Mohon tunggu...
Dwi Agustina
Dwi Agustina Mohon Tunggu... Guru - Pembelajar Sepanjang Hayat

Alumni Pendidikan Masyarakat - Universitas Pendidikan Indonesia, Domilisi Kota Bandung.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Malam Terkutuk: Misteri Rumah Angker di Desa Warna (Part I)

12 Februari 2024   10:00 Diperbarui: 12 Februari 2024   10:55 766
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Desa Warna merupakan sebuah pemukiman yang berbatasan langsung dengan hutan lebat. Di antara pepohonan dan kesunyian malam, terdapat sebuah bangunan kuno yang telah terbengkalai selama bertahun-tahun. Rumor yang beredar di desa menyebutnya sebagai tempat angker yang dihuni oleh roh jahat. Namun, bagi Dika, seorang remaja yang tegas, semua itu hanya cerita menakutkan yang tidak layak dipercayai.

Meskipun desas-desus itu tersebar di antara penduduk Desa Warna, Dika tetap tidak terpengaruh. Dia menantang keberadaan setan dan hantu-hantu itu dengan keyakinan bahwa tidak ada yang lebih kuat dari keberaniannya. Keberaniannya untuk menantang kegelapan itulah yang membuatnya memutuskan untuk menjelajahi rumah angker tersebut, bersama teman-temannya, Rini dan Adi.

Ketika malam tiba, mereka memasuki rumah tua yang dikelilingi oleh aura misterius. Rumah itu memang terlihat sangat tua karena struktur kayu lapuknya yang terlihat seperti hantu yang terselubung dalam kegelapan hutan. Sebagian atapnya telah roboh, dan jendela-jendelanya yang pecah berserakan di sekitar rumah, menciptakan bayangan-bayangan menyeramkan di dalamnya.

Suasana di sekitar rumah itu seakan bergetar dengan energi yang ganjil dan tidak bersahabat. Angin malam berdesir di antara dahan-dahan pohon, menghasilkan suara siulan yang menyeramkan yang membuat bulu kuduk merinding.  

Setiap langkah mereka di tanah berdaun kering menusuk telinga mereka seperti desisan seribu roh jahat yang berseliweran di sekitar mereka. Bau aroma jamur basah dan tanah lapuk menyelinap ke hidung mereka, menciptakan kesan yang semakin nyata dari kengerian yang menanti di dalam rumah tua itu. Namun, ketiganya tetap kukuh dengan tekad mereka untuk menemukan kebenaran di balik cerita-cerita mistis yang tersebar tentang rumah tua di dalam hutan desa warna ini.

Dika: "Kamu yakin mau masuk ke dalam, Rini? Aku dengar cerita tentang rumah ini, tapi aku tidak percaya itu semua hanyalah dongeng."

Rini: "Tentu saja, Dika. Aku penasaran. Bukankah lebih seru jika kita melihat sendiri apa yang ada di dalamnya?"

Adi: "Kalian berdua tidak akan menemukan apa pun di sana. Ini semua hanya omong kosong."

Dika: "Baiklah, kalau begitu mari kita masuk dan buktikan sendiri. Siapa yang berani lebih lama di dalam, Adi?"

Adi: "Tentu saja aku. Aku tidak takut dengan hal-hal yang tidak nyata."

[Rini menggelengkan kepala sambil tersenyum.]

Rini: "Kita lihat saja nanti siapa yang paling lama bertahan di dalam, Adi."

[Suasana gelap mulai menyelimuti mereka saat mereka memasuki rumah itu, senter mereka menjadi satu-satunya sumber cahaya di dalam kegelapan.]


Saat mereka memasuki rumah itu, udara terasa sangat dingin dan suasana menjadi semakin gelap. Dika merasa ada sesuatu yang tidak beres, tetapi dia tetap memaksakan diri untuk melanjutkan eksplorasi. Mereka mulai mendengar suara-suara aneh, langkah-langkah kaki tanpa sosok, dan bayangan-bayangan yang bergerak di sudut-sudut ruangan.

Brukkk.... Brukkk.... Brukkkk !!!

Rini : "Suara siapa itu Dik?, kita kan hanya  bertiga disini." 

Dika : (Ucapnya dengan suara lantang) "Sudahlah hiraukan saja, kita lanjutkan eksplorasi malam ini." 

Adi : "Tapi aku takut Dik, dari tadi aku melihat bayangan bergerak di sudut ruangan sana." ucap Adi sambil ketakutan

Dika : (sambil tertawa kecil ) "Ah. itu hanya halusinasi kamu saja Adi".

"Ayo Rini dan Adi kita kan akan mengeksplore tiap ruangan disini, aku ingin membuktikan bahwa disini tidak ada apa." lanjut Dika


Tiba-tiba, Adi menghilang entah ke mana. Dika dan Rini panik, berusaha mencarinya, tetapi tidak berhasil menemukannya. Mereka merasa semakin terjebak di dalam rumah itu, seperti terperangkap dalam labirin gelap yang mencekam.

Rini: " Adiiiii, dimana dia Dika?  Dari tadi Aku merasa seperti ada yang mengintai kita dari sudut-sudut gelap ini."

Dika: "Jangan katakan seperti itu, Rini. Kita harus tetap fokus  mencari Adi."

[Rini dan Dika mencoba terus memanggil  nama Adi, tetapi tidak ada jawaban.]

Rini: "Kita harus bergerak cepat, Dika. Jika tidak, kita mungkin akan mengalami nasib yang sama dengan Adi."

Dika: "Aku setuju. Mari kita cari adi  secepat mungkin."

- BERSAMBUNG DI PART 2 -

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun