Sinta hanya tersenyum tipis, wajahnya terlihat pucat dengan mata yang kosong. "Aku datang untuk membawa kamu kembali, Raka. Kamu belum bisa pergi dari kota itu."
Raka merasakan kengerian yang pernah ia alami kembali menyerang. "Tidak... Ini tidak mungkin. Aku sudah berhasil melarikan diri!"
Namun, sebelum Raka bisa bereaksi lebih jauh, bayangan lain muncul di samping Sinta. Ibu Malam! Sosok wanita tua yang penuh kebencian itu muncul lagi, kali ini dengan senyuman lebih jahat dan tatapan yang lebih mengerikan.
"Kau pikir bisa lari dari kutukanku, anak muda? Aku selalu bisa menemukanmu, bahkan di dunia nyatamu," kata Ibu Malam dengan suara seraknya yang membuat bulu kuduk meremang.
Raka merasakan cengkeraman ketakutan yang begitu kuat. Tubuhnya kaku, tak mampu bergerak. Saat itulah, Saskia muncul di depan pintu kamar, wajahnya bingung melihat kehadiran Sinta dan Ibu Malam.
"Raka, apa yang terjadi?" tanya Saskia, suaranya gemetar.
Sebelum Raka bisa menjelaskan, Ibu Malam melambaikan tangannya, menciptakan pusaran angin yang menyedot mereka bertiga ke dalam kegelapan. Raka, Saskia, dan Sinta ditarik ke dunia lain, dunia yang pernah menahan jiwa Raka dalam penderitaan.
Ketika Raka membuka matanya, ia kembali berada di kota yang menyerupai Jakarta, namun kali ini lebih suram dan mematikan. Gedung-gedung tinggi menjulang dengan jendela-jendela hitam yang mengawasi setiap gerak mereka. Suasana kota terasa lebih dingin, lebih kelam, dan lebih mematikan daripada sebelumnya.
Sinta berdiri di sampingnya, wajahnya masih pucat tanpa ekspresi, sementara Saskia terlihat ketakutan dan bingung. "Apa ini, Raka? Di mana kita?" tanya Saskia dengan suara bergetar.
"Kita... kita di kota yang terkutuk ini lagi. Dan dia---" Raka menoleh ke arah Ibu Malam yang kini melayang di udara dengan mata yang menyala penuh kebencian, "---dia adalah Ibu Malam, penguasa kota ini. Dia ingin menjebak kita semua di sini."
Sinta tiba-tiba melangkah maju, tatapannya kosong. "Aku sudah terjebak di sini, Raka. Sekarang, giliran kalian."