Mohon tunggu...
Daris Jati
Daris Jati Mohon Tunggu... -

Blogwalker

Selanjutnya

Tutup

Healthy

Berhenti Merokok Setelah Membaca Surat Ini

24 Maret 2011   05:00 Diperbarui: 26 Juni 2015   07:30 2711
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

“Belom om?” (gubraKK)

Begini lho, si Junel itu terkena kanker karena paparan asap rokok ayahnya sedari kecil. Itu sudah dipastikan oleh dokternya. Dengan menulis pengalamannya yang sangat-sangat menyakitkan secara fisik dan psikis selama dia menderita kanker, om Jun berharap Papa dan sodara-sodara Stapalanya mau berhenti merokok.

Tak Cuma itu, dia juga melobi ketua Stapala saat itu, mas Yoyon 591 yang asli Wonosari Gunungkidul itu (hehehe satu daerah neeh ma ane

:P
:P
) agar memberlakukan peraturan kebijakan larangan merokok di dalam posko. Syukurlah, usulan itu diterima dan sampai sekarang ruangan dalam posko steril dari asap rokok (oh Junel, jasamu tiada tara, wkwk). Meskipun gak steril-steril amat seeh, karena kadang-kadang ada oknum yang curi-curi kesempatan merokok di dalam posko. Juga saat posko pindah sementara ke poskost Jalan Merak, PJMI. Saat itu larangan merokok hanya sampai jam 11 malam. Setelahnya, kabut putih tipis kembali menyelimuti ruang utama poskost.

Alhamdulillah, setelah posko kembali ke kampus, kebijakan larangan merokok di posko berlaku kembali untuk 24 jam penuh, full 7 hari seminggu. Harapan kedepannya gak cuma di dalam posko saja larangan merokok itu diterapkan. Mungkin radius 10 km dari posko juga perlu disterilkan dari asap rokok, hehehe (ngajak gelut nek iki, wkwk).

Wis, ra usah kakean abab, mari kita simak saja isi surat dari Junel untuk Papanya. Sumpah deh, merinding baca suratnya. Surat itu murni dari hati, jadi punya energi tersendiri buat pembacanya.

Sudah siap? Ok, siapkan pop corn, siapkan minumnya juga, yang banyak ya, soalnya panjang banget suratnya, hehehe. Putar musik instrumentalia, terus matikan lampu dan nyalakan lilinnya…….(biar syahdu tralala)

Medan, 8 Oktober 2007

Untuk papa tercinta,

Syalom, pa! Semoga saat membaca surat ini papa nggak sedang merokok. Abang menulis surat ini dengan rasa sayang dan rasa hormat yang sangat besar kepada papa.

Pa, inti dari surat yang abang tulis ini adalah abang memohon agar papa berhenti merokok. Kita harus sama-sama berubah, pa. Abang harus lebih peduli dengan kesehatan pribadi dan abang sangat berharap papa pun berhenti merokok. Sadarkah papa bahwa nggak ada satu hal pun yang menjadi dampak positif dari kegiatan merokok yang udah papa lakukan selama lebih dari 20 tahun itu?

Pa, cukup abang aja lah yang pernah sakit karena asap rokok papa itu. Puji Tuhan, bukan papa, mama, atau adek-adek yang sakit karena asap rokok papa itu, melainkan abang yang merupakan anak papa yang paling besar dan juga anak papa yang kelak akan menggantikan posisi papa sebagai pemimpin keluarga besar kita. Abang udah membaca banyak buku dan sumber data lainnya tentang kanker, pa. Seseorang bisa terkena penyakit kanker karena 5% faktor genetik dan selebihnya adalah karena lingkungan, makanan, minuman, dan pola hidup. Sejak kecil, abang dan adek-adek selalu hidup di rumah dan lingkungan yang bersih. Makanan dan minuman kami termasuk jajan di sekolah dulu selalu diperhatikan oleh papa dan mama. Kami juga terbiasa dengan pola hidup yang sehat dan teratur karena sifat papa yang disiplin dan keras dan mama yang suka dengan keteraturan. Sesuai dengan pendapat dr. Dewi di Rumah Sakit Kanker ‘Dharmais’ tahun 2005 yang lalu, memang nggak bisa dipungkiri bahwa abang menderita kanker nasofaring karena asap rokok papa yang abang hirup sejak abang masih bayi. Pa, di dunia kedokteran di dunia ini nggak pernah dikenal istilah ‘mantan penderita kanker’ karena para dokter percaya bahwa seseorang yang pernah menderita kanker dan telah selesai menjalani pengobatan tidak akan pernah benar-benar sembuh total dari penyakit kanker itu seumur hidupnya. Selalu ada kemungkinan bahwa suatu saat kanker itu akan muncul lagi dan sang penderita harus menjalani pengobatan lagi. Kalau bisa diibaratkan, mungkin keadaannya seperti cerita di bawah ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun