Mohon tunggu...
Sucahyo AdiSwasono@PTS_team
Sucahyo AdiSwasono@PTS_team Mohon Tunggu... Wiraswasta - Bakul Es :
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Pegiat Komunitas Penegak Tatanan Seimbang (PTS); Call Center: 0856 172 7474

Selanjutnya

Tutup

Ramadan

Ramadhan, Kumaknai dalam Puisi

5 April 2022   03:30 Diperbarui: 5 April 2022   12:22 807
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Tebar Hikmah Ramadan. Sumber ilustrasi: PAXELS

Keywords:

Puisi ini mencoba mengungkap kabut tebal dalam salah satu ritual ibadah di ranah agama Islam. Yakni, antara konsepsi dengan realita fakta hidup yang mewujud sebagai kenyataan sosial budaya dan peradaban. Sebab, alam pikiran ini masih terngiang bahwa "Agama itu sejalan dengan Akal, dan Tiada Agama yang Tidak Sejalan dengan Akal". Karenanya, bagi saya, menerjemahkan Firman Tuhan, Ayat Allah, sudah seharusnya selaras dengan Sains yang dapat disaksikan dari kenyataan Alam, bukan Mitos-Mitos dan Indoktrinasi tanpa pembuktian berdasarkan logika rasional sebagai basis dari Sains dan Teknologi. 

bagiku, tentang keseimbangan ciptaan Tuhan

sebab apapun ciptaan-Nya selalu dan selalu

mengarah pada keseimbangan, dan sempurna


puasa di saat Ramadhan pun

tak hanya sekedar ritual ibadah

yang dipertontonkan dan ditonjolkannya

menuju ke arah keseimbangan adalah seharusnya

bukan lagi meraih pahala bermakna imajiner

bukan lagi hanya demi menghapus dosa-dosa

di ranah penebusan dosa


pahala adalah nilai kebajikan universal

dan, dosa adalah keburukan berwujud perilaku

universal pula sudut memandangnya

keseimbangan di atas semuanya, tak lebih dan tak kurang, tegaknya nilai kebajikan robohnya keburukan

di sanalah keseimbangan tegak terjaga terpelihara


lantas, puasa ataupun shaum adakah selisih

dengan sebuah hibernasi pada setiap mahluk ciptaan-Nya, flora dan fauna di kenyataan pasti alam?

bilakah pula saatnya tiba dan aktualisasinya?

mungkinkah bertolak belakang, antara firman Tuhan, ayat Allah terhadap kenyataan alam yang terumus bernama sains?

Mungkinkah?


hibernasi adalah saat rehat, saat tidur pada flora, pada fauna, pun demikian pada diri kita manusia yang masih mau menghamba

kepada Tuhan Yang Maha Pencipta Segala

bilakah?

saat alam tak lagi produktif dengan musim dan cuacanya

lantaran alam sedang butuh rehat dan rehat, jangan dipacu, jangan dipicu dengan amarahnya

alam semesta pun ada tercipta berprinsipkan pada keseimbangan


begitulah seharusnya puasa di saat Ramadhan

jatuh tiba di musim paceklik di negeri ini

adalah selaras dengan kepastian alam

dan, seiring makna firman Tuhan, ayat Allah jua

tak perlu berselisih saat penetapan menyambut tiba


bilakah, bagaimanakah mengejawantahkannya?

merujuklah pada prinsip keseimbangan, bernilai universal dan menepis

suku, agama, ras dan antar golongan

sebagai realita sejarah yang tak mungkin dinafikan


semoga!


Kota Malang, April hari kelima, Dua ribu dua puluh dua.

"Kala menanti saat keseimbangan Alam Semesta mewujud dalam budaya dan peradaban pada Bangsa dan Negeri ini ..."

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ramadan Selengkapnya
Lihat Ramadan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun