Malam hari aku diberi tugas oleh ibu untuk menginventarisir barang apa saja yang stocknya tinggal sedikit. Lalu aku disuruh pergi ke pasar untuk “Kulakan” (membeli barang untuk dijual kembali). Sampai di rumah akupun masih harus menghitung berapa harga pokok dan harga jual masing-masing barang. Mengelola uang hasil jualan di toko juga aku lakukan. Disini ibu telah mengajarkan aku tentang kejujuran dan tanggungjawab.
Ibuku juga mengajarkan aku untuk sering melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah seperti menyapu, mencuci piring dan pakaian, menyeterika, memasak, mengepel dan lain sebagainya. Sebagai anak kedua, aku sudah terbiasa membantu ibu dalam mengurus adik-adik dan membantu merawat adik bayi ketika ibu melahirkan. Maklumlah, setiap 2 tahun sekali ibuku melahirkan anaknya. Dan alhamdulillah kesebelas anak ibu lahir dengan sehat dan normal.
Setiap bulan Ramadhan, kami selalu melaksanakan sholat tarawih dan tadarus di masjid, serta diajarkan untuk saling membantu dalam menyiapkan makanan di meja makan sebelum berbuka dan sahur. Ketika ibu dan bapak pergi ke luar kota dalam beberapa hari, aku yang selalu diberi kepercayaan untuk mengelola pekerjaan rumah tangga dan mengelola keuangan padahal aku adalah anak kedua, sementara ada kakak perempuanku.
Aku belajar bagaimana mengurus rumah tangga walaupun secara sederhana, sementara aku harus mengurus adik-adik juga. Lagi-lagi ibu selalu mengajarkanku tentang kejujuran, kemandirian dan tanggung jawab.
Dengan berbekal ilmu yang telah aku dapat dari ibuku, kini aku telah menjalani hidup mengarungi bahtera rumah tangga selama 20 tahun bersama suami dan kelima anakku. Hidup sederhana, dengan suami yang bijaksana dan anak-anak yang sehat, normal dan insya Allah sholeh sholehah. Aamiin. Hanya satu yang kuinginkan, dan menjadi harapan orang tuaku, yaitu membina keluarga yang Sakinah, Mawaddah wa Rahmah,
Meskipun ibuku bukan seorang guru, namun ibuku adalah sekolah pertamaku. Ibuku yang telah mengajarkanku tentang akidah dan keyakinan, mengajarkan tentang kosep keTuhanan, kejujuran, kedisiplinan, kemandirian dan tanggung jawab. Semua itu adalah ilmu tentang bekal bagaimana aku bisa bertahan hidup dan bisa tetap kuat dalam mengarungi bahtera rumah tangga yang penuh suka dan duka.
Ibuku telah mengajarkanku bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara. Dan selalu mengingatkanku bahwa tujuan akhir kita adalah akherat. Jadi apa yang diajarkan oleh ibuku selalu berorientasi pada urusan akherat. Ibu selalu mengajarkanku untuk menjadi orang yang istiqomah, selalu lurus di jalan-Nya, tidak mudah terbawa arus dengan urusan dunia, tidak mudah menghalalkan segala cara untuk mendapatkan segala keinginan.
Aku yang sekarang, adalah hasil didikan ibuku di waktu kecil. Bersyukur dan bangga bisa menjadi anak yang terlahir dari rahim ibuku. Hanya do’a yang bisa kupanjatkan, semoga ibu selalu diberi kesehatan dan keselamatan di dunia maupun di akherat. Akupun berharap bisa meneladani ibuku untuk menjadi suri tauladan yang baik bagi anak-anakku.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H