Taliban harus berusaha mengubur penyakit ego komunal (Taliban sebagai sebuah faksi) untuk mendengar denyut harapan otrang lain yang tak seirama..
Salah satu syarat keberhasilan adalah menyudahi perang saudara, meminimalisasi faksi-faksi yang punya kepentingan. Taliban harus bersikap moderat, merangkul segenap faksi yang ada.Â
Gerakan washatiyah (moderasi) Islam yang sedang berkembang saat ini bisa menjadi inspirasi bagi Taliban dalam mengelola pemerintahan baru nanti. Disinilah titik krisis yang harus segera diselesaikan. Taliban tak boleh berlarut --larut, membiarkan masyarakat dalam ketidakpastian.Â
Pemerintahan transisi, kalau mampu meyakinkan masyarakat Afganistan dan dunia bahwa semua masyarakat didorong untuk saling memahami (tafahum), seimbang (tawazun), toleran (tasamuh), akan lebih cepat menanamkan kepercayaan rakyat bagi pemerintahan Taliban.
Janji untuk melibatkan semua elemen tidak berhenti pada casing yang belum bermakna. Substansi terdalam dari pergantian pemerintahan ini adalah Afganistan milik semua.Â
Tampilan Taliban yang terkesan keras, kaku, konservatif, puritan bahkan dituding sebagai pelindung bagi teroris akan hilang sendirinya seiring dengan dibangunnya sistem pemerintahan yang mengedepankan prinsip keadilan, persaudaraan sebangsa, dan pendekatan yang manusiawi.
Jika moderasi (jalan tengah) yang dipilih, sebagai jembatan penyeberangan antara ultra konservatif dengan pemikiran Islam modern akan menjadikan Afganistan lebih cepat menuju kebangkitannya.Â
Pada sisi lain, semua harus menutup mata akan tawaran campur tangan dari negara ketiga. Pengalaman pahit tentang kehancuran Afganistan, karena keterlibatan negara ketiga yang memiliki kepentingan global, khususnya bisnis persenjataan.Â
Buat apa Amerika memproduksi senjata kalau hanya sebagai penghuni gudang. Pada akhirnya ia akan mencari sasarannya, mencari pasarnya. Akankah Afganistan kembali menjadi korban bisnis persenjataan Amerika atau Rusia ??? rakyat Afganistan yang bisa menjawabnya.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI