Mohon tunggu...
Dewi Sawitri
Dewi Sawitri Mohon Tunggu... Guru - Saya seoraang guru SD

Saya memiliki hobi menulis,namun sering terbengkalai tulisan saya. Saya suka dunia anak- anak.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Memahami Perbedaan Cross Learning dan Cross Teaching

14 Mei 2024   12:35 Diperbarui: 14 Mei 2024   12:44 344
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kegiatan KKG Gugus Among Siswo sebagai Wadah Implementasi Cross Teaching (Dok. pribadi)

Dalam dunia pendidikan, terdapat dua istilah yang sering kali digunakan secara bergantian, yakni cross learning dan cross teaching. Meskipun keduanya melibatkan proses berbagi pengetahuan dan pengalaman, namun terdapat perbedaan yang penting untuk dipahami.

Cross Learning
Cross learning mengacu pada proses pembelajaran di mana siswa belajar dari siswa lain, baik di dalam atau di luar kelas. Dalam konteks ini, siswa bertindak sebagai sumber belajar satu sama lain, berbagi pengetahuan, keterampilan, dan perspektif melalui diskusi, presentasi, atau aktivitas kolaboratif lainnya.

Beberapa manfaat dari cross learning antara lain:
1. Meningkatkan pemahaman konsep melalui penjelasan dan diskusi dengan teman sebaya.
2. Mengembangkan keterampilan komunikasi dan kepemimpinan.
3. Memupuk rasa percaya diri dan tanggung jawab dalam proses belajar.
4. Mempromosikan pembelajaran aktif dan kolaboratif.

Cross Teaching
Sementara itu, cross teaching mengacu pada proses di mana guru-guru berbagi pengetahuan, strategi pengajaran, dan praktik terbaik satu sama lain. Dalam konteks ini, guru-guru saling belajar dari pengalaman dan keahlian masing-masing dalam rangka meningkatkan kualitas pengajaran.

Beberapa manfaat dari cross teaching antara lain:
1. Memperluas wawasan dan keterampilan mengajar melalui berbagi pengetahuan dengan rekan-rekan guru.
2. Mempromosikan kolaborasi dan kerja sama tim di antara guru-guru.
3. Menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan profesional dan pembelajaran berkelanjutan bagi guru.
4. Meningkatkan kualitas pengajaran dan hasil belajar siswa melalui implementasi praktik terbaik.

Perbedaan Utama
Perbedaan utama antara cross learning dan cross teaching terletak pada subjek yang terlibat dalam proses berbagi pengetahuan dan pengalaman. Dalam cross learning, siswa berperan sebagai sumber belajar bagi siswa lain, sedangkan dalam cross teaching, guru-guru berbagi pengetahuan dan strategi pengajaran dengan rekan-rekan guru lainnya.

Meskipun memiliki perbedaan, kedua konsep ini saling melengkapi dalam menciptakan lingkungan belajar yang dinamis, kolaboratif, dan mendukung pertumbuhan baik bagi siswa maupun guru. Dengan mengintegrasikan cross learning dan cross teaching, sekolah dapat mempromosikan pembelajaran aktif, pertukaran pengetahuan, dan pengembangan profesional yang berkelanjutan, sehingga meningkatkan kualitas pendidikan secara keseluruhan.

Baik cross learning maupun cross teaching merupakan pendekatan yang berpusat pada siswa dan guru, serta menekankan pentingnya kolaborasi, berbagi pengetahuan, dan pembelajaran berkelanjutan. Dengan memahami perbedaan dan manfaat dari kedua konsep ini, sekolah dapat merancang dan mengimplementasikan strategi yang tepat untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan berkualitas tinggi.

Berikut adalah contoh pelaksanaan cross teaching (CT) dan cross learning (CL) di lingkungan sekolah dasar:

Contoh Pelaksanaan Cross Teaching (CT) di Sekolah Dasar:

1. Kelompok Kerja Guru Kelas
Guru-guru kelas di sekolah dasar dapat membentuk kelompok kerja berdasarkan tingkatan kelas yang mereka ampu, seperti kelompok guru kelas 1-3 dan kelompok guru kelas 4-6. Dalam pertemuan rutin kelompok kerja ini, guru-guru dapat berbagi strategi pembelajaran yang efektif, teknik manajemen kelas, atau cara mengatasi masalah yang dihadapi siswa dalam proses belajar.

Misalnya, seorang guru kelas 2 yang berhasil menggunakan metode bermain peran untuk mengajarkan konsep pembagian, dapat membagikan pengalamannya kepada rekan-rekan guru lain di kelompok kerja. Guru tersebut dapat menjelaskan langkah-langkah, alat peraga, dan aktivitas yang digunakan dalam metode ini.

2. Kunjungan Kelas Antar Guru
Sekolah dapat mengatur jadwal kunjungan kelas di mana guru-guru dapat mengamati rekan-rekan mereka mengajar di kelas. Setelah kunjungan, guru-guru dapat berdiskusi, memberikan umpan balik, dan berbagi strategi atau teknik pengajaran yang mereka amati.

Misalnya, seorang guru kelas 5 yang terampil dalam mengelola kelas dengan siswa yang aktif dapat mengundang rekan-rekan guru lain untuk mengamati cara beliau menerapkan teknik manajemen kelas tersebut.

Contoh Pelaksanaan Cross Learning (CL) di Sekolah Dasar:

1. Proyek Kelompok Lintas Kelas
Sekolah dapat menginisiasi proyek kolaboratif yang melibatkan siswa dari kelas yang berbeda. Misalnya, dalam proyek tentang lingkungan hidup, siswa kelas 3 dapat mempelajari tentang daur ulang, sementara siswa kelas 5 mempelajari tentang pengelolaan sampah. Kemudian, siswa dari kedua kelas ini dapat berbagi pengetahuan dan informasi yang mereka pelajari melalui presentasi atau diskusi kelompok.

2. Buddy Reading (Teman Membaca)
Program buddy reading dapat dilakukan dengan menggabungkan siswa kelas rendah dengan siswa kelas tinggi. Siswa kelas tinggi dapat berperan sebagai mentor dan membantu siswa kelas rendah dalam kegiatan membaca, seperti membacakan buku atau mendiskusikan isi cerita. Siswa kelas rendah dapat belajar dari penjelasan dan bantuan yang diberikan oleh teman-teman mereka yang lebih tua.

3. Peer Tutoring (Tutor Sebaya)
Dalam peer tutoring, siswa yang memiliki kemampuan lebih dalam suatu mata pelajaran dapat berperan sebagai tutor bagi teman-teman mereka yang mengalami kesulitan. Misalnya, seorang siswa kelas 4 yang mahir dalam operasi perkalian dapat membantu siswa kelas 3 yang masih belajar perkalian melalui sesi bimbingan atau penjelasan antar teman.

Baik cross teaching maupun cross learning dapat diterapkan di lingkungan sekolah dasar dengan menyesuaikan kegiatan dan materinya dengan usia dan tingkat perkembangan siswa. Pendekatan ini membantu menciptakan lingkungan belajar yang kolaboratif, di mana guru dan siswa saling belajar, berbagi pengetahuan, dan mendukung pertumbuhan satu sama lain.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun