“ tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu”
Karya Sapardi Djoko Damono
Puisi Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono diterbitkan Grasindo pada 1994. Kumpulan puisi ini memuat 102 puisi karya Sapardi yang ditulis tahun 1964 hingga 1994. Beberapa puisi dalam kumpulan ini merupakan penerbitan ulang dari puisi-puisi yang pernah terbit sebelumnya.
Judul kumpulan puisi ini diambil dari puisi yang ditulis Sapardi tahun 1989. Sapardi Djoko Damono adalah seorang pujangga berkebangsaan Indonesia terkemuka. Ia kerap dipanggil dengan singkatan namanya, SDD.
Ia dikenal melalui berbagai puisinya mengenai hal-hal sederhana namun penuh makna kehidupan, sehingga beberapa di antaranya sangat populer, baik di kalangan sastrawan maupun khalayak umum.
Baca Juga: Sapardi Abadi dalam Jejak Literasi
Puisi “Hujan Bulan Juni” memiliki makna perumpamaan tentang ketabahan atau kesabaran rasa kasih sayang kepada seseorang yang dicintainya dan diibaratkan melalui hujan yang datang pada bulan Juni. Hujan yang datang pada bulan Juni bermakna ketabahan, kesabaran, romantis karena mengetahui rasa rindu sang pohon yang menggebu tanpa diucapkan kepada hujan.
Bulan Juni adalah bulan kemarau sehingga tidak terjadi hujan, oleh karena itu makna ketabahan seseorang diartikan untuk tidak mengungkapkan rasa sayang dan rindunya pada seseorang yang dicintainya. Pada bait kedua memiliki arti bahwa sang penulis ingin menghilangkan keraguan pada orang yang dicintainya. Pada bait ketiga memiliki makna bahwa sang penulis menyimpan perasaan kepada orang yang dicintainya.
Baca Juga: Analisis Novel "Hujan Bulan Juni" Karya Sapardi Djoko Damono
Kelebihan dari puisi “Hujan Bulan Juni” yaitu puisinya bagus, bahasanya mudah dipahami karena menggunakan kalimat yang sederhana. Puisi tersebut juga banyak disukai pembaca karena mewakili perasaan para pembaca.
Kekurangan puisi ini yaitu bagi beberapa orang sulit memahami perumpaan yang ada pada puisi tersebut, seperti hujan yang diibaratkan perasaan sabar, tabah, cinta pada seseorang dan pohon diibaratakan orang yang dicintainya.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H