Mohon tunggu...
Dinda K
Dinda K Mohon Tunggu... Mahasiswa - 💎

Mahasiswa

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Kebijakan dan Kendala Pendidikan pada Masa Pandemi Covid-19

27 Oktober 2021   23:05 Diperbarui: 27 Oktober 2021   23:23 152
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber: www.freepik.com

Corona Virus Disaease 2019 atau akrab disebut dengan Covid-19 merupakan virus menular bagi manusia. Virus ini pertama kali terdeteksi di kota Wuhan, China pada tahun 2019. 

Virus ini lalu menyebar ke berbagai negara di sekuruh penjuru dunia pada awal tahun 2020. Covid-19 pertama kali terdeteksi hadir di Indonesia pada Maret 2020. 

Virus ini terdekteksi pada seorang Wanita negara Indonesia yang tertular oleh temannya, seorang warga negara Jepang, yang saat itu berkunjung ke Jakarta. Tak lama kemudian WHO selaku badan kesehatan dunia mengumumkan bahwa Covid-19 merupakan pandemi global.

Berbagai kebijakan dikeluarkan oleh negara-negara di dunia tak terkecuali Indonesia. Indonesia menggaungkan kebijakan  jaga jarak/social and physical distancing, menyerukan kepada masyarakat agar melakukan pekerjaan dari rumah/work from home, dan menginstruksikan agar tetap di rumah/stay at home. 

Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya masyarakat yang berkerumun/bergerombol   dan untuk memperlambat penyebaran Covid-19. Kebijakan ini juga berpengaruh kepada dunia pendidikan karena mewajibkan setiap orang untuk dirumah saja.

Berangkat dari kebijakan di atas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nadiem Makariem, mengeluarkan suatu kebijakan bagi dunia pendidikan. Pembelajaran yang awalnya dijumpai dengan pertemuan langsung di dalam kelas harus ditiadakan terlebih dahulu. 

Dalam hal ini pembelajaran disesuikan dengan kebijakan pada masa pandemi. Pembelajaran selama masa pandemi dilakukan di rumah masing masing siswa. 

Hal ini sejalan denngan Surat Edaran  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 15 tahun 2020 yang menjelaskan mengenai pedoman atau tata cara pelaksanaan belajar dari rumah selama masa pandemi Covid-19. Isi dari surat ederan ini yaitu,

  • Bab I menerangkan mengenai prinsip, metode, tujuan, dan media yang digunakan dalam melaksanakan pembelajaran dari rumah
  • Bab II merupakan paduan terhadap proses pelaksaan saat pembelajaran dilaksanakan dirumah
  • Bab III menjelaskan tata cara/paduan jika kegiatan belajar mengajar oleh satuan pendidikan bisa dilaksanakan  secara tatap muka

Selain Surat Edaran Kementertian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 15 tahun 2020, Kementerian Pendidikaan dan Kebudayaan menyertakan lampiran Surat Edaran Nomor 4 tahun 2020 yang juga mengatur kebijakan pelaksanaan pendidikan pada masa pandemi Covid-19. Surat edaran ini menerangkan mengenai

  • Pembatalan Ujian Nasional tahun 2020,
  • Ketentuan mengenai proses pembelajaran dari rumah,
  • Pelaksaanan Ujian Sekolah (US) untuk kelulusan dan Ujian Kenaikan Kelas (UKK) yang berbeda seperti tahun sebelumnya karena tahun 2020 sedang terjadi pandemi Covid-19,
  • Ketentuan mengenai Penerimaan Peserta Didik Baru di masa pandemi Covid-19,
  • Bantuan Dana Sekolah dan Operasional Pendidikan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan sekolah mencakup keperluan untuk mecegah penyebaran Covid-19 di sekolah.

Pembelajaran dari rumah perlahan membawa kendala yang dapat dirasakan oleh warga satuan pendidikan. Guru misalnya banyak yang mengalami kendala saat memberikan pembelajaran bagi siswa, seperti kurang penguasaan dalam penggunaan teknologi yang menyebabkan guru hanya memberikan tugas dari buku untuk dikerjakan oleh siswa. 

Hal itu membuat para siswa merasa bosan dan jenuh dengan pembelajaran dari rumah yang dilakukan secara daring. Selain itu, mengkordinasikan pembelajaran juga menjadi salah satu tantang bagi guru karena setiap siswa memiliki karakteristik dan kemampuan yang berbeda apalagi pembelajaran dilangsungkan melalui tatap maya.

Para siswa juga merasakan banyak kendala saat pembelajaran dari rumah. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dalam surveinya mengenai pelakasanaan dan sistem penilaian pembelajaran jarak jauh berdasar pengaduan KPAI membeberkan fakta bahwa siswa merasa guru memberikan tugas dengan waktu yang singkat, tugas menumpuk karena guru hanya memberikan tugas rumah tanpa menjelaskan secara detail, teknologi pendukung pembelajaran seperti handphone dan laptop yang tidak memenuhi kriteria untuk pembelajaran. 

Selain itu, Kendala yang sering  dikeluhkan oleh siswa adalah masalah pada paket kuota internet yang tidak mencukupi untuk melakukan pemebelajaran secara  daring.

Tak hanya guru dan siswa saja yang mengalami kendala. Orang tua siswa yang mendampingi anaknya dalam pembelajaran dari rumah memiliki kendala. Orangtua siswa kebanyakan memiliki pekerjaan yang jika sebelum pandemi Covid-19 dikerjakan di kantor bagi yang bekerja dan saat pandemi membawa pekerjaan itu kerumah. 

Mengurusi pekerjaan kantor maupun rumah ditambah dengan harus melakukan pengawasan dan pendampingan terhadap anaknya membuat orangtua kewalahan. 

Selain itu, terkadang orangtua tidak begitu paham dengan materi pembelajaran anaknya dan harus lebih memperhatikan serta memberikan lebih banyak dukungan motivasi bagi anak untuk melakukan pembelajran dari rumah karena anak lebih memilih untuk bermain game online daripada belajar.

Upaya penanganan yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayan dengan mengeluarkan pedoman dalam melaksanakan kurikulum di masa pandemic Covid-19 yang tertuang dalam Keputusan Meteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 719/P/2020. Satuan pendidikan dibebaskan dalam penggunaan model kurikulum. Terdapat tiga penawaran pada kurikulum, yaitu

  • Tetap menjalankan kurikulum 2013,
  • Menggunakan kurikulum darurat dalam kondisi yang khusus
  • Menjalankan kurikulum yang telah disederhankan secra mandiri sesuai satuan pendidikan.

Kurikulum pada masa darurat ditujukan untuk meringkankan beban bagi guru, siswa, dan orangtua dalam pembelajaran dari rumah selama masa pandemi Covid-19. Selain itu, hal yang tepenting dari kurikulum ini adalah agar kesejahteraan psikososial bagi guru, murid, dan orang tua dapat meningkat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun