Mentari pagi beranjak tinggi. Sedari tadi asyik video call dengan Mamahku tercinta. Kangen sudah lama tak bersua. Sebentar lagi bulan Ramadhan tiba, biasanya aku silaturahim berjumpa keluarga.Â
Hari ahad yang cerah. Akhir pekan ini aku dan suami ingin gowes tipis di Gelora Bung Karno dan sekitarnya. Berikhtiar agar senantiasa sehat. Tepat pukul 9 kami sampai di parkiran. Duuuhhh ... Sepertinya kesiangan ini ? He3 ... Tak apalah yang penting semangat!Â
Kami berkeliling satu putaran di lingkar luar GBK, lanjut menuju arah Bunderan Hotel Indonesia, melewati kolong jembatan Semanggi. Sepanjang jalan Sudirman, sudah ada jalur khusus sepeda permanen. Warna hijau menjadi penanda jalur khusus tersebut. Trotoar juga ada jalur sepedanya. Aku memilih melintas di trotoar karena mengayuh sepeda pelan-pelan saja.Â
Konsep penataan trotoar yang dikerjakan mulai tahun 2018 kini telah terwujud dengan baik. Lebar trotoar yang memungkinkan adanya jalur sepeda dan pejalan kaki yang nyaman. Pepohonan juga diupayakan maksimal ada di titik tertentu menjadikan suasana lebih segar dan adem. Penanda khusus berupa ubin berwarna kuning (guiding block) untuk penyandang disabilitas telah dibuat sepanjang koridor mulai Patung Pemuda Senayan hingga Patung Kuda.
Kali ini aku gowes merangkap menjadi fotomodel ha3 ... Setiap ada spot menarik, suamiku berhenti dan memotret dengan kamera ponselnya. Ya ... Pasrah saja deh! Aku juga senang ternyata hasil jepretan suami bisa mewakili  indahnya pusat kota Jakarta.Â
Aku mencoba berputar di jembatan Dukuh Atas dekat stasiun kereta. Suasananya bersih dan tertata dengan apik. Jalur untuk kursi roda dibuat agar memudahkan pemakainya bila ingin melintasi.Â
Di sudut kanan terowongan terdapat ruang baca Jakarta, yang sayangnya saat sedang pandemi ditutup sementara. Dinding diberi hiasan gambar mural yang cantik. Hingga di sisi jalan yang lain aku melihat sekelompok anak muda sedang asyik bermain skateboard dengan riang.Â
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyediakan ruang publik seperti arena bermain skeatboard, taman hutan kota, tempat duduk di titik tertentu, jembatan penyebrangan orang (JPO), trotoar yang nyaman, dan fasilitas untuk penyandang disabilitas. Maju kotanya bahagia warganya.
Tugas sebagai warga adalah menjaga kebersihan, keindahan, ketertiban, dan keamanan dengan membuang sampah pada tempatnya. Tidak mencoret-coret fasilitas yang ada, tidak mengganggu kenyamanan sesama pengguna fasilitas publik, juga mematuhi peraturan yang ada. Oya ... Bersepeda juga harus menjalan etika ya ... Agar diri sendiri selamat dan juga menjaga keselamatan orang lain.
Aku berpose di depan gedung karya Paul Rudolph, arsitek asal Amerika. Desain gedung ini sering menjadi pembahasan menarik saat kuliah di Arsitektur ITB. Atap miring menjadi simbol arsitekrut tropis, sedangkan atrium terbuka dibuat untuk memaksimalkan sirkulasi udara alami.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI