Keributan itu berupa menghidupkan volume musik keras-keras atau membuat pesta tanpa kenal waktu. Misalnya, sudah larut malam dan waktu untuk beristirahat bagi tetangga, namun ada orang paksa diri untuk tetap memutar lagu keras-keras. Â
Postingan yang termuat di medsos itu bisa membahasakan rasa kekecewaan. Kekecewaan itu bisa berujung pada rasa tidak suka.
Kalau ada tetangga yang mempunyai mental yang berani, dia bisa melakukan konfrontasi langsung. Bahayanya apabila konfrontasi langsung ini ditanggapi secara negatif. Bisa saja terjadi cekcok.
Hanya gara-gara suara keributan yang tidak perlu, ada cekcok di antara tetangga. Namun, kalau penyebab keributan itu rendah hati mengakui kesalahan dan membenarkan situasi, cekcok pun bisa saja tidak terjadi. Relasi juga menjadi aman.
Menjaga kenyamanan tetangga sangatlah penting. Kenyamanan itu tercipta jika kita tidak menciptakan keributan yang tidak perlu.
Prinsipnya, tahu waktu dan tahu situasi tetangga di sekitar kita. Dengan kata lain, kita juga perlu mengorbankan kenikmatan kita demi kenyamanan tetangga yang berada di sekitar kita. Â
Ketiga, Mencuri
Kehidupan bertangga kadang tidak lepas dari aksi mencuri. Mencuri itu berupa-rupa. Termasuk mengambil barang orang tanpa meminta dan memberi tahu.
Pernah suatu kali tetangga kami mencuri di rumah kami. Tak terduga oleh tetangga itu, hari itu ibu kami pulang lebih awal dari tempat kerja. Ibu kami mendapatkan tetangga kami itu sementara di dalam kamar.
Tanpa banyak kata, tetangga itu berlari dan menghilang beberapa bulan dari kompleks kami. Keluarganya juga menjadi malu. Minta maaf dengan apa yang terjadi. Mereka pun menjadi tak nyaman berelasi dengan kami.
Mengambil barang tetangga tanpa sepengetahuan bisa menjadi sebab persoalan. Lebih baik terbuka untuk meminjam dan mengembalikan barang pinjaman dalam keadaan baik daripada mengambil tanpa sepengetahuan.
Persoalannya, ketika kedapatan. Efeknya begitu rumit dan panjang kalau tidak terselesaikan dengan baik.