Jalannya pemberontakan petani di Kemusu ditandai dengan persekongkolan para petani Kemusu untuk menolak masuknya para petugas yang aka mendata tanah mereka serta menghindari banyak pertemuan rutin desa yang difasilitasi oleh pihak birokrasi yang pada dasarnya ialah gimick dari  pemaksaan penduduk untuk
cap jempol sebagai tanda penyerahan
ganti rugi. Hal ini terus dilakukan oleh para petani di Kemusu yang kemudian menarik simpati para masyarakat kalangan lain mulai dari masyarakat perkotaan atau mahasiswa, LSM hingga para tokoh-tokoh agama yang tidak secara langsung berkaitan dengan masalah pembangunan waduk.
Mereka memberikan dukungan yang terbagi menjadi  3 periode, yaitu Periode Pra Penggenangan dukungan ini memfasilisafi lembaga bantuan hukum untuk para petani di Kemusu untuk memberikan kesempatan agar para petani Kemusu dapat menyampaikan masalah serta nasibnya.
Selanjutnya ialah Periode Saat Penggenangan
Hal ini dilakukan orang perkotaan yang langsung menghadapi pemerintah guna melindungi para petani Kemusu serta memberikan bantuan sosial kepada para petani.
Periode Pasca Penggenangan juga dilakukan sebagai bentuk yang bermacam-macam mulai dari Gerakan berwujud pembangkangan, Gerakan berwujud aksi massa, dan Kampanye secara terbuka terhadap
nasib yang dialami oleh petani Kemusu.
Dampak yang muncul setelah pemberontakan ialah perubahan fisik yang nampak di sekitaran Kemusu khususnya daerah yang dijadikan waduk
Juga Terputusnya Hubungan Kekerabatan Dan Perubahan Sosial Ekonomi, banyak penduduk di daerah
genangan yang terkena wabah penyakit
cacingan, kulit dan perut. Hal ini karena
masalah sanitasi di daerah genangan
sangat kotor.
Itulah pembahasan secara singkat dari pemberontakan petani Kemusu-Boyolali 1985.
Daftar pustaka
Wibowo, G. A. (2014). PEMBERONTAKAN PETANI DI KECAMATAN KEMUSU-BOYOLALI 1985-1993. SEUNEUBOK LADA: Jurnal ilmu-ilmu Sejarah, Sosial, Budaya dan Kependidikan, 1(1), 8-14.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI