Mohon tunggu...
Dicky Saputra
Dicky Saputra Mohon Tunggu... Wiraswasta - Talks about worklife and business. Visit my other blog: scmguide.com

-

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Bahaya! Berita Buruk Berlari dan Berita Baik Merayap

1 Juli 2016   11:33 Diperbarui: 1 Juli 2016   11:35 156
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Kalau kita membaca berita di media-media online, media cetak, ataupun menonton berita di televisi,90% diantaranya adalah berita buruk. Berita negatif yang bercerita tentang kriminalitas, bencana alam, korupsi, pertengkaran, perseteruan politik, dan sebagainya. Setiap hari selama 24 jam kita bisa dengan mudah mengakses berita-berita seperti itu.

Apa yang terjadi sebenarnya? Apakah memang sudah tidak ada lagi hal-hal positif yang bisa diberitakan?

Tidak juga. Ada banyak hal positif yang bisa disampaikan. Permasalahannya terletak di struktur otak kita, manusia. Ada bagian kecil di otak yang bernama amygdala. Bagian ini berbentuk seperti kacang almond dan berfungsi sebagai komponen utama penghasil emosi. Selain itu juga sebagai pendeteksi bahaya. Bagian paling primitif dari otak kita yang menghasilkan reaksi “fight or flight”. Sebuah bagian yang sangat diperlukan untuk menjaga keberlangsungan spesies manusia karena sifatnya yang sebagai sistem pendeteksi awal adanya bahaya di sekitar kita.

Ambil contoh begini, pada saat kita sedang berada di sekitar semak-semak tinggi di pinggir hutan dan tiba-tiba terdengar suara gemerisik di semak tersebut, kita akan terpikir bahwa itu adalah binatang buas. Harimau misalnya. Kita mendeteksi adanya potensi bahaya yang mengancam jiwa kita. Pada saat Inilah reaksi “fight or flight” itu muncul. Apakah kita tetap akan diam dan menunggu apa yang akan terjadi atau lari menyelamatkan diri?

Zaman berubah. Tetapi amygdala tetap pada fungsinya. Ia akan mencari dan menyisir lingkungan sekitar kita untuk mendeteksi adanya potensi bahaya yang bisa mengancam kita. Ia adalah salah satu komponen untuk mempertahankan diri. Sangat sensitif dengan adanya bahaya ataupun ancaman. Inilah yang dimanfaatkan oleh media saat ini.

Media memanfaatkan kecenderungan otak kita untuk mendeteksi akan adanya bahaya dengan menyajikan berita-berita yang memenuhi kecenderungan tersebut. Berita tentang kriminalitas, misalnya. Siapa yang tidak mau selamat dari kejahatan? Kita aka nbaca berita-berita seperti itu secara alami karena ingin terhindar dari hal yang sama. Naluri untuk menyelamatkan diri muncul disitu.

Korupsi. Bagian orang-orang yang melakukannya, mungkin ini juga menjadi sinyal bahaya untuk mereka. Bagaimana orang yang melakukan hal yang sama bisa tertangkap. Bagaimana jaringan korupsi itu bisa terbongkar. Kembali, naluri untuk menyelamatkan diri, dalam hal ini juga menyelamatkan kelompoknya, muncul. Bagi yang tidak melakukannya, juga ingin menyelamatkan diri. Agar kita tahu modus-modus yang digunakan, cara korupsi berkelompok itu dikelola, sehingga kita bisa menghindarinya di tempat kita. Atau setidaknya mendeteksi kalau-kalau ada bibit-bibit korupsi di sana.

Bencana alam. Kita tahu tidak setiap hari bencana alam itu kita alami dalam kehidupan kita sehari-hari. Tapi berita tersebut mengusik rasa aman kita. Bagaimana kalau kita mengalami hal yang sama suatu saat nanti? Apa yang harus kita lakukan? Kembali media menggunakan kecenderungan otak kita untuk menjaring pembaca.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa berita negatif 30% mendapatkan perhatian lebih dibandingkan berita positif ataupun yang netral. Headline negatif mendapatkan klik 63% lebih banyak dibandingkan yang positif. Ini karena rasa lapar kita untuk mendengar, membaca, dan mengingat berita-berita negatif. Tujuannya tentu saja untuk menyelamatkan diri.

