Mohon tunggu...
Pandapotan Silalahi
Pandapotan Silalahi Mohon Tunggu... Editor - Peminat masalah-masalah sosial, politik dan perkotaan. Anak dari Maringan Silalahi (alm) mantan koresponden Harian Ekonomi NERACA di Pematangsiantar-Simalungun (Sumut).

melihat situasi dan menuliskan situasi itu

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Artikel Utama

Enaknya Tinggal di Kompleks Perumahan, Kalau...

19 April 2018   11:06 Diperbarui: 19 April 2018   15:53 3441
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Fasilitas olahraga di perumahan. (foto dok pribadi)

Diantara kita, mungkin ada yang memimpikan tinggal di sebuah perumahan, jauh dari hiruk pikuk dan sepertinya lebih aman. Karena sebagaimana kita ketahui, laiknya perumahan standar, selalu ada pengaman (sekuriti)nya. Benarkah begitu?

Tapi faktanya, tidak semua perumahan yang ada, memenuhi standar sebagaimana yang diimpikan para konsumennya. Hidup di kompleks perumahan, yang ditumbuhi pepohonan asri, bersih, nyaman, punya sekuriti yang setiap jam pada malam hari selalu memukul lonceng.

Jam 1 dini hari, lonceng dipukul satu kali. Jam 2 dini hari, lonceng dipukul dua kali. Lonceng dipukul 3 kali, pertanda saat itu sudah pukul 3 dini hari.

Sekadar diketahui, tinggal di kawasan perumahan punya plus minus. Tidak semua hal-hal baik bisa kita dapatkan di kompleks perumahan. Kita yang suka bersosialisasi dengan masyarakat atau tetangga, tidak cocok tinggal di perumahan.

Faktanya, di kompleks perumahaan yang ada saat ini, sesama tetangga saja bisa tidak saling kenal. Terkadang kita mendengar tangisan anak tetangga, ingin melihatnya saja sungkan. Karena selama ini tidak ada sosialisasi dan komunikasi bertetangga.

Situasi sulit perekonomian atau tren, sesunggunya penulis juga kurang paham. Kita berangkat kerja pukul 08.00 WIB, rumah tetangga masih tertutup rapat. Mungkin penghuninya masih tidur. Ketika kita tidur sekitar pukul 20.00 WIB (misalnya), tetangga baru masuk ke rumahnya. Begitulah seterusnya.

gazebo di kompleks perumahan (foto dok pribadi)
gazebo di kompleks perumahan (foto dok pribadi)
Sejujurnya, warga yang berdomisili di kompleks perumahan tidak seluruhnya saling mengenal. Bisa jadi, tetangganya sendiri pun tidak saling kenal.

Memang benar, tinggal di perumahan nyaman, jauh dari hiruk pikuk. Namun terkadang, meski tidak saling mengenal, sesama penghuni perumahan pun tidak saling mengerti.

Layaknya sebuah kompleks perumahan, sejatinya dilarang beternak atau memelihara unggas, ayam, anjing, monyet, dan binatang lainnya. Namun faktanya, masih banyak warga yang berdomisili di kompleks perumahan tidak memahami hal ini.

Binatang peliharaan seperti ayam (entah sengaja atau tidak) dilepas liarkan. Sehingga ayam tetangga tadi, menggores mobil tetangganya sendiri. Atau masuk ke pekarangan tetangga dan membuang kotoran di sana. Hal-hal seperti ini sering terjadi, sadar atau tidak, sejatinya sesama penghuni kompleks perumahan punya etika.

Sialnya, etika-etika seperti ini banyak yang terlupakan penghuni. Bukankah kita ingin tinggal lebih nyaman? Kalau ingin memelihara binatang peliharaan mengapa harus di perumahan? Tinggal saja di perkampungan!

Kompleks Perumahan Justru Paling Rawan

Hidup di kompleks perumahan memang ada enaknya. Tapi banyak pula sisi tidak enaknya. Sebuah perumahan standar selalu menyiapkan sarana (fasilitas olahraga). Namun faktor keamanan justru  hal terpenting yang diimpikan orang, sebelum memilih tinggal di kompleks perumahan.

Ironisnya, warga perumahan sering merasa kehilangan. Kehilangan sepeda motor yang parkir di depan rumah, rumah dimasuki maling, kehilangan sepatu atau sandal, dan beragam persoalan masih sering kita temukan.

Ada baiknya, sekuriti perumahan menerapkan standar keamanan. Misalnya, ada tamu yang masuk perumahan, seharusnya meninggalkan KTP atau identitasnya di pos sekuriti. Selain itu, petugas sekuriti mengantar tamu tersebut hingga ke rumah yang dituju.

Karena bukan tidak mungkin perampok atau penjahat mengincar isi rumah di kompleks itu. Apalagi sudah banyak peristiwa, penghuni kompleks perumahan dibantai penjahat. Selain menghabisi nyawa pemiliknya, isi rumah itu pun dikuras. Padahal perumahan punya sekuriti.

Disarankan, kita yang mendambakan tinggal di perumahan harus mengetahui dulu plus minusnya sebelum menetapkan pilihan menetap di sebuah kompleks. Kita harus siap untuk tidak mengenali tetangga kita. Siap juga untuk tidak selalu percaya kepada sekuriti, karena bukan tak mungkin oknum sekuriti itulah biang kerok yang menyebabkan kehilangan yang terjadi di kompleks perumahan.

Kalau kondisinya begini, mending kita tinggal di kawasan perkampungan. Selain saling mengenal dengan tetangga, silaturahmi dan sosialisasi antar masyarakat di permukiman warga kampung pun senantiasa masih terjalin erat. Begitukan? (***)

Medan, 19 April 2018

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun