus pendidikan tinggi pun terjamah oleh korupsi yang masih bertaji dan bermyali. Karena institusi pendidikan kita, utamanya pendidikan tinggi kita, tak lebih hanyalah sebagai potret lembaga Menara Gading yang di dalamnya dihuni oleh para insan yang konon katanya berlabel intelektual bin cerdik cendekia. Aktualisasi dan tindak nyata terhadap bangsa dan negeri ini, dimanakah bisa kita temukan realita faktanya dalam berkontribusi membangun dan menegakkan ingtegritas kepribadian bangsa?
'Jalur Mandiri Rawan Korupsi Perlu Dievaluasi?' begitu tajuknya kali ini, maka simpel saja untuk yang ini dan kali ini.
Adanya korupsi, karena diketahui dan karena ketahuanÂ
Bila tak diketahui dan tak ketahuan, korupsi takkan berbunyi
Jangan hanya karena 'tlah terjadi di ranah perguruan tinggi diketahui dan ketahuan
Sang profesor komandan perguruan tinggi negeri memanfaatkan jalur mandiri  dan mengorupsi
Tajuk ini diunggah dinasihatkan untuk dievaluasi
Apakah di lain perguruan tinggi negeri juga tak terjadi hal yang sama seperti yang dialami sang profesor ini?
Sehebat apakah sang komisioner membongkar dugaan korupsi di ranah perguruan tinggi negeri, berdaya guna dan berhasil guna menciptakan efek jera bagi pelaku korupsi di negeri ini?
Sekali lagi, itu hanya karena diketahui dan ketahuan saja!
Terhadap yang masih tak diketahui dan tak ketahuan?
Yakinlah kami bila itu menjadi aman-aman saja
Korupsi telah mentradisi dan membudaya, tak lagi sebagai hal yang risih
Melanggar batas norma, etika dan agama
Integritas kepribadian bangsa dari anak negeri boleh jadi 'tlah mati atau masih setengah mati
Melumpuhkan sendi-sendi kehidupan atas nasib bangsa dan negeri ini
Karena abai pada ajaran Tuhan Semesta Alam yang seimbang nan universal
Untuk dipahamai, dihayati, ditindaklanjuti dalam tindak dan aksi nyata sebenar-benarnya
Bukan sekedar berhiruk pikuk ria belaka dalam pidato, ceramah di majelis dan mimbarÂ
Agar menjadi membumi dan membumi, meluluhlantakkan korupsi yang masih menari-nari, bertaji dan bernyali di negeri ini
Pesan kami, sederhanan saja!
Mari kembali kepada Ajaran Tuhan Yang Maha Esa yang berprinsip pada keseimbangan yang universal di seluruh sendi kehidupan bangsa negeri ini, dimulai dari diri kita sendiri
Seperti apakah Ajaran Tuhan yang seimbang  dan universal itu?
Tuhan Semesta Alam adalah identik dengan kata seimbang dan universal di seluruh aspek kehidupan manusia ...
Semoga!
Sekian dan terima kasih, Salam Satu Bangsa Indonesia_Nusantara dalam Bhinneka Tunggal Ika, Salam Seimbang ...Â
*****
Kota Malang, Agustus di hari kedua puluh lima, Dua Ribu Dua Puluh Dua.
Â
  Â
 Â
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H