"Sorry, Fi." Kata Fedly lirih.
"Jangan cuma ke aku dong, minta maafnya. Ke semua wanita yang pernah kamu kirimin sms-sms rayuan plus janji-janji muluk kamu." Kata Fifi dijawab sorak setuju dari barisan wanita.
Tanpa komando, Fedly turun dari lantai ke depan kelas. " aku minta maaf ya, teman-teman. Terutama Suci, Lia juga. Feni maaf ya, Fen. Siapa lagi ya. Hmm.."
"uuuuu..." bola-bola kertas dilemparkan ke arah Fedly.
"Sudah, sudah." Rasyid menenangkan kelas. "Oke, fren. Janganlah diulangi lagi kerjaanmu ini ya. Jangan bikin malu angkatanlah, belum lagi nanti kalau jurus rayuanmu kau lemparkan ke adik-adik tingkat kita." Rasyid menepuk bahu Fedly.
"Janji kamu bakalan cium cadaver kalau sampe Fifi nolak kamu masih berlaku, ya. Tapi tenang, sms kamu gak diforward ke dr. Azhar kok. Kita masih kasian kok ke kamu." Teman-teman sekelas tertawa kompak.
"Mortui vivos doscent. Ingat kan? Itu kata-kata pertama yang kita dapatkan saat ospek dulu." Kata Rasyid yang langsung membuat kelas terdiam hening
"Yang hidup belajar dari yang sudah mendahului kita" Jawab Fedly kemudian sambil terus menunduk.
Yah, tidak pantas rasanya menjadikan "dosen" jadi bahan taruhan. Sedangkan dengan dosen sebenarnya saja kita sangat hormat. Harusnya penghormatan yang sama kita berikan kepada cadaver.
Hari itu dosen patologi anatomi batal masuk, kodik akhirnya mendapat konfirmasi kalau beliau mengalami insiden pecah ban di jalan menuju kampus.
***