Mohon tunggu...
Andika Lawasi
Andika Lawasi Mohon Tunggu... Lainnya - an opinion leader

Rakyat Pekerja

Selanjutnya

Tutup

Nature Pilihan

Membiasakan Hidup Produktif Tanpa Emisi Karbon, Sanggup?

23 Oktober 2021   17:57 Diperbarui: 23 Oktober 2021   18:01 214
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber: getty images

Perubahan iklim bukanlah sekedar isu biasa.  Peristiwa ini merupakan musibah global yang oleh Menkeu RI Sri Mulyani Indrawati pernah menyebutnya sebagai bencana yang kerusakannya akan jauh lebih katastropik atau sangat merusak bila dibandingkan dengan pandemi covid-19. 

Bahkan Sekjen PBB, Antonio Guteres, dalam forum Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) mengungkapkan bahwa derajat kegentingan perubahan iklim yang terjadi hari ini sudah berada pada level yang sangat kritis dan telah menjadi kode merah bagi umat manusia.

Lalu, muncul sebuah pertanyaan " kapan hal itu akan terjadi? ", menurut peneliti IPCC kita tidak perlu lagi menunggu.  Sebab, secara faktual, peristiwa tersebut sudah berlangsung hari ini.  

Tepat di saat sebagian besar masyarakat dunia masih terlena dengan gaya hidup penuh emisi; atau sebuah gaya hidup yang cenderung eksploitatif dan berlebih-lebihan yang tanpa disadari telah meninggalkan jejak karbon yang tinggi dalam setiap aktivitasnya.

Sebagaimana diketahui, karbon adalah unsur dominan dalam gas rumah kaca (GRK).  Meningkatnya unsur karbon di atmosfer justru memperkuat GRK dalam memerangkap panas matahari sehingga suhu bumi akan mengalami kenaikan tinggi di luar batas normalnya. 

Suhu tinggi ini tentunya akan menyebabkan berbagai bencana ekologis di permukaan bumi, di antaranya adalah kekeringan dan kelangkaan air bersih, cuaca ekstrim dan bencana banjir, kenaikan permukaan air laut yang mengancam eksistensi kawasan pesisir, dan berbagai kerusakan alam lainnya. 

Tanpa upaya kontrol yang tepat, jejak karbon yang tertinggal dari setiap akivitas masyarakat tersebut akan menjadi ancaman bagi keselamatan lingkungan di masa depan. Dan secara akumulatif, hal ini akan membahayakan kehidupan manusia dalam beberapa dekade ke depan.

Jejak karbon pada dasarnya merupakan emisi karbon yang kita hasilkan dari berbagai aktvitas sehari-hari. Menurut beberapa penelitian, jejak karbon berkontribusi terhadap naiknya gas rumah kaca yang merupakan penyebab utama perubahan iklim. Adapun jumlah karbon yang dihasilkan oleh manusia (para pekerja aktif) rata-rata berkisar 3-4 ton karbon/orang/tahun.  

Bila dikalikan dengan jumlah penduduk dunia yang mencapai 7 miliar, maka emisi karbonnya adalah 28 miliar metrik ton karbon/tahun atau setara 55% dari total emisi karbon tahunan yang mencapai 51 miliar metrik ton/tahun.

Lalu, bagaimana sesungguhnya gaya hidup yang penuh emisi itu? dan bagaimana hal tersebut berkontribusi pada gagalnya pencapaian Net Zero Emisi atau Nol Bersih Emisi yang sedang dicanangkan pemerintah sebagai jalan keluar atas permasalahan perubahan iklim? Berikut uraiannya.

Net-Zero Emission :  Melawan Perubahan Iklim Dari Diri Sendiri 

Net-Zero Emission (NZE) atau Nol Bersih Emisi adalah gagasan tentang bagaimana agar jumlah emisi CO2 yang terbuang, sama dengan jumlah emisi CO2 yang diserap.  Atau dalam kondisi yang lain, NZE juga bisa didefinisikan sebagai kondisi tidak diproduksinya CO2 sama sekali sehingga tidak berkontribusi membentuk GRK.  

Dengan melihat kondisi perubahan iklim hari ini yang kian genting, maka sudah waktunya bagi seluruh masyarakat dunia, termasuk pemerintah, dunia industri dan usaha, serta semua pihak untuk bahu-membahu dalam gerakan NZE ini guna menekan produksi GRK yang mencakup karbon dioksida, metana, freon, dan nitrogen agar emisinya dapat diminimalisasi sekecil mungkin. 

Untuk mencapai NZE semaksimal mungkin, setiap individu harus memahami betul setiap tindakan yang diambil dan selalu sadar akan jumlah emisi yang tercipta akibat tindakan tersebut. menurut berbagai sumber internet, ada beberapa tindakan atau kebiasaan yang sering kita lakukan yang terkait erat dengan emisi karbon atau yang disebut dengan istilah jejak karbon. Berikut uraiannya :

a. Membuang-buang Makanan

Sebagaimana dilansir dari situs World Economic Forum,  konsumsi makanan, mulai dari aspek produksi, distribusi, pemasaran, sampai menjadi makanan olahan siap santap, serta limbahnya, telah menyumbang 28 % emisi GRK.  

Hal ini kemudian menjadi makin parah ketika dibarengi dengan perilaku sebagian besar masyarakat yang gemar membeli makanan dalam jumlah besar tetapi tidak sedikit pula yang harus berakhir sebagai limbah makanan.  

Banyak yang tidak sadar bahwa dalam setiap tahapan penyediaan makanan tersebut, mulai dari proses penanaman (untuk pertanian) maupun pemeliharaan dan pengembangbiakan (untuk peternakan) sampai pengolahannya , telah mengeluarkan emisi karbon dan gas metana yang sangat berpengaruh pada naiknya intensitas GRK. 

Untuk mengatasi hal ini, maka perlu sebuah tindakan yang harus dimulai dari diri sendiri, yakni dengan cara tidak membuat atau membeli makanan dalam jumlah besar sehingga permintaan bahan-bahan konsumsinya dapat turun secara signifikan, minimal tidak se-eksesif sebagaimana pola konsumsi selama ini yang cenderung memboroskan bahan makanan yang tersedia.  

Para ibu rumah tangga juga perlu mendapatkan edukasi mengenai pentingnya mengontrol emisi karbon dari rumah agar mereka dapat mengatur menu konsumsi harian rumah tangga yang sesuai dengan gizi keluarga namun tidak berlebih-lebihan. 

Mengingat emisi GRK dari sektor konsumi tergolong tinggi, maka dapur rumah tangga pada akhirnya akan menjadi medan " pertempuran awal " perlawanan terhadap perubahan iklim. 

Dari kebutuhan konsumsi inilah, banyak sekali infrastruktur makanan berikut aktivitas pendukungnya yang terlibat, mulai dari pembukaan lahan pertanian, penyediaan pupuk dan pestisida, pemanenan, sampai pengolahannya, semuanya masing-masing mengeluarkan emisi GRK nya sendiri-sendiri sehingga dalam akumulasinya akan membebaskan GRK dalam jumah besar.   

Boros listrik dan Enggan Memakai Transportasi Umum

Listrik adalah bagian dari sektor energi yang penggunaanya sangat dominan di tengah-tengah masyarakat.  Beragam kegunaan energi listrik ini sudah tak perlu lagi ditelisik, sebab manfaatnya sudah sangat jamak diketahui.   

Namun dalam konteks perubahan iklim dewasa ini, listrik menjadi sesuatu yang harus dikontrol penggunaannya sebab cara perolehannya ternyata menghasilkan jumlah emisi karbon yang sangat tinggi. 

Bahkan Menurut data Climate Watch, sektor energi dimana listrik menjadi produk utamanya, merupakan penyumbang emisi GRK terbesar di dunia yang mencapai 71,05 % dari total GRK global. Untuk menghasilkan energi listrik, kita masih mengandalkan proses pembakaran bahan bakar fosil seperti minyak, gas dan batu bara. 

Karena kebutuhan listrik akan selalu meningkat seiring dengan pertambahan populasi penduduk, maka kebutuhan akan minyak, gas, dan batu bara juga akan meningkat, dan konsekuensinya akan berdampak pada bertambahnya emisi GRK yang dihasilkannya. 

Teknologi untuk memproduksi listrik tanpa bahan bakar fosil sedang dirintis oleh beberapa negara di dunia dengan mengusung berbagai tema, seperti Energi Baru Terbarukan (EBT), Energi Hijau, Energi Ramah Lingkungan, dan lain sebagainya.  

Semua agenda di atas bertujuan agar energi listrik yang dihasilkan tidak lagi menghasilkan emisi GRK yang tinggi, atau minimal emisinya dapat diserap oleh material ekosistem pendukung yang dibiayai sepenuhnya dari pengelolaan di sektor energi. 

Sebagai masyarakat, peran kita dalam mengurangi emisi GRK dari sektor energi adalah kunci. Kebutuhan kita akan listrik merupakan sumber motivasi atas dibangunnya berbagai infrastruktur energi, produksi energi, pencarian dan identifikasi energi, serta penggunaan bahan bakar fosil yang ada saat ini.  berapa jumlah kebutuhan kita atas energi, begitu pula jumlah energi yang akan dihasilkan dari sektor industri energi. 

Dengan demikian, kunci kontrol atas suplai energi ada di tangan kita.  sebagai kelompok stakeholder pengguna, kita bisa memulainya dari diri sendiri, dengan cara menggiatkan rumah tangga yang hemat listrik, menggunakan teknologi hemat listrik seperti lampu hemat energi, mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan lebih sering berjalan kaki (bila jarak tempuh dekat), menggunakan transportasi publik yang ramah lingkungan, dan lain sebagainya.  semua tindakan-tindakan kecil ini akan berdampak besar di masa depan dalam mengurangi emisi GRK yang selama ini timbul dari berbagai aktivitas kita.

Tidak Hemat dalam Membeli Pakaian

Pakaian merupakan bagian dari kebutuhan pokok manusia. Sama halnya dengan energi dan makanan, pakaian juga memiliki manfaat segudang yang tentu tak perlu diuraikan panjang lebar.  Walau kegunaan pakaian  sangat vital, namun terkait dengan perubahan iklim, pakaian ternyata ikut serta berperan memanaskan bumi. 

Menurut berbagai penelitian, emisi GRK pakaian berkontribusi sebesar 10 % dari keseluruhan total GRK secara global.  Emisi itu pun tercipta dari berbagai rangkaian yang terlibat dalam proses produksi pakaian, mulai dari ekstraksi bahan mentahnya, pengolahan bahan, sampai pada aspek penggunaannya dan berakhir sebagai sampah.  Semua tahapan dalam prosesnya masing-masing memberikan emisi pada GRK.

Dalam isu pakaian ini, fast fashion, atau istilah bagi industri pakaian murah, dituduh menjadi biang keladi atas emisi GRK.  Banyak pihak menilai bahwa industri pakaian murah menjadi penyebab atas terjadinya lonjakan produksi pakaian dan tekstil yang kualitasnya jelek dan tidak tahan lama sehingga banyak berakhir di tempat sampah.  

Sebenarnya, serangan terhadap fast fashion di atas tidak sepenuhnya benar. Sebab pada faktanya, produksi pakaian, baik itu fast fashion maupun deluxe fashion keduanya sama-sama berpotensi menyumbang GRK.  Ada dua alasan yang mendasari. Pertama, tingginya angka permintaan terhadap fast fashion adalah akibat dari menjamurnya model pakaian deluxe fashion terbaru yang diproduksi oleh berbagai desainer pakaian. 

Adanya ketertarikan massa konsumen terhadap deluxe fashion tapi berharap harga murah membuat sebagian besar industri pakaian berlomba-lomba memproduksi pakaian murah (fast fashion) dengan meniru model deluxe fashion. 

Kedua, industri deluxe fashion senantiasa menampilkan model-model terbaru serta cara berpakaian modern sehingga turut membentuk karakter peradaban modern.  

Akibatnya terbentuk mindset khayalak bahwa bila belum berpakaian seperti itu, maka akan ketinggalan zaman. Oleh karena itu, betapa strategisnya industri pakaian ini membentuk peradaban sehingga model-modelnya terus berkembang sesuai selera zaman yang pada akhirnya menyebabkan produksi pakaian terus bergerak tanpa henti dan memberi efek samping berupa emisi GRK yang tidak sedikit.   

Tetap Produktif Tanpa Emisi

Berdasarkan uraian di atas, maka ada beberapa hal yang bisa kita ubah dari kebiasaan kita sehari-hari demi mengurangi emisi GRK yang menjadi penyebab utama perubahan iklim. 

Adapun yang bisa kita lakukan antara lain ; mulai menghemat makanan dan menghabiskannya sesuai porsi, mulai memastikan tidak berlebihan menggunakan listrik dan senantiasa menggunakan transportasi publik, serta mulai bersikap bijak dalam membeli pakaian agar tidak sekedar menjadi koleksi di lemari pakaian. Siap?

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Nature Selengkapnya
Lihat Nature Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun