Baru - baru ini Solo heboh oleh ulah anak- anak yang merusak sebuah makam. Tepatnya di makam  Cemoro Kembar, Kelurahan Mojo, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo 16 Juni 2021. Sekitar 12 makam dirusak oleh mereka, anak-anak dari sebuah sekolah yang keberadaannya tidak resmi, belum mendapat ijin dari pemerintah setempat.
Pondasi Rapuh Pendidikan Dasar Melahirkan Anak - anak Bertindak Anarkis
Tampaknya pembelajaran diarahkan guru atau pengasuhnya untuk melakukan perbuatan intoleransi, membenci agama lain dan mengajarkan radikalisme sejak dari anak- anak. Pengajaran yang membuat anak - anak yang polos menjadi beringas menganggap bahwa keyakinan lain atau ajaran lain itu patut diperangi.
Bagaimana sekolah bisa mengajarkan kebencian, mengajarkan bibit radikalisme dan terorisme. Jika pendidikan sudah dari awalnya seperti yang dicontohkan dalam peristiwa di atas, bagaimana masa depan mereka. Wali Kota Solo Gibran Rakabuming  geram mendengar berita ini dan dengan tegas mengusut tuntas siapa pengasuhnya yang tega memberikan pengajaran sesat tersebut.Kalau perlu ditutup dan ditindak pengasuhnya.
Indonesia menghadapi masalah pendidikan serius. Banyak guru yang terindikasi terkena pengaruh oleh ajaran yang mengarah ke fanatisme sempit, radikal. Mereka mencekoki muridnya dengan pengajaran dari aliran garis keras sehingga pembelajaran terlalu mengarah pada pendidikan agama dan doktrin- doktrinnya yang tidak memberi keseimbangan pada kemajuan pola berpikir, keluasan dan kreatifitas menciptakan teknologi baru, kemampuan bersaing untuk menciptakan peluang pekerjaan.
Banyak guru  jarang memberikan pembekalan pembelajaran mandiri yang mendorong siswa mampu berpikir, bertindak dan sadar belajar tekun untuk dirinya sendiri dan masa depannya. Siswa lebih sering dijejali oleh ajaran fanatisme sehingga ketika besar mereka tidak bisa bergaul secara luas karena dibatasi oleh ajaran - ajaran yang mengajarkan kebencian pada mereka yang berbeda keyakinan berbeda iman. Bahkan condong untuk melakukan perbuatan yang mengarah pada aksi fanatisme sempit dan intoleran.
Melihat perkembangan media sosial sekarang ini, banyak komentator yang telah disusupi ajaran salah tentang interaksi  antar agama. Banyak komentator dan netizen yang selalu memberikan sudut pandang salah tentang sebuah hubungan yang penuh kedamaian antar agama. Hujat, caci maki, kata- kata kasar muncul saat diskusi atau saling memberi komentar. Ini memperlihatkan betapa pendidikan dasar sering salah meletakkan dasar dasar pendidikan pada siswa hingga melahirkan orang- orang yang cenderung berpikir sempit.Â
Politisasi agama menguat seiring dengan banyaknya pemuka agama yang beraktifitas sebagai politisi. Campuraduk kepentingan politik membuat banyak ceramah tercemar oleh provokasi politik. Persaingan antar partai melahirkan  orang - orang yang mabuk politik dan juga mabuk agama.
Penulis senang membaca tulisan dari mereka yang berwawasan luas seperti ELizeri Bandaro, Karto Bugel, dan beberapa deretan penulis yang secara terbuka mengakui kekurangan dan kelebihannya.
Kalau saja banyak masyarakat membaca tulisan dari tulisan Elizeri Bandaro (Babo), akan terbuka pengetahuannya tentang beragamnya kebudayaan, betapa kayanya Indonesia, betapa banyaknya kyai- kyai sederhana yang berada di pesantren biasa di pelosok daerah yang mengajarkan humanisme, kesederhanaan berpikir, mengajarkan bagaimana memahami agama, tetap dalam koridor adat ketimuran yang diwariskan bangsa ini untuk menyadari bahwa Indonesia selalu menghargai relasi dengan alam semesta, menghargai sesama manusia, bersikap damai dan tetap bekerja sama meskipun berbeda keyakinan.
Banyak orang- orang yang sebetulnya masih peduli oleh persatuan dan kesatuan, mereka terus membangun kerukunan dengan caranya sendiri, tidak mabuk oleh ajaran - ajaran murni dari luar, menyaring dan menyesuaikan dengan budaya setempat. Akar tradisi bangsa ini bukan berarti menyembah berhala percaya pada klenik. Ada nilai - nilai filosofi yang membuat orang- orang zaman dahulu mengajarkan agama dengan cara- cara damai.
Apa yang diajarkan para wali, terutama Sunan Kalijaga adalah contoh betapa agama selalu mengajarkan keindahan dalam wujud seni yang adiluhung. Pengajaran agama dimulai dari pengenalan karakter manusianya. Masing- masing pribadi mempunyai watak dan pola pikir yang berbeda. Ada hitam ada putih, atau watak jahat dan baik. Dengan memberi wejangan lewat produk budaya seperti wayang, ketoprak, dan pertunjukan kesenian lain, orang - orang diarahkan mencintai agama dan manusia dalam damai.
Sekarang di era modern ketika YouTube, media sosial merebak kadang muncul penafsiran kasar dari pengajaran agama. Bahasa provokatif, kasar tampak mewarnai narasi dan gambar- gambar yang menyertainya.
Orientasi manusia pun lebih mengarah pada hasrat duniawi. Sering sekali muncul pergesekan akibat munculnya narasi dan visualisasi perbedaan yang dibesar- besarkan dengan memotong fakta yang sebenarnya. Semuanya menyerbu otak manusia yang keranjingan dengan media sosial, hampir seluruh waktu dalam kehidupannya menggenggam smartphone membuka gawai dan menyerap serbuan ajaran yang kadang menyesatkan pikiran.
Peranan  Besar  Guru dalam  Memperkuat Pondasi Karakter dan Sikap Anak Anak di Era TeknologiÂ
Bagaimana bisa menghadapi toleransi bila setiap saat dijejali oleh narasi- narasi dari sumber yang tidak jelas, dan visualisasinya amat menarik dan membuat kecanduan. Anak- anakpun tidak lagi asyik dengan permainan tradisional yang melibatkan motorik dan kerjasama tim, Mereka cenderung berpikir individual dengan mencintai game, dan tenggelam dalam pengaruh media sosial yang membatasi gerak motoriknya.
Guru harus bergerak cepat memberikan pondasi yang kuat untuk memfilter pengaruh besar media sosial tersebut bagaimana caranya. Ya dengan memberi pengertian yang bijak bagaimana menggunakan teknologi canggih tersebut. Terus melakukan penetrasi pengetahuan bahwa tidak semua yang dilihat di media sosial itu bermanfaat. Harus dipilah-pilah mana yang baik dan yang buruk dari aspek pendidikan karakter.
Dengan adanya pandemi covid 19 saat ini pendidikan kecenderungan penggunaan gawai/smartphone sangat besar, pembelajaran daring dominan. Guru dan jajaran lembaga pendidikan harus pandai  memanfaatkan momentum. Selalu mengulang dan menekankan tentang baik buruknya teknologi. Tayangan yang menyerbu anak didik harus dinetralisir hingga tidak menimbulkan gegar budaya, gegar pengetahuan. Sehingga menghindari sekecil mungkin apa yang dituai oleh anak - anak yang merusak makam di Solo tersebut. Sebagai guru sekaligus penulis saya juga merasa bertanggungjawan atas masa depan anak negeri ini. Mari sama -- sama memberi teladan dan masukan positif bagi generasi penerus negeri ini. Salam.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H