Dampak dari dibombardirnya otak kita dengan berita-berita negatif seperti ini beragam. Setiap orang akan merasakan efek yang berbeda. Ada yang bisa berakibat stress, teringat kembali dengan trauma yang pernah dialaminya, marah, sedih, bahkan bisa sampai depresi. Menariknya, efek berita negatif pada wanita lebih besar dibandingkan pria. Ini karena naluri keibuan yang dimiliki wanita sehingga dia tidak berpikir untuk menyelamatkan diri sendiri saja, tetapi juga anak-anak mereka. Untuk melindungi buah hati mereka. Selain itu juga karena kecenderungan wanita untuk lebih berempati dibandingkan pria.

Pada beberapa kasus,terpapar berita negatif setiap hari selama 24 jam juga bisa mengubah cara pandang orang pada dunia di sekitarnya. Orang tersebut bisa lebih pesimis, tak banyak berharap, dan hal itu bisa berlangsung lama. Dia akan lebih memiliki kekuatiran dan bisa sampai pada level yang sulit dikendalikan. Seolah melihat segala sesuatu lebih membahayakan dan lebih parah dari yang sebenarnya.

Bagaimana kita bisa mengurangi dampak dari berita negatif pada diri kita? Sederhana. Matikan saja. Kita tidak bisa mengubah apa yang ada diluar diri kita. Tapi kita bisa mengubah diri kita. Apa yang ingin dan bisa kita lakukan. Jadi, matikan saja. Ambil jarak dari berita-berita di TV, media online, ataupun media sosial yang banyak sekali konten negatif di-share di sana.

Kita juga bisa melihat segala sesuatu dari gambaran besarnya (big picture). Lihat suatu hal secara menyeluruh. Apa yang sebenarnya terjadi di sekitar kita? Apakah memang dunia di sekitar kita seburuk itu?

Melihat dari kondisi di sekitar kita, mungkin tidak banyak hal negatif yang bisa dirasakan. Coba kalau area yang lebih luas lagi, satu kotamadya misalnya, akan lebih banyak kriminalitas, kekerasan, dan lainnya. Lebih luas lagi, se-Indonesia, tentu lebih banyak lagi. Konflik di daerah, korupsi di kota ini dan itu. Kalau dunia? Lebih-lebih lagi. Ada terorisme, perang, bom bunuh diri disana-sini, penembakan. Tapi, kembali, apakah itu terjadi di sekitar kita? Tidak. Itu terjadi sangat jauh disana. Tidak berdampak secara fisik pada kita.

Merasa sedih dan marah tanpa melakukan apa-apa, tidak akan menolong siapa-siapa. Orang-orang yang menjadi korban tidak akan terbantu hanya karena kita merasa sedih tanpa tindakan nyata. Bukan berarti kita tidak boleh berempati, tetapi kalau sampai hal tersebut mengganggu kita, maka itu tidak ada gunanya. Malah akan mempengaruhi kejernihan pikiran kita untuk melakukan hal yang lebih bermanfaat. Lebih konkret. Yang mungkin akan lebih bisa membantu orang-orang yang menjadi korban di sana.

Sekali lagi, matikan. Turn it off. Ambil jarakdengan berita-berita negatif yang akan mempengaruhi kita. Apalagi kalau kita termasuk orang-orang yang sangat mudah terpengaruh dengan berita-berita semacam itu. Kita harus sadari apakah kita termasuk yang mudah terpengaruh atau tidak. Sadari,matikan, dan ambil jarak. Jauh dari pikiran negatif. Stay positive. Dan lakukan hal-hal yang positif. Itu akan lebih bermanfaat untuk kita dan lingkungan di sekitar kita.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun