Mohon tunggu...
Nahariyha Dewiwiddie
Nahariyha Dewiwiddie Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Penulis dan Pembelajar

🌺 See also: https://medium.com/@dewiwiddie. ✉ ➡ dewinaharia22@gmail.com 🌺

Selanjutnya

Tutup

Inovasi

Kompas Edisi Spesial 28 Juni 2015: Lebih dari Sekadar Koran Biasa

29 Juni 2015   08:32 Diperbarui: 29 Juni 2015   09:00 859
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.


Teman-teman Kompasianer, sudah punya belum Harian Kompas edisi 28 Juni 2015?

Selain edisi tanggal 26 Juni 2015 dimana Harian Kompas terbit 100 halaman, hari ini Harian Kompas terasa spesial karena Harian Kompas terbit 58 halaman! Jadi tak seperti jumlah halaman Harian Kompas pada umumnya yang terbit 32 halaman. Pada edisi tersebut, pembaca akan mengajak bernostalgia perjalanan Harian Kompas sejak berdirinya sampai mencapai puncak ‘usia emasnya’ kemarin.

Kemarin, saya telah mendapat info dari Twitter mengenai Harian Kompas edisi spesial ini. Kemudian, saya bergegas untuk mendapatkannya di kota dekat tempat tinggal saya. Karena Harian Kompas datang lebih siang (sekitar jam 10), saya harus bersabar dan mengisi waktu saya dengan mengaji di masjid. Selepas pengajian, saya bergegas ke pedagang koran, dan taraaaaaa! Dapat deh korannya!

Sesampainya di rumah, saya membuka lembaran demi lembaran Harian Kompas tersebut. Dari situlah, saya tercetus untuk membandingkan Harian Kompas edisi 28 Juni 2015 dengan Kompas Minggu pada umumnya. Apa sih perbedaannya?

1. Berita dan Soca Diringkas dan Digabung Jadi Satu


Kompas Minggu, terdiri dari tiga bagian koran (Berita, Soca, dan Klasika). Namun, pada Harian Kompas edisi special 50th Kompas ini, dari halaman 1-16, Berita dan Soca diringkas dengan menampilkan berita yang lebih penting dan dirangkum jadi satu. Jadi jangan heran jika berita Regional, Internasional, Olahraga dicampur dengan bagian-bagian Soca seperti Hiburan, Aku dan Rumahku, Cerpen, dan sebagainya, dan di Harian Kompas kemarin, tidak terdapat sosok inspiratif seperti yang sering ditemukan di halaman depan Soca, dan halaman khusus Kompas Anak, pada Kompas Minggu pada umumnya.

2. Halaman TTS dan Kartun Dibuat Terpisah


Pada Kompas Minggu pada umumnya, halaman TTS dan kartun digabung jadi satu. Lain halnya dengan Kompas edisi kemarin dimana halaman TTS dan kartun terpisah. Kartun pada Kompas edisi 28 Juni 2015 dibuat lebih besar, sedangkan TTS dibuat soal lebih banyak, sebanyak kira-kira 200 soal mendatar dan menurun, tidak seperti TTS pada koran Kompas Minggu lainnya yang kira-kira memuat 80 soal mendatar dan menurun. Sangat cocok bagi yang suka tantangan mengisi TTS!

3. Memuat Opini Tentang Harian Kompas “Memanggungkan Keindonesiaan”


Masuk pada halaman 17 sampai 49 (kecuali halaman 44-45), dimana banyak opini tentang perjalanan Harian Kompas menuju usia emasnya untuk Indonesia. Pada halaman pertama (17) dari bagian tersebut dibuka oleh opini dari Presiden RI Joko Widodo dan Wapres RI Jusuf Kalla. Selanjutnya, menyusul tokoh-tokoh lain yang mengutarakan kontribusi Harian Kompas untuk kemajuan negeri, diantaranya Aburizal Bakrie, Sandiaga Uno, Yenny Wahid, Mari Elka Pangestu, dan sederet tokoh-tokoh lainnya.

Seperti arti namanya “memberi arah dan petunjuk jalan”, Harian Kompas telah memberi arah kepada Indonesia untuk menuju masa depan yang lebih baik. Setidaknya, opini mereka tentang Harian Kompas ini mencerahkan, menginspirasi, sehingga menguatkan citra koran Kompas yang semakin berkualitas dan semakin dipercaya oleh masyarakat. Setuju?

4. Memuat Sejarah Lengkap Berdirinya Harian Kompas Sampai Mencapai Usia ke-50


Tidak lengkap rasanya jika Harian Kompas edisi HUT ke-50 tidak disisipi oleh sejarah berdirinya Harian Kompas sampai saat ini, yang terdapat pada halaman 44-45. Tentunya, sejarah perjalanan Kompas disajikan lewat diagram beralur dari 28 Juni 1965 sampai 28 Juni 2015. Sebagai orang yang menyukai Harian Kompas, tentunya saya tak ingin ketinggalan dengan sejarahnya. Kalau istilahnya sih kalau tak kenal, maka tak sayang. Jadi sejarah tentang suatu hal bisa menguatkan identitas tentang sesuatu. Jadi mengapa Harian Kompas bisa sebesar seperti saat ini, karena bisa tahan banting menghadapi permasalahan, ditambah lagi sudah berpengalaman dari zaman Soekarno sampai zaman Jokowi sekalipun!

5. Terdapat Foto Peristiwa Pilihan dalam “50 Tahun Kompas”


Selain sejarah lengkap tentang Harian Kompas, pada halaman 50-52 memuat foto peristiwa pilihan Kompas dari tahun 1965-2015, diantaranya foto tentang mundurnya Presiden Soeharto, gerhana matahari di Borobudur tahun 1983, proses kelahiran pesut di akuarium Gelanggang Samudera Jaya Ancol tahun 1979, dan sebagainya. Bagi saya, membuka halaman tersebut sekaligus bernostalgia, terutama mengingat kejadian Kerusuhan Mei 1998 yang hanya bisa saya lihat di televisi beberapa tahun yang lalu. Maklum, saat itu, saya masih kecil, baru berumur 4 tahun!

Terlepas dari kuranglengkapnya berita karena keterbatasan ruang, terus terang, Harian Kompas edisi 28 Juni 2015 telah memberi warna berbeda dalam sejarah harian terbesar di negeri ini, bagaimana koran tersebut bisa bertahan, menginspirasi, dan menjadikan koran tersebut “panduan” dan memberikan wawasan bagi pembacanya. Kehadiran tokoh-tokoh penting di negeri ini yang mengisi halaman demi halaman Harian Kompas edisi 28 Juni 2015, ditambah kartun dan TTS yang “tampil beda” serta rubrik khusus lainnya, menambah kesan pada koran tersebut bahwa koran tersebut memang berbeda dari edisi sebelumnya.

Jujur, saya mengatakan pada koran Kompas edisi spesial ini: “Lebih dari Sekedar Koran Biasa!”

Demikianlah, semoga Harian Kompas selalu bersinar. Salam Kompasiana!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Inovasi Selengkapnya
Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun