Mohon tunggu...
Dinda Mayang Saputri
Dinda Mayang Saputri Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa PPG Prajabatan Gelombang 2

Pendidikan

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Menjadi Bagian dari Sejarah Perjalanan Pendidikan di Indonesia

27 Desember 2022   20:42 Diperbarui: 3 Januari 2023   09:22 1365
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Perjalanan Pendidikan Indonesia

Pendidikan di Indonesia tentunya melewati berbagai perjalanan panjang. Ki Hajar Dewantara adalah sosok yang hingga kini kita kenal sebagai Bapak pendidikan Indonesia. Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau yang lebih dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara merupakan sosok penting dalam dunia pendidkan terutama pada saat pergerakan kemerdekaan Indonesia termasuk yang paling menjadi perhatian dari Ki Hajar Dewantara adalah bidang pendidikan. 

Sektor pendidikan yang semula diharapakan dapat diperuntukkan bagi seluruh rakyat namun kenyataannya yang bisa mengenyam jenjang pendidikan hanya sebatas orang belanda dan para bangsawan saja. Dalam hal ini Ki Hajar Dewantara mengakui sebagai bagian dari didikan Barat karena mendapatkan akses sebagai keluarga bangsawan. 

Selain itu, pendidikan yang diberikan kepada rakyat dengan tujuan tertentu yaitu untuk menjadi pekerja pada usaha perdagangan kolonial belanda. Orang-orang pribumi tidak bebas memilih dan mereka tidak berhak menentukan pekerjaan yang mereka inginkan selepas mereka memperoleh pendidikan dimana dalam hal mata pelajaran terdapat empat hal yaitu membaca, menulis, bahasa belanda wajib dan berhitung.

Sebagai seorang aktivis dan kecintaannya pada dunia pendidikan Ki Hajar Dewantara menyadari bahwa pendidikan tidak bisa dinikmatinya sendiri saja, harus ada ruang yang dapat memfasilitasi rakyat untuk meperoleh pendidikan yang layak. Akhirnya pada tanggal 3 Juli 1922 Ki Hajar Dewantara mendirikan sebuah Perguruan Taman Siswa, melalui sekolah ini Ki Hajar Dewantara berupaya menumbuhkan kesadaran untuk mengenyam pendidikan dan tidak lupa nilai-nilai kebangsaan serta rasa cinta terhadap bangsa dan tanah air dengan kata lain berjuang juga untuk mencapai kemerdekaan sebagai suatu bangsa.

Ki Hajar Dewantara tidak hanya kritis dalam hal rakyat dalam memperoleh pendidikan atau hanya dapat menulis dan berhitung (tidak buta huruf) semata, nilai-nilai kebudayaan yang melekat pada rakyat juga harus tetap dijaga dan dilestarikan karena hal itulah bekal untuk tetap mencitai dan memiliki rasa bangga sebagai rakyat Indonesia yang terus berjuang demi sebuah kemerdekaan. Kebudayaan lokal harus tetap sejalan dengan masuknya budaya lain karena hal itu akan menjadikan konvergensi budaya yang menimbulkan keragaman namun tetap berada pada titik nilai budaya sendiri dan itulah bentuk dan sifat dari "Bhineka Tungga Ika" yang hingga saat ini dipertahankan oleh bangsa Indonesia.

Setiap tanggal 2 Mei, Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional dan dilanjutkan pertanyaan Apakah ada perubahan pendidikan sekarang dan zaman dulu? melalui Perguruan Taman Siswa, Ki Hajar Dewantara bermakud untuk merangkul semua lapisan untuk mendapatkan pendidikan tidak terbatas kepada satu golongan saja. Sehingga kehadiran Taman Siswa menjadi jawaban atas penderitaan rakyat yang belum merdeka dalam hal pendidikan. Jika sebelum kemerdekaan yang menjadi kritik Ki Hajar Dewantara adalah akses untuk mendapat pendidikan yang harus tersedia, namun beda hal nya saat ini dengan kesempatan yang terbuka apakah pendidikan yang diberikan telah sejalan dengan cita-cita dasar pendidikan itu sendiri, walaupun demikian masih banyak rakyat di Indonesia yang masuk jurang kemiskinan dan tidak dapat melanjutkan sekolah. Artinya bangsa indonesia boleh merdeka namun rakyat belum sepenuhnya merdeka padahal Pasal 31 ayat 1 UUD 1945 berbunyi setiap warga negara berhak mendapat pendidikan yang layak.

Setelah mempelajari perjalanan pendidikan di Indonesia dan pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara, saya menyadari bahwa ajaran dari Perguruan Taman Siswa mengandung paham multikulturalisme, memelihara dan mengembangkan kebudayaan serta menunjukkan budi pekerti. Hal ini merupakan hal baru yang saya dapatkan selama menempuh pendidikan, bahkan pemikiran seperti ini tidak akan diperoleh tanpa secara khusus menelusuri kembali jejak pendidikan Indonesia dan perjuangan Ki Hadjar Dewantara. 

Pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentu sesuai dan sejalan dengan program pendidikan yang diusung saat ini yaitu pendidikan dengan pembelajaran paradigma baru atau program kebijakan merdeka belajar. program ini dilaksanakan untuk menghapus belenggu pendidikan yang berorientasi pada nilai, yang membebani peserta didik dan proses pembelajaran yang monoton berpusat kepada guru. program ini menyelenggarakan pendidikan yang berorientasi pada kemerdekaan guru dan siswa dalam proses belajar mengajar sehingga proses pembelajaran akan bermakna, berkualitas, dan memberi rasa aman baik kepada pendidik maupun peserta didik.

Dok Pribadi
Dok Pribadi

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun