Pemisahan Parkir Pria dan Wanita
Yang unik lagi masalah parkir. Di Depok sudah ada pengaturan parkir pria dipisah dengan parkir wanita. Entah bagaimana pemikirannya yang jelas mereka ingin memisahkan pria dan wanita agar tidak saling bersenggolan, tidak saling berinteraksi sebab itu akan membuat munculnya pelecehan, menghindarkan saling jatuh cinta atau hubungan yang dilarang agama ( betapa hebatnya fantasi para pemegang kekuasaan).Â
Rupanya Pemerintah Depok benar- benar ingin pria wanita terpisahkan seperti halnya saat sembahyang di masjid yang bukan muhrim tidak boleh bersenggolan sehingga ibadah atau doanya bisa batal. Mungkin mereka menganggap bermula dari parkiran dilanjutkan dengan kontak lewat HP dan terjadi permufakatan antara pria dan wanita dan muncul perselingkuhan.Â
Cuma penulis mikir bagaimana dengan tukang parkirnya. Apakah tukang parkir yang mengatur di sana juga disesuaikan yang parkir wanita dilayani oleh wanita dan di parkiran pria dilayani oleh petugas pria.Â
Seandainya ada motor yang kebetulan mogok tidak bisa diselah dan kemudian dengan kerepotan pengendara motor wanita ingin minta tolong pada orang yang tenaganya lebih kuat dan tentu saja pria bagaimana?
Aduh perkara gender kesetaraan pria dan wanita ternyata merepotkan. Jika pemangku kekuasaan sudah berpikir jauh mengawang- awang membuat yang biasa terasa amat lucu, darimana ide membedakan parkir pria dan wanita. Kalau menurut penulis itu yang perlu diperbaiki itu pola pikirnya, mindsetnya. Bukan membeda- bedakan parkiran menurut jenis kelaminnya.Â
Memangnya motor itu mempunyai jenis kelamin, harus dipisah supaya tidak terjadi masalah. Jika ada kasus pelecehan itu tentu hanya hanyalah peristiwa insidental.Kasuistis.
Saya membayangkan percakapan antara dua motor yang sama tetapi satu pemiliknya laki- laki satunya pemiliknya wanita.
"Bro, kenapa kita harus dipisah khan jenis dan merk kita sama!"
"Ssst, ini peraturan harus ditaati"
"Lha apa bedanya kita"