Dengan kritik keras dan cenderung keras mendorong pemerintah bereaksi dan menutup SIUPP media massa. Selama puluhan tahun Kompas selalu lolos dari pembredelan, itu karena menerapkan model jurnalisme santun.Â
Tetap mengkritik, tapi dengan bahasa halus, berupa sindiran halus. Dalam memahami subjudul di atas yang penting pesan tetap sampai kepada pembacanya.
Masih banyak ujaran Pak Jakob yang bisa dipelajari dan direnungkan. Paling tidak kita tahu Kompas saat ini tetap menjadi media rujukan baik bagi pemerintah maupun stakeholder-nya serta para ilmuwan dan yang ingin menerapkan filosofi pengetahuan yang sesuai dengan karakter bangsa Indonesia yang terkenal ramah dan sopan santun.
Tapi melihat fenomena saat ini, penulis menjadi geleng-geleng kepala. Ujaran-ujaran yang beredar dalam masyarakat terlihat sangat kasar, terkesan provokatif, mengandung SARA, dan cenderung memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.Â
Mari simak kembali ujaran-ujaran dari bapak bangsa dulu, salah satunya dari Pak Jakob Oetama, agar kita bisa kembali menjadi bangsa bermartabat. Paling tidak masyarakat lebih cerdas dalam menanggapi isu-isu yang beredar yang belum tentu benar.
Mari cerdas memilah dan memilih berita.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H