Mohon tunggu...
Dita Widodo
Dita Widodo Mohon Tunggu... Wiraswasta - Wirausaha. Praktisi urban garden dari 2016-sekarang. Kompasiana sebagai media belajar dan berbagi.

1996 - 2004 Kalbe Nutritional Foods di Finance Division 2004 - 2006 Berwirausaha di Bidang Trading Stationery ( Prasasti Stationery) 2006-sekarang menjalankan usaha di bidang Travel Services, Event Organizer dan Training Consultant (Prasasti Selaras). 2011 Mulai Belajar Menulis sebagai Media Belajar & Berbagi

Selanjutnya

Tutup

Catatan Artikel Utama

Kebun Binatang Ragunan Layak Belajar dari Taman Safari Indonesia

25 April 2014   22:00 Diperbarui: 23 Juni 2015   23:12 907
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

[caption id="attachment_333380" align="aligncenter" width="624" caption="Suasana pengunjung di Taman Margasatwa Ragunan (TMR), Jakarta, Selasa (17/5/2011). Di pengujung libur panjang kali ini, pengelola TMR menghadirkan atraksi elang dan parade satwa untuk menyedot pengunjung. Puluhan ribu pengunjung memadati tempat liburan ini | Ilustrasi/ Kompasiana (KONTAN/Muradi) "][/caption]

Tulisan seorang rekan Kompasiner ; Bp. Sigit Priadi yang berjudul : Pembaharuan Bonbin Gembrialoka dan Memori Masa Lalu cukup mengajak setiap kita yang memiliki kenangan rekreasi dengan sahabat, kerabat dan saudara di masa lalu dapat sejenak bernostalgia. Ya, karena sebuah benda atau tempat yang memiliki nilai kesejarahan akan memiliki daya tarik tersendiri untuk kita nikmati.

Namun sebagai seorang yang memilih menjalankan usaha di bidang Travel Organizer sesungguhnya ada beberapa catatan yang ingin saya coba tuangkan di sini. Sudah cukup lama saya memendam berbagai tanda tanya besar, jika tidak untuk diartikan sebagai sebuah kekecewaan terkait pengelolaan tempat rekreasi di Indonesia. Terutama mereka yang dibawah pengelolaan pemerintah yang adalah Departemen Pariwisata maupun Pemerintah Daerahnya.

Menilik foto-foto Bonbin Gembiraloka yang belum terlihat ‘wajah baru' atau pembangunan/perawatan yang signifikan, saya menjadi teringat sederet tempat-tempat wisata lainnya. Sebut saja Keraton Jogjakarta, yang tak pernah sepi kunjungan, pun tidak maksimal perawatannya jika kita bandingkan dengan bagaimana negera-negara tetangga mengelola dengan apik tempat wisatanya, bahkan sekadar fasilitas umum ‘gratis'-annya. Besi-besi pagar yang berada di halaman depan keraton tampak tua dan berdebu. Bandingkan dengan besi-besi stainless sebagai sandaran/tempat duduk di halte-halte bis negara tetangga yang amat licin, bersih dan terawat, misalnya. Padahal menurut hemat saya, meskipun tampak kuno, jika diberikan perhatian lebih serius, saya yakin Keraton Jogja akan selalu terlihat cantik, antik dan asri.

Tentu banyak sekali tempat wisata yang dikelola pemerintah daerah yang terkesan ‘asal-asalan' dalam hal perawatan dan pengelolaan. Bahkan label bau maaf ‘pesing' seolah menjadi ciri-ciri banyak tempat wisata di sini. Meski di sela-sela keprihatinan itu selalu ada kabar baik juga. Semisal Monas - Monumen Nasional, kini nyaris telah lepas dari label tersebut karena pembenahan pengelolaan yang telah dilakukan beberapa tahun terakhir.

Terkait dengan pengelolaan rekreasi pemerintah vs swasta, kali ini mari menengok secara khusus Kebun Binatang Ragunan. Bandingkan dengan Taman Safari Indonesia, yang kurang lebih memiliki karakter sejenis. Kebun Binatang Ragunan memang sudah ada sedikit perbaikan dalam pengelolaan, meski pun menurut saya masih jauh dari maksimal.

Secara letak geografis, sebenarnya Kebun Binatang Ragunan mempunyai segudang kelebihan dan daya tarik bagi para wisatawan. Di antaranya, lokasinya di dalam kota Jakarta, pastinya cukup mudah dijangkau dari sisi jarak dan biaya. Pun tidak perlu sebegitu beratnya menembus macetnya jalan puncak untuk sampai di sana.

Tentu semua orang akan menghubungkan kaitannya harga tiket dengan kelengkapan satwa, tampilan, sarana dan prasana serta kualitas sebuah tempat hiburan. Karena pendapatan penjualan tiket adalah salah satu sumber pendanaan bagi pengelolaan tempat rekreasi yang bersangkutan. Bandingkan harga tiket wisata regular Taman Safari Indonesia usia 5 tahun ke atas senilai Rp. 100.000,- dan 1-5 tahun senilai Rp. 90.000,-. Dengan penawaran tambahan 17 permainan terusan senilai Rp. 60.000,-/ orang di luar HTM. HTM Ragunan Rp. 5.000,- yang berarti senilai 5% saja jika dibandingkan dengan HTM Taman Safari Indonesia.

Menurut saya, pemerintah sudah selayaknya meninjau ulang, tentang pengelolaan tempat rekreasi semacam Ragunan tersebut. Mengambil data tahun 2012 (Sumber Tempo.Co - 25 Agustus 2012), bahwa rata-rata jumlah pengunjung obyek wisata Ragunan adalah 10.000,- orang per hari. Dengan harga tiket Rp. 5.000,- maka pendapatan tiket senilai hanya Rp. 50.000.000,- saja.

Sebagai pengamat amatir sangat yakin bahwa dengan menaikkan HTM Rp.50.000,- perorang, dan meningkatkan pelayanan berupa penataan ulang secara keseluruhan baik penambahan arena bermain, perbaikan fasilitas umum, penambahan jenis satwa lokal dan manca negara, dibarengi dengan promosi wisata yang cukup gencar akan menjadikan Ragunan menjadi satu obyek wisata yang paling diminati.

Jumlah pengunjung hingga 2x lipat di atas kertas saya yakin akan terlampaui. Sehingga jika kita hitung 50.000,- x 20.000 pengunjung,  maka akan didapatkan angka cukup fantastis yang adalah Rp. 1.000.000.000,-/hari. Dari dana itulah yang harus mampu dikelola dengan baik untuk pengembangan dari waktu ke waktu.

Logikanya begini. Dengan HTM regular Rp. 100.000,- s/d 140.000,- (dengan tiket terusan) saja Taman Safari Indonesia masih menjadi tempat wisata terfavorit setelah Taman Impian Jaya Ancol dan unit-unitnya ( Dunia Fantasi, Ocean Dream Samudra dan Atlantis Water Adventure). Dimana kita tahu HTM semua lokasi wisata di atas angka Rp. 100.000,- /orang. Jadi harga Rp. 50.000,- tersebut adalah harga kompetitif yang bisa diberlakukan kepada pengunjung. Selain kunjungan wisatawan domestik perorangan/keluarga, prospek utama adalah dari ribuan perusahaan yang menyelenggarakan acara family gathering atau pun corporate gathering.

Umumnya perusahaan yang memiliki jumlah karyawan dan keluarga lebih dari 3.000 orang akan ketar-ketir menyelenggarakan acara di puncak karena kendala perjalanan. Sementara, jika tema tahun ini pantai, maka tahun berikutnya sebuah perusahaan biasanya akan mencari tema yang berbeda untuk menciptakan suasana baru dan menghindarkan dari kebosanan para pesertanya.

Saya teringat sebuah seminar UKM oleh Bank DKI beberapa waktu lalu yang menghadirkan Pak Ahok sebagai salah satu pembicaranya. Dan dalam kesempatan itu, beliau menyampaikan rencana pembenahan ke depan terkait Jakarta sebagai ibukota, dimana menjadi wajah Indonesia, negara besar yang kaya dengan seni budayanya. Lingkungan Monas tempat pertama yang perlahan dikembangkan menjadi kawasan wisata terpadu, dimana berbagai kerajinan dan seni budaya daerah kelak akan tersaji di teras bangsa ini.

Seorang teman pernah mengomentari, bahwa kadang tempat rekreasi yang dikelola oleh pemerintah memang sengaja dibiarkan apa adanya pengelolaannya, untuk kemudian dilaporkan masih posisi keuangan masih merugi. Wah, kalau ini yang terjadi, betapa mengenaskan sebenarnya selama ini.

Namun berprasangka buruk tentu tak akan membuahkan apa pun selain energi negatif yang merugikan. Maka tetap mencipta harapan sembari membuat himbauan-himbauan kecil semacam inilah yang semoga menggugah mereka yang memiliki kapasitas lebih besar untuk dapat mewujudkan perubahan-perubahan di masa mendatang.
Lee Kuan Yew perlu waktu tak kurang dari 20 tahun menata negerinya menjadi semaju hari ini. Ataukah mungkin sedikit harus bersabar menanti agenda Pemprov DKI dan jajarannya tertuang beberapa tahun ke depan untuk kita nikmati? Semoga saja :)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Catatan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun