Jumlah partisipasi yang semakin meningkat ini menunjukkan minat masyarakat yang besar terhadap investasi berbasis urun dana. Equity crowdfunding tidak hanya memberikan peluang bagi UKM untuk berkembang, tetapi juga memungkinkan investor kecil untuk diversifikasi portofolio mereka di sektor-sektor yang sebelumnya tidak mungkin mereka masuki.
Namun, ada beberapa risiko yang harus dipertimbangkan saat melakukan investasi ini. Yang paling penting adalah asimetri informasi, yang terjadi dalam equity crowdfunding, ketika penerbit atau pembuat kampanye memiliki lebih banyak informasi tentang perusahaan daripada investor. Investor tidak selalu memiliki akses ke semua informasi penting tentang kinerja keuangan atau perusahaan, sehingga mereka berisiko membuat keputusan investasi yang tidak didasari.
Risiko dan Tantangan dalam Equity Crowdfunding
Likuiditas yang rendah adalah masalah utama dengan equity crowdfunding selain risiko asimetri informasi. Tidak seperti saham perusahaan yang sudah ada di bursa, saham yang diterbitkan di platform ini tidak dapat diperdagangkan secara langsung di pasar modal. Investor harus menunggu hingga perusahaan melakukan strategi keluar, seperti IPO atau akuisisi, sebelum mereka dapat menjual saham mereka dan menghasilkan keuntungan dari investasi. Exit strategy ini biasanya membutuhkan waktu bertahun-tahun, dan kadang-kadang mungkin tidak pernah tercapai jika perusahaan gagal.
Selain itu, ada kemungkinan bisnis akan gagal. Perusahaan rintisan memiliki risiko yang lebih tinggi daripada perusahaan besar yang sudah mapan. Banyak perusahaan baru gagal dalam beberapa tahun pertamanya, dan investor dapat kehilangan seluruh modal yang diinvestasikan jika mereka gagal. Meski begitu, equity crowdfunding tetap menawarkan potensi keuntungan yang menarik, terutama bagi investor yang memiliki profil risiko tinggi dan siap berinvestasi dalam jangka panjang. Oleh karena itu, investor harus melakukan pemeriksaan menyeluruh sebelum memutuskan untuk berinvestasi dalam equity crowdfunding. Investor disarankan untuk mengurangi risiko dengan menyebarkan investasi mereka ke berbagai perusahaan. Mereka juga harus memilih perusahaan yang memiliki model bisnis yang solid dan proyeksi pertumbuhan yang realistis.
Apakah Equity Crowdfunding Tepat di Akhir 2024?
Untuk menentukan apakah equity crowdfunding adalah pilihan yang tepat di akhir tahun 2024, perlu mempertimbangkan situasi ekonomi di negara dan di luar negeri. Di penghujung tahun 2024, ekonomi global masih dihantui oleh ketidakpastian setelah pandemi, peningkatan suku bunga oleh bank sentral di banyak negara, dan perlambatan pertumbuhan ekonomi di berbagai area. Peningkatan suku bunga berdampak pada tingkat konsumsi masyarakat dan daya beli investor ritel di Indonesia, meskipun inflasi relatif terkendali.
Ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,05% pada triwulan II-2024 dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, menurut data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Sektor-sektor seperti pertanian, kehutanan, perikanan, serta makanan, minuman, dan akomodasi telah mengalami pertumbuhan yang signifikan, yang menunjukkan potensi equity crowdfunding untuk sektor-sektor ini.
Investor seringkali lebih berhati-hati dalam memilih instrumen investasi mereka saat ekonomi tidak stabil. Equity crowdfunding mungkin bukan pilihan terbaik bagi mereka yang menginginkan investasi yang aman dan stabil. Namun, bagi investor yang berani mengambil risiko dan memiliki pandangan jangka panjang, equity crowdfunding masih menawarkan peluang yang menarik, terutama di industri yang sedang berkembang di Indonesia.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H