Semenjak gedung pertunjukan Wayang Orang Bharata usai direnovasi pada tahun 2023, para seniman yang bergabung dalam Wayang Orang Bharata mulai rutin mengadakan pementasan. Apalagi menjelang hari jadi Wayang Orang (WO) Bharata ke-52 yang jatuh pada 5 Juli 2024. Tadi malam (11/5), aku beruntung menjadi salah satu penonton pementasan wayang orang berjudul Sengkuni Gugur.
Sekitar pukul. 19.30 WIB, gedung pertunjukan WO Bharata mulai ramai oleh pengunjung. Pengunjungnya dari berbagai generasi, dari yang tua, dewasa, remaja, hingga yang masih anak-anak. Bangku-bangku penonton mulai penuh terisi menjelang pementasan yang dimulai pukul 20.00 WIB.
Dalam pementasan ini penonton diajak mengenal sosok Sengkuni saat masih dikenal dengan nama Haryo Suman. Ia masih seorang pemuda yang sehat dengan wajah yang lumayan tampan.Â
Ia dan saudarinya, Dewi Gandari, diceritakan mulai memutuskan untuk membuat Pandu dan keturunannya bernasib sengsara karena Destarata memilih Dewi Gandari sebagai istrinya. Dewi Gandari sakit hati karena ia ingin diperistri Pandu, sementara Haryo Sukman berharap Dewi Kunti jadi istrinya.
Mulailah satu demi satu siasat licik diluncurkan oleh Haryo Suman. Ialah buang keladi sejumlah kemalangan Pandu dan keturunannya. Ia tak kapok meski tubuh dan wajahnya dibuat cacat oleh mantan patih Astina, Gandamana, yang difitnah olehnya.
Dialog sebagian besar dibawakan dalam bahasa Jawa krama inggil, kecuali bagian goro-goro yang disampaikan dalam Jawa ngoko. Bagian goro-goro ini menjadi penyegar dan penurun tensi ketegangan. Bagong, Gareng, dan Petruk membuat penonton tertawa dengan banyolannya.
Namun sayangnya durasi bagian goro-goro ini kepanjangan. Aku mulai bosan karena gurauannya diulang-ulang dan jarum jam sudah melebihi pukul 22.00 WIB. Selain itu tensi ketegangan yang telah terbangun jadi turun sedemikian rupa sehingga mood menonton pun mulai menurun.
Tapi untunglah cerita langsung berlanjut ke adegan yang epik di mana Eyang Semar dan Kresna hadir memberikan wejangan ke Pandawa tentang pemilihan panglima perang untuk menghadapi Sengkuni.Â
Sengkuni meskipun kesaktiannya di bawah Pandawa, namun memiliki ilmu kebal karena pernah membalurkan minyak tala, warisan Pandu, ke seluruh tubuhnya.
Menurutku bagian ini salah satu yang epik dan haru. Demikian juga adegan ketika Werkudoro alias Bima dengan berani beradu kesaktian dengan Sengkuni.
Pemeran Sengkuni salah satu yang kuberikan aplaus meriah. Ada dua pemeran Sengkuni, Sengkuni muda dan Sengkuni tua. Bagian transformasi Haryo Suman yang tampan beralih ke Sengkuni yang buruk rupa nampak meyakinkan. Pemeran Sengkuni tua juga memberikan performa yang apik. Ia lincah dan tangkas bertarung dengan Bima, dengan koreografi yang apik.
Setiap penampil di sini berakting dan menari dengan luwes. Make up dan kostumnya pas, sehingga ketika melihat desain kostum dan aksesorinya penonton langsung tahu tokoh yang diperankan.
Tata panggung dan tata pencahayaan juga pas. Transisi ketika berganti latar tempat dan waktu juga halus. Aku paling suka ketika pemeran Sengkuni muda dan tua berdiri dengan posisi bertolak belakang dan kemudian berjalan memutar dengan posisi Sengkuni tua kini menghadap ke depan penonton. Sehingga penonton paham bahwa cerita berjalan sekian tahun kemudian.
Wah aku jadi ingin suatu saat nonton lagi pertunjukan wayang orang. Salam budaya!
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI