Mohon tunggu...
Doharman Sitopu
Doharman Sitopu Mohon Tunggu... Penulis - Manajemen dan Motivasi

Seorang Pembelajar berbasis etos , Founder sebuah lembaga Training Consulting, Alumni YOKOHAMA KENSHU CENTER--JAPAN, Alumni PROAKTIF SCHOOLEN JAKARTA, Penulis buku "Menjadi Ghost Writer"--Chitra Dega Publishing 2010, Founder sebuah perusahaan Mechanical Electrical (Khususnya HVAC), Magister dalam ilmu manajemen, Memiliki impian menjadi Guru.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Mereview, Resolusi Awal Tahun

9 Februari 2010   11:55 Diperbarui: 26 Juni 2015   18:01 257
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

[caption id="attachment_71062" align="alignleft" width="284" caption="maintain resolusi anda"][/caption]

Saat ini bukanlah momen yang tepat untuk membicarakan perayaan tahun baru, karena tahun ini telah kita jalani satu bulan lebih.

Namun sebagai manusia progressive, dan manusia pembelajar, pastilah mencanangkan rencana kerja untuk mencapai cita-citanya pada tahun ini. Memiliki maksud yang jelas dan tertulis untuk dieksekusi dalam tahun berjalan, kemudian dievaluasi setiapakhir tahun.

Sebagai perenungan dan evaluasi terhadap rencana kerja kita sepanjang tahun ini, ada baiknya kita tetap melakukan maintenance dan warming up terhadap semangat maupun rencana kerja kita itu . Pertanyaannya, “Apakah semua masih on track?”

Kesenangan belajar memisahkan kaum muda dengan kaum tua. Sepanjang Anda bersedia belajar, Anda tidak pernah menjadi tua.

---Rosalyn S. Yallow

Sebuah pertanyaan sederhana namun menggelitik, “ Apakah dengan bertambahnya usia, anda menjadi semakin dewasa?”

Seseorang yang bertambah usianya sudah pasti semakin tua. Namun belum tentu bertambah dewasa.

Untuk bertambah tua, kita tidak memerlukan usaha apa-apa. Cukup tidur saja di tempat tidur, niscaya kita akan bertambah tua.

Sebaliknya apa bila kita ingin bertambah dewasa, maka kita diharuskan memilih dan berusaha menjadi dewasa.

Dalam bertambahnya kedewasaan kita, wajarlah merayakan pencapaian itu, sebagai penghargaan terhadap usaha kita. Ulang tahun perkawinan adalah sebuah contoh achievement yang perlu dirayakan. Karena berhasil mempertahankan keutuhan rumah tangga. Di mana ada unsur usaha, unsur pencapaian, dan yang pasti juga unsur berkat dari Tuhan yang pantas untuk dirayakan dan disyukuri.

Sebaliknya banyak moment yang pada hakikatnya tidak perlu dirayakan. Contohnya moment ulang tahun. Mengapa?Karena tidak ada achievement didalamnya, tidak ada sebuah pencapaian ataupun prestasi di dalamnya untuk dirayakan. Yang terjadi sesungguhnya adalah bahwa badan kita semakin tua, semakin tidak berdaya, berkurangnya kecantikan, sendi yang semakin aus, gerakan dan langkah yang semakin melambat perlahan-lahan tanpa disadari.

Dalam konteks ulang tahun dan tahun baru, sebenarnya harus dimaknai dengan kesadaran yang sedalam-dalamnya , bahwa umur kita berkurang satu tahun lagi.

Kuota yang telah diberikan Tuhan pada kita telah berkurang satu tahun. Ibarat sebuah rekening, yang diisi dengan dana awal 700.juta, kemudian setiap tahun kita ambil 10 juta berikut bunganya, maka selama 70 tahun habislah isi rekening tersebut. Habislah masa kontrak kita dengan Tuhan.

Walaupun begitu, setiap momen Tahun baru, selalu diperingati dan dirayakan oleh manusia di seluruh dunia. Banyak cara orang untunk merayakanya, ada yang merayakan dengan hura-hura, minum-minum sampai mabok, pesta dansa, pesta petasan, pesta old & new yang dimeriahkan artis dan selebritis, namun ada juga yang merayakanya dengan mengadakan PERENUNGAN.

Nah , cara yang kedua ( PRENUNGAN ) inilah yang semestinya kita pilih untuk dilakukan pada momen Tahun Baruini selaku manusia yang baru. Bahwa kita akan menjadi tua ( Growing Old ) seiring dengan bertambahnya waktu, adalah betul. Namun pertanyaanya adalah, apakah seiring dengan bertambahnya waktu itu kita juga menjadi semakin dewasa ( Growing Up )? Inilah point penting yang perlu kita renungkan pada awal tahun ini.

Resolusi apa yang akan saya lakukan tahun ini?

Ada orang yang sudah tua, namun belum dewasa. Sebaliknya, ada juga yang masih muda tapi sudah dewasa. Nah, kedewasaan adalah tujuan akhir dari setiap manusia. Sedangkan hidup adalah proses untuk mencapainya. Apapun cita-cita yang ia tetapkan sebagai resolusi, tolok ukur kedewasaan dapat dijadikan acuan .

Kita dapat melakukan pengukuran terhadap diri kita, saat mengakhiri tahun 2010 ini kelak. Apakah tolok lukur itu?

[caption id="attachment_71063" align="aligncenter" width="300" caption="Tuliskan resolusi itu"][/caption]

1.Telunjuk yang selalu menunjuk ke dalam

Ciri-ciri seorang anak kecil, adalah kecenderungannya untuk menunjuk orang lain. Terutama dalam hal menyalahkan, dan menunjuk kelemahan orang lain. Sebaliknya, mereka yang telah dewasa, akan berfikir dua kali apabila menyalahkan orang lain.

Jari telunjuknya selalu melengkung menunjuk diri sendiri. Apabila ada kesalahan, maka hal pertama yang mereka lakukan adalah Introspeksi, “adakah yang salah yang telah aku perbuat?” Atau, “Jangan-jangan hal itu terjadi akibat kelalaianku.”

Sikap dewasa inilah yang dinamakan mawas diri yang bijaksana. Kesadaran (mindfulness) dan kesabaran semakin matang. Selanjutnya hal ini akan mendatangkan kebahagiaan bagi siapa saja yang menganut dan mengejawantahnya.

2.Memberi manfaat bagi orang lain

Apabila kita masih mewarisi karakteristik anak kecil, maka kita cenderung menarik manfaat dan menyedot perhatian dari orang lain. Kita tidak pernah berempati pada orang yang ditimpa kemalangan atau musibah. Yang pasti dan selalu kita pikirkan adalah bagaimana diri sendiri dapat memanfaatkan lingkungan dan pergaulan demi kemakmuran diri sendiri.

Sebaliknya kedewasaan adalah karakter dan perilaku yang selalu memberi manfaat bagi orang lain. Mereka memiliki prinsip “Give & Take” memberi dahulu baru mendapatkan kemudian. Lebih baik memberi daripada menerima. Pada akhirnya, manusia dewasa inilah yang pada hakikatnya paling banyak menerima, kendati yang diterima itu berupa penghargaan yang tidak selalu diwujudkan dalam bentuk material.

3. Mengendalikan diri

Orang yang belum dewasa selalu membutuhkan pengendalian dari pihak lain, sedangkan orang dewasa mampu mengendalikan orang lain maupun diri sendiri.

4. Siap untuk Kalah maupun Menang.

Orang yang belum dewasa, akan terbelenggu kekalahan, dan menjadi pecundang yang bulan-bulanan. Sementara orang dewasa, selalu siap menerima kekalahan maupun kemenangan. Bila kalah tidak membuat sedih yang membelenggu, atau merasa rendah diri, namun memetik pelajaran daripadanya, dan segera bangkit dari keterpurukan.

Kekalahan baginya adalah guru yang terbaik untuk mereguk kemenangan yang tertunda, kekalahan ia maknai dengan jatuh yang elegant.

Begitupun jika mengalami kemenangan, tidak membuatnya sombong dan membusungkan dada, namun tetap menjaga sikap, karena ia tahu bahwa mempertahankan kemenangan berikutnya adalah tantangan yang harus dipertanggungjawabkan.

Ada sebuah prinsip pada tataran spiritual dalam memaknai kekalahan. Ibarat seorang petinju professional, maka walaupun kalah tetap mendapatkan bayaran, apalagi menang.

5. Objective

Yang dimaksud dengan objective adalah, lebih menekankan makna dan solusi ketimbang mencari siapa (subjective ) yang salah. Baginya perlu mengetahui siapa yang salah, bukan untuk memojokkan orang tersebut, melainkan untuk melakukan perbaikan agar tidak terulang kembali (reoccurrences).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun