Membahas Subkultur
Melalui sedikit gambaran di atas, subkultur dapat dikatakan sebagai budaya yang mempunyai nilai-nilai berbeda atau bahkan bertentangan dari budaya induk atau dominan.Â
Gordon (dalam Wilujeng, 2017), menyatakan bahwa Subkultur merupakan bagian dari kebudayaan umum, yang terdiri dari situasi sosial seperti latar belakang etnis, tempat tinggal, status kelas, agama, yang menyatukan masing-masing individu.Â
Pada umumnya, subkultur merupakan sebuah cara untuk memperlihatkan eksistensi kelompok budaya yang pada dasarnya berbeda bahkan menyimpang dari budaya dominan. Terkadang dikaitkan pula dengan perlawanan dan pertentangan.
Salah satu contoh subkultur adalah klub motor. Awal mulanya, klub motor terbentuk karena adanya kesamaan pada pemilik motor dengan merek tertentu dan kemudian sering berkumpul dan membentuk budaya baru (subkultur), misalnya sesama pengguna motor