Keywords:
Puisi ini mencoba mengungkap kabut tebal dalam salah satu ritual ibadah di ranah agama Islam. Yakni, antara konsepsi dengan realita fakta hidup yang mewujud sebagai kenyataan sosial budaya dan peradaban. Sebab, alam pikiran ini masih terngiang bahwa "Agama itu sejalan dengan Akal, dan Tiada Agama yang Tidak Sejalan dengan Akal". Karenanya, bagi saya, menerjemahkan Firman Tuhan, Ayat Allah, sudah seharusnya selaras dengan Sains yang dapat disaksikan dari kenyataan Alam, bukan Mitos-Mitos dan Indoktrinasi tanpa pembuktian berdasarkan logika rasional sebagai basis dari Sains dan Teknologi.Â
bagiku, tentang keseimbangan ciptaan Tuhan
sebab apapun ciptaan-Nya selalu dan selalu
mengarah pada keseimbangan, dan sempurna
puasa di saat Ramadhan pun
tak hanya sekedar ritual ibadah
yang dipertontonkan dan ditonjolkannya
menuju ke arah keseimbangan adalah seharusnya
bukan lagi meraih pahala bermakna imajiner
bukan lagi hanya demi menghapus dosa-dosa
di ranah penebusan dosa
pahala adalah nilai kebajikan universal
dan, dosa adalah keburukan berwujud perilaku
universal pula sudut memandangnya
keseimbangan di atas semuanya, tak lebih dan tak kurang, tegaknya nilai kebajikan robohnya keburukan
di sanalah keseimbangan tegak terjaga terpelihara
lantas, puasa ataupun shaum adakah selisih
dengan sebuah hibernasi pada setiap mahluk ciptaan-Nya, flora dan fauna di kenyataan pasti alam?
bilakah pula saatnya tiba dan aktualisasinya?
mungkinkah bertolak belakang, antara firman Tuhan, ayat Allah terhadap kenyataan alam yang terumus bernama sains?
Mungkinkah?
hibernasi adalah saat rehat, saat tidur pada flora, pada fauna, pun demikian pada diri kita manusia yang masih mau menghamba
kepada Tuhan Yang Maha Pencipta Segala
bilakah?
saat alam tak lagi produktif dengan musim dan cuacanya
lantaran alam sedang butuh rehat dan rehat, jangan dipacu, jangan dipicu dengan amarahnya
alam semesta pun ada tercipta berprinsipkan pada keseimbangan
begitulah seharusnya puasa di saat Ramadhan
jatuh tiba di musim paceklik di negeri ini
adalah selaras dengan kepastian alam
dan, seiring makna firman Tuhan, ayat Allah jua
tak perlu berselisih saat penetapan menyambut tiba
bilakah, bagaimanakah mengejawantahkannya?
merujuklah pada prinsip keseimbangan, bernilai universal dan menepis
suku, agama, ras dan antar golongan
sebagai realita sejarah yang tak mungkin dinafikan
semoga!
Kota Malang, April hari kelima, Dua ribu dua puluh dua.
"Kala menanti saat keseimbangan Alam Semesta mewujud dalam budaya dan peradaban pada Bangsa dan Negeri ini ..."
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI