Mohon tunggu...
Ign Joko Dwiatmoko
Ign Joko Dwiatmoko Mohon Tunggu... Guru - Yakini Saja Apa Kata Hatimu

Jagad kata

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Untuk Populer Kenapa Harus Berbohong?

13 Maret 2020   19:36 Diperbarui: 14 Maret 2020   01:11 640
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Jika pengin terkenal, kamu harus berubah total. Dan kalau perlu pindah keyakinan. Dan buka saja apa yang menjadi keyakinan lamamu. Barangkali kamu sudah punya bekal pintar ngomong, pintar meyakinkan orang bahwa ceritamu itu layak didengar dan itu sebuah kesaksian bahwa keyakinan barumu memang lebih menjanjikan, lebih memberi kesempatan untuk cepat kaya dan cepat populer. 

Dengan pengetahuanmu yang tidak seberapa kau berani bicara, berani memberi pencerahan bahwa ternyata kamu menemukan kelemahan- kelemahan keyakinan lamamu tapi hanya dengan emosional.

Lalu mendongenglah kamu bahwa dulu itu bla bla bla, dan eloknya di jaman sekarang berita hoaks saja lebih dipercaya daripada berita- berita yang datanya lebih valid, semuanya hanya karena paham radikal yang sudah meracuni pikiran dan jiwa.

Aneh benar jika agama  menjadi tempat maksiat untuk memuaskan sifat- sifat dasar manusia yang penuh balutan dosa, penuh dengan serentetan tipu muslihat dan kebohongan- kebohongan yang tidak diakui. 

Fenomena saat ini banyak pemuka agama dadakan rasa selebritis, yang pintar memainkan kata-kata dan mempunyai follower banyak, pandai memainkan isu dan hebatnya pengikutnya setia mendengarkan ceramahnya yang cenderung kontroversial.

Saya bingung saja, kenapa saat ini fenomena mabuk agama membuat manusia terjebak dalam pusaran kebencian. Demi meraih popularitas banyak pemuka agama harus membuat identitas palsu, terutama tentang latar belakang pendidikan. 

Mengaku punya gelar akademik bergengsi, pernah menjadi misionaris, pernah kuliah di Vatikan dengan menjadi lulusan terbaik. Padahal di Vatikan tidak ada universitas, tidak ada tempat pendidikan, yang ada adalah tempat pemimpin tertinggi agama Katolik.

Gambar:klikmu.com
Gambar:klikmu.com
Pertanyaannya untuk menyebarkan warta kebaikan kenapa harus berbohong? Kenapa juga harus membuat cerita - cerita rekaan agar mereka semakin terbakar emosinya, semakin berkobar kebencian kepada agama lain. Bukankah agama tidak pernah mengajarkan manusia berbohong. 

Bohong itu salah satu dosa. Tetapi diperlukan untuk meyakinkan diri agar diterima pengikutnya. Dan demi meraih popularitas, atas nama bela agama, ada genderang perang yang sengaja dicanangkan agar pengikutnya semakin bertambah kebencian pada keyakinan lain hingga akhirnya muncul antipati.

Maaf saya menggurui ya, maaf, bukan karena guru saya menulis begini, tetapi menyayangkan dengan pendidikan saja manusia - manusia sudah terkena endemik radikal, apalagi tanpa bekal pendidikan cukup akan semakin banyak manusia dibuat pintar untuk merekayasa bom, merangkai pengetahuan agama yang masih cethek, mengubah diri menjadi pengajar agama. Yang sudah berpuluh- puluh tahun belajar agama saja hati- hati dalam menularsebarkan agama. 

Mereka masih belum apa- apa, masih perlu belajar untuk belajar bijak. Semakin tinggi ilmu, semakin merasa penuh kekurangan. Dan Bila ada manusia yang baru saja mengenal agama, belajar sesuatu yang baru lalu seperti pedagang dan motivator yang bermodal beberapa tayangan power point berani kencang- kencang mengibarkan diri menjadi penceramah, sungguh patut ditepuktangani. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun