Sedangkan tokoh Aom Usman digambarkan sebagai tokoh ménak yang pada masa tersebut dapat melakukan apapun dan mendapatkan keuntungan dari kekuasaannya sebagai golongan ménak.Â
Penelitian lebih dalam pada novel Baruang Kanu Ngarora dapat dianalisis menggunakan ilmu telaah bahasa (lingustik). Salah satunya yakni bagaimana novel tersebut dapat diteliti berdasar teks nya dengan mengungkapkan makna (semiotik) yang terkandung di dalam novel yang berhubungan dengan tokoh utama wanita sehingga novel dapat lebih mudah dipahami. Hal ini dapat dilakukan dengan menentukan makna secara nyata yang terkandung dalam novel (denotasi), kondisi sosial dan budaya yang dialami (konotasi) dan garis besar pemaknaan dari cerita (makna).
Menurut penulis pribadi, bila kita telaah kembali ke tokoh Daeng Kanduruan Ardiwinata beliau juga merupakan seorang tokoh nasionalis. Novel ini bisa dimaknai sebagai novel yang ditulis oleh D.K Ardiwinata sebagai bentuk protes atau kritik terhadap sistem kemasyarakatan pada masa itu.Â
Seperti kerugian yang harus dialami tokoh wanita Nyi Rapiah karena berasal dari golongan pribumi yang menikahi seorang mnak. Selain itu novel-novel klasik seperti Baruang Kanu Ngarora ini harus dilestarikan keberadaannya, sebab dengan membaca novel-novel klasik kita tidak akan melupakan sejarah. Kita juga akan menambah wawasan dan ikut memahami situasi yang terjadi, mengenal sistem pemerintahan maupun sosial pada masa lampau seperti yang terjadi pada novel Baruang Kanu Ngarora.
Â
Referensi        : Ardiwinata, D. (1914). Baruang Kanu Ngarora. Bandung: PT Kiblat Buku Utama.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H