Tetapi penduduk desa tulamben tidak kekurangan akal, oleh mereka seekor ayam putih mulus dicabuti satu bulu ekornya kemudian diganti dengan bulu ekor warna hitam.Â
Ayam tersebut kemudian dijual kepada wong perahu dan untuk memastikan ayam tersebut tidak bisa bertarung dengan sempurna maka digantungkan seikat uang kepeng pada leher ayam tersebut sebelum dijual kepada wong perahu.
Hari yang telah ditentukan tiba, sabungan ayam dimulai dengan ayam jantan putih mulus dengan sehelai bulu ekor warna hitam bertarung melawan ayam buwik milik penduduk desa tulamben.Â
Ayam buwik ini merupakan ayam yang telah menang beberapa kali dan merupakan ayam asli desa tulamben sedangkan ayam putih merupakan ayam peranakandengan ayam dari lombok.Â
Pertarungan akhirnya digelar dan dalam pertarungan tersebut ayam wong perahu jerih kemudian dilanjutkan ke ronde pruput.Â
Dalam ronde pruput ini, ayam milik desa tulamben tajinya nyangkut pada sangkar atau guungan sehingga tidak bisa menyerang. Karena kelelahan ayam milik desa tulamben terduduk sedangkan ayam milik wong perahu masih berdiri.Â
Akan tetapi wasit tajen ( Saye ) mengatakan itu sapih ( seri / draw ), jadi tidak ada pemenang, padahal seharusnya ayam wong perahu yang menang. Merasa dicurangi oleh penduduk Desa Tulamben, wong perahu minta pertarungan diulang.Â
Wong perahu minta ayam jantan berbulu biing brahma. Ayam biing brahma ini dianggap memiliki keunggulan dan kelebihan tersendiri, dimana ayam ini juga berasal dari peranakan ayam dari lombok.Â
Sebelum dijual ayam ini kembali lehernya digantungi uang kepeng dan disiksa dan kedua kakinya ditarik dengan tujuan agar tidak dapat bertarung sempurna pada sabungan nanti. Kemudian pertarungan kembali digelar ayam biing brahma milik wong perahu melawan ayam buwik milik penduduk desa tulamben.Â
Dalam pertarungan tersebut ayam milik wong perahu terluka dan jerih, kemudian lari menyembunyikan kepalanya pada kurungan dipinggir arena tajen, sementara kaki yang ada tajinya menghadap keatas.Â
Ayam buwik milik penduduk tulamben kemudian menyerang dengan garang namun sayang justru terkena taji ayam biing brahma yang menghadap keatas dan mati. Dengan demikian wong perahu dinyatakan menang.