Turut berbicara dalam kegiatan daring itu Ibu Indah Juanita dari Badan Otoritas Borobudur dan Pak Iwan dari Disparpora Kab. Magelang.
Banyak pertanyaaan dari masyarakat terkait rencana pembukaan Borobudur, antara lain bagaimana antisipasi TWC terhadap petugas-petugas di lapangan, karena sesuai protokol dari ICOM untuk menjaga keamanan pengunjung dan keamanan staf/petugas, adakah penambahan petugas karena beban kerjanya semakin bertambah; bagaimana nantinya pemanfaatan Candi Borobudur untuk kegiatan kesenian pada era kenormalan baru agar para seniman daerah tetap bisa berkreativitas dan menghidupkan perekonomian mereka.Â
Pertanyaan lain yang diajukan apakah penyemprotan disinfektan itu masih efektif dilakukan di Borobudur karena menurut referensi virus corona hanya bisa bertahan tiga menit di udara terbuka. Sementara Borobudur terbuka tidak seperti Prambanan. Takutnya kegiatan penyemprotan itu hanya pemborosan, selain itu dampak terhadap batu candinya belum dilakukan kajian.
Diskusi dihadiri sekitar 100 orang dari berbagai kota dengan beragam profesi. Tentu banyak masukan yang diperoleh. Semoga pengelola Candi Borobudur mampu menyedot wisatawan sekaligus melestarikan tinggalan budaya termegah di Nusantara ini.***
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H