Mohon tunggu...
Gobin Dd
Gobin Dd Mohon Tunggu... Buruh - Orang Biasa

Menulis adalah kesempatan untuk membagi pengalaman agar pengalaman itu tetap hidup.

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Christophe Galtier, Cita Rasa Lokal tetapi Tak Teruji di Eropa

7 Juli 2022   07:15 Diperbarui: 7 Juli 2022   07:18 174
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Christophe Galtier ditetapkan sebagai pelatih Paris Saint Germain (PSG). Foto: Bertrand Guay via Kompas.com

Sejak Qatar sport Investment membeli klub Liga Perancis, Paris Saint-Germain (PSG) di tahun 2011, perubahan telah terjadi di pelbagai sektor klub. Salah satu hal yang sangat menyata adalah eksodus para pemain bintang.

Sejauh ini, tak masalah untuk PSG menggaji pemain bintang seperti Kylian Mbappe, Lionel Messi, dan Neymar Jr. Ketiga pemain ini, selain berharga mahal, juga gaji yang diterimanya terbilang yang paling besar di antara para pemain lain di Eropa. 

Kendati demikian, performa tim berjalan terbalik dengan prestasi  di Eropa. PSG boleh saja digdaya di ranah domestik, di mana sudah berhasil meraih 8 gelar sejak diambil alih oleh perusahan asal Timur Tengah.

Namun, di arena Liga Champions, PSG terlihat kehilangan taji. Prestasi terbaik PSG ketika tembus partai final di tahun 2020, yang mana saat itu PSG kalah tipis 0-1 dari Bayern Munchen. 

Sedihnya, musim lalu PSG yang sudah diperkuat oleh Lionel Messi tunduk di babak 16 besar di tangan Real Madrid. Sebenarnya PSG mampu mengatasi Madrid, namun tampaknya PSG kalah mental dengan Madrid di leg ke-2.

Kegagalan ini pun menggoncangkan kursi pelatih Mauricio Pochettino. Walau manajemen klub kerap mengelak untuk tidak memecat Pochettino, namun desas desus di luar lapangan menguat. 

Rumor itu menjadi kenyataan. Pochettino dipecat sebagai pelatih PSG. Hanya semusim lebih mantan pelatih Tottenham Hotspur ini duduk di kursi pelatih PSG.  

Tampaknya, Pochettino gagal memenuhi ekspetasi di Parc des Princes sekaligus dinilai bukan orang yang tepat untuk mengatur tim yang didominasi oleh para pemain bintang. 

Agak mengejutkan ketika PSG memilih pelatih lokal untuk menggantikan Pochettino. Adalah Christophe Galtier, pelatih yang pernah membawa Lille menjadi juara Liga Perancis di tahun 2021. 

Padahal, nama Zinedine Zidane sempat menguat sebagai sosok pelatih yang akan mendarat ke Paris. Juga, nama Jose Mourinho ikut nimbrung dalam desas-desus apabila Pochetino dipecat.

PSG malah memilih Galtier. Dengan ini, Galtier menjadi pelatih pertama asal Perancis di PSG sejak masa Laurent Blanc. 

Faktanya, PSG cenderung memilih pelatih asing yang sudah memiliki reputasi kuat di Eropa. Target PSG adalah meraih trofi Liga Champions. 

Dengan mendapatkan trofi Liga Champions, PSG terlihat ingin mendapat pengakuan sebagai klub besar bukan semata-mata karena faktor uang tetapi lebih dari itu karena faktor prestasi di kancah Eropa. 

Namun, pelatih seperti Carlo Ancelotti, , Unai Emery, Thomas Tuchel hingga Pochettino adalah sederetan pelatih asing yang pernah duduk di kursi pelatih PSG sejak diambil alih oleh pengusaha Timur Tengah. Namun, para pelatih asing ini gagal membawa PSG ke tangga juara Liga Champions.

Dari sisi prestasi, Galtier terbilang pelatih yang sukses di level domestik. Salah satu kesuksesan Galtier adalah meruntuhkan dominasi PSG di musim 2020/21, di mana dia berhasil membawa Lille sebagai juara Liga Perancis. 

Setelah sukses menjuarai Liga Perancis, Galtier pindah ke Nice. Di musim pertamanya itu, Galtier mampu membawa Nice ke final Piala Liga Perancis dan menempatkan Nice di posisi ke-5 klasemen Liga Perancis. 

Secara umum, karir Galtier cukup cemerlang di Perancis. Di level domestik, Galtier terbilang sebagai pelatih yang patut disegani karena dia mampu membawa tim yang dilatihnya pada tingkat kesuksesan. 

Karenanya, dengan komposisi pemain yang dimiliki di PSG, Galtier akan mudah  menguasai Perancis. Faktor pengalaman Galtier dan dipadukan dengan kekuatan skuad PSG saat ini, bisa membuat tim-tim lain di Perancis hanya mengelus dada di musim depan. 

Kendati suskses di level domestik, Galter belum begitu teruji untuk level Eropa. Padahal, PSG sangat membutuhkan kesuksesan di level Eropa daripada hanya menguasai daratan Perancis. 

Maka dari itu, peluang PSG untuk bertarung di Eropa akan begitu sulit.  Galtier perlu energi ekstra untuk mempelajari tim-tim lawan di ranah Eropa. 

Terlepas dari karir Galtier di Perancis dan peluangnya di Eropa, hal yang paling menantang Galtier juga adalah relasi personal dengan para pemain. Galtier harus mampu mengontrol ruang ganti PSG.  

Pochettino sempat mengakui kesulitan mengatur tim yang terdiri dari para pemain bintang. Bahkan sempat terjadi cecok tipis antara Messi dan Pochettino gegara pemain asal timnas Argentina itu  tak terima ketika diganti.

Situasi ini bisa saja menghantui Galtier di PSG. Makanya, Galtier perlu membangun relasi dengan para pemain, daripada sekadar menyuntik ide dan taktik kepada para pemain.  

Gartier pasti sadar dengan komposisi skuad yang dimilikinya. Relasi personal sangatlah perlu agar taktik yang mau dibangunnya di PSG bisa berjalan sesuai dengan rencanannya. 

Galtier menjadi pelatih PSG yang berasal dari Perancis, bercita rasa domestik karena prestasi yang pernah ditorehkannya di level domestik. Namun kualitasnya akan mendapat ujian kuat ketika bermain di level Eropa. 

Salam Bola

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun