Hasil imbang ini pun menjadi bahan sinis dari luar lapangan, terlebih khusus untuk sejumlah uang yang telah digelontorkan Barca dalam membeli pemain baru.Â
Kesangsian bisa saja tercipta. Ternyata, persoalan di Barca tak cukup hanya mendatangkan pemain baru.
Di lain pihak, para pemain baru masih membutuhkan waktu untuk membangun organisasi permainan tim yang kompak. Laga-laga uji coba tak cukup untuk membuat para pemain bisa saling mengenal antara satu sama lain. Â
Ya, beberapa di antara pemain ini masih belum familiar dengan DNA Barca yang lebih cenderung bermain dari kaki ke kaki atau Tika-taka.Â
Kelihatannya Xavi mau mempertahankan pola yang sama dengan tetap memainkan Sergio Busquets di sentral permainan tim. Lalu, Busquests diapiti oleh duo pemain muda Gavi dan Pedri yang juga sudah melekat dengan DNA Barca.Â
Untuk kontral bola dan ritme, peran Busquets lini tengah tak bisa diragukan. Akan tetapi, alur aliran bola tampak lambat dan tak cocok untuk para gelandang O. Dembele dan Rapinha yang sangat memang cocok bermain cepat.
Belum lagi, R. Lewandowski yang menghabiskan 8 musim di Bayern Munchen, dan sudah familiar dengan gaya permainan gegenpressing, di mana pergerakan Lewandowski selalu ditopang oleh pemain yang bergerak cepat seperti J. Muller, K. Coman, L. Ssane dan Gnabry yang bergerak cepat untuk menyupai bola ke Lewandowski.Â
Namun, di Barca Lewandowski harus beradaptasi dengan pola yang berbeda. Penguasaan bola di lini tengah yang dikoordinir oleh  Busquets masih ditekankan oleh Xavi.Â
Padahal, Busquets terlihat lambat dalam mengatur permainan di lini tengah, termasuk dalam urusan mengatur aliran bola. Â
Kartu merah yang diberikan kepada Busquets bisa menjadi berkah untuk Barca dan membuka mata Xavi untuk laga berikutnya.Â
Untuk itu, Xavi perlu memberikan peran pada Frenkie de Jong atau Frank Kessie untuk mengontrol lini tengah.Â