Belum ada sejarah yang mencatat secara resmi kapan laksa muncul di Tangerang sebagai salah satu kuliner peranakan. Namun, diketahui sejak tahun 1970-an laksa sudah mulai dijajaki oleh pedagang kaki lima. Sayangnya, eksistensi laksa terus redup seiring jalannya perkembangan industri kuliner. Hingga pada tahun 2000-an laksa kembali muncul dan mendapat dukungan dari Pemerintah Kota Tangerang.Â
Hal tersebut rasanya jadi angin segar untuk terus dapat melestarikan laksa. Melihat laksa sebagai salah satu budaya Kota Tangerang, pemerintah menyediakan tempat khusus bernama 'Kawasan Kuliner Laksa Tangerang' di Jalan Mohammad Yamin, Kota Tangerang sebagai wujud dukungannya.
Keberadaan laksa sebagai hasil akulturasi budaya menandakan bahwa makanan merupakan ranah budaya dalam kehidupan sehari-hari yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Makanan sebagai produk budaya menggabungkan kebutuhan, interaksi serta harmonisasi berbagai pihak di dalamnya.
Perlu diperhatikan, bagaimana cara agar dapat terus menghadirkan dan mengembangkan makanan khas sebagai budaya. Tidak hanya bisa dilestarikan tapi juga punya peluang berkaitan dengan kesejahteraan ekonomi masyarakat sekitarnya. Â Laksa bisa jadi bukti bahwa keragaman budaya ternyata dapat mempengaruhi satu sama lain dan berdampak pada kehidupan masyarakatnya.
Sumber:
Andhi Seto Prasetyo, T. F. (2017). Perkembangan Kota Lama Tangerang dan Potensinya Sebagai Destinasi Wilayah Pustaka. Jurnal Arsitektur bangunan dan lingkungan, 17-30.
Kurniati, N. A. (t.thn.). Menelusuri Jejak Laksa sebagai Kuliner Peranakan dalam Ruang Urban Kota Tangerang . Seminar Nasional Budaya Urban, 311-325 .
Zaini, M. R. (2014). Perjalanan Menjadi Cina Benteng: Studi Identitas Etnis di Desa Situgadung . Jurnal Sosiologi Masyarakat , 93-117.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI