Hal ini diperparah dengan kehadiran tikus. Mungkin tikus itu terbawa ketika bersembunyi di peti-peti dan karung makanan ketika mereka berlayar ke pulau ini. Tikus itu beranak pinak dan bisa jadi menyantap benih pohon palem sehingga pohon pun tak bisa lagi tumbuh.
Kondisi ini diduga diperparah dengan habisnya burung laut yang diburu penduduk. Kotoran burung laut itu membantu menyuburkan tanah. Ketika burung laut ludes maka tanah pun kehilangan sumber nutrisinya.
Tak ada lagi pepohonan. Hal itu pun menjadi awal tragedi. Tanpa pohon maka ada banyak hal yang bisa terjadi.
Alam rusak dan sumber daya alam pun menipis. Maka yang terjadi terjadi kekacauan. Para warga berebut sumber daya, baik makanan maupun air tawar. Kontak fisik tak bisa lagi dihindari.
Teori-teori berikutnya yang membuat peradaban pulau ini punah makin mengerikan. Teori ini didapat dari hasil investigasi dan eksplorasi di gua labirin dan berbagai temuan di pulau tersebut.
Kalian bisa menyaksikannya sendiri di film dokumenter tersebut. Betapa mengerikannya hal-hal yang mengiringi ketika manusia dengan serakah membabat habis pepohonan untuk memenuhi nafsu. Mereka lupa dengan alam yang memberikan sumber daya dan pengayoman dengan tulus.
Film dokumenter tentang Pulau Paskah ini bisa menjadi sebuah peringatan bahwa manusia sebaiknya hidup berdampingan dengan alam. Jangan serakah menghabiskan sumber daya alam tanpa upaya memperbaruinya. Juga jangan membabat habis pepohonan karena suatu ketika manusialah yang akan menderita akibat perbuatannya yang semena-mena kepada alam.
Beberapa pulau di Indonesia telah mengalami penggundulan hutan besar-besaran. Jangan sampai cerita tragis yang terjadi di Pulau Paskah juga menimpa penduduk pulau negeri tercinta.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H