Mohon tunggu...
Dewi Puspasari
Dewi Puspasari Mohon Tunggu... Konsultan - Penulis dan Konsultan TI

Suka baca, dengar musik rock/klasik, dan nonton film unik. Juga nulis di blog: https://dewipuspasari.net; www.keblingerbuku.com; dan www.pustakakulinerku.com

Selanjutnya

Tutup

Film Artikel Utama

Retno Ratih Damayanti, Sineas Perempuan Langganan Piala Citra

8 Maret 2020   21:11 Diperbarui: 9 Maret 2020   03:10 722
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Mba Eno atau Mba Nok, sapaan akrab Retno Ratih Damayanti yang telah empat kali meraih piala citra (gambar: pesona.co.id)


Nama Retno Ratih Damayanti di mata publik mungkin belum banyak dikenal. Tapi di kalangan pecinta dan pengamat film Indonesia, ia sosok yang disegani. Perempuan lulusan Sastra Perancis UGM ini langganan piala Citra. Ia telah berhasil mengoleksi empat piala Citra untuk kategori Penata Busana Terbaik.

Pertemuanku dengan Retno Ratih Damayanti yang akrab disapa mbak Nok atau mbak Eno, difasilitasi oleh sebuah workshop perfilman Kineforum yang hari itu khusus membahas tentang wardrobe (kostum). Kusangka ia akan tampil glamour atau chic dalam membawakan kelas ini. Tapi ia lebih memilih tampil kasual dan sederhana. Apa adanya.

Ia membawakan materi tentang kostum dengan runtut dan menarik. Semua materi berasal dari pengetahuan dan pengalamannya di lapangan. Ia juga memberikan contoh kasus yang pernah dialaminya selama proses pra dan produksi perfilman. 

Di antaranya sulitnya menemukan bahan, warna, dan corak seperti kostum pada masa abad ke-16, bagaimana menyiasati desain kostum dengan bujet terbatas, dan sebagainya.

Kostum memang memberikan peranan penting dalam sebuah film. Ia menunjukkan karakter seorang tokoh, sekaligus memberikan petunjuk tentang latar waktu, tempat, strata sosial, dan sebagainya. Namun, meski kostum itu penting, lanjut Retno, jangan sampai kostum lebih menonjol daripada karakternya.

Bermain-main dan berkarir dengan kostum dulu tak terpikir di benaknya. Ia tak memiliki landasan penata busana, penjahit, ataupun perancang busana, malah ia lulusan sastra.

Wanita kelahiran 19 April 1972 ini mempelajarinya secara autodidak. Diawali dengan minatnya di bidang teater, juga hobinya menyaksikan film dan memerhatikan kostum. 

Berkat pengalamannya di teater tersebut, meski latar ilmunya berbeda, ia terpilih menjadi pengajar di Institus Seni Indonesia. Ia sempat menjadi dosen tata rias dan busana di ISI.

Ketika terlibat dalam pengurusan kostum teater, ia melihat bahwa untuk merancang sebuah kostum pemain, ia perlu memperhatikan gerakan para pemain tersebut. 

Ia perlu mengikuti latihan pertunjukan tersebut. Karena bisa saja seorang pemain teater akan kesulitan bergerak apabila bajunya terlalu ngepas di badan.

Mba Eno dengan sabar menjawab berbagai pertanyaan soal menata busana (sumber: kineforum)
Mba Eno dengan sabar menjawab berbagai pertanyaan soal menata busana (sumber: kineforum)

Dari pengalamannya mengurusi kostum di bidang teater, ia kemudian terlibat dalam desain tata busana di perfilman. Sutradara film yang sering terlibat dengannya di antara Garin Nugroho dan Hanung Bramantyo. Ia memulainya dari "Opera Jawa" yang dibesut Garin pada tahun 2006.

Perempuan berambut ikal ini kemudian memiliki berfokus di periodik sejarah. Alasannya, selain lebih menantang, mendesain busana untuk film periodik memerlukan riset tersendiri. 

Ia mencontohkan film " Sultan Agung" dan "Bumi Manusia" yang memerlukan riset tentang bahan dan model busana masa itu. Berkat ketelatenannya melakukan riset, ia memiliki data busana Indonesia sejak tahun 1800-an.

Tak terasa ia sudah melakoni pekerjaan ini selama belasan tahun. Ia telah terlibat dalam lebih dari 50 proyek film. Pekerjaan ini dulu kurang diapresiasi. 

Penghargaan ini baru muncul pada Festival Film Indonesia pada tahun 2013. Sejak itu nama Retno hampir selalu muncul sebagai nominasi dan pemenang di kategori penata busana. 

Ia juga mendapatkan nominasi di kategori penata rias. Hingga saat ini ia telah mengumpulkan tujuh nominasi dan empat piala citra untuk kategori penata busana dari "Habibie dan Ainun", "Soekarno", "Guru Bangsa Tjokroaminoto", dan "Kucumbu Tubuh Indahku".

Apa rencana berikutnya? Selain tetap aktif berkiprah di bidang tata busana, baik terlibat dalam film ataupun mengajar di kelas, ia pun tertarik untuk kembali membuka pameran.

Sebelumnya ia sukses menggelar pameran kostum dengan judul Sejarah Tidak Pernah Telanjang. Maksud dari pameran busana ini, dengan memerhatikan kostum seseorang akan dapat mengetahui periode sejarah, kasta sosial, ideologi, dan sebagainya. Pameran ini diadakan di Sangkring Art Space, Nitiprayan pada tahun 2018 dengan menghadirkan kostum yang digunakan di film dengan latar tahun 1900 dan 2000.

Ia juga punya cita-cita suatu ketika membuat studio kostum semacam museum kostum berdasarkan serial tokoh Indonesia. Ia juga berencana untuk menyusun buku tentang sejarah kostum di Indonesia.

Sejarah Tak Pernah Telanjang menampilkan karya busana Retno Ratih (sumber: gudeg.net)
Sejarah Tak Pernah Telanjang menampilkan karya busana Retno Ratih (sumber: gudeg.net)

Tertarik untuk bergelut di bidang tata busana? Ibu yang ramah dan murah senyum ini memberikan tips sebagai berikut, ilmu menjahit atau mendesain akan membantu tapi bukan landasan utama. 

Yang terpenting ia punya kepekaan tersendiri tentang visual dan fesyen, juga kaya imajinasi. Berikutnya, ia suka melakukan riset, melihat gambar dan pustaka. Dan yang terakhir, ia menyukai film. Setidaknya tontonlah satu film satu hari dan perhatikan kostum yang dikenakan para pemainnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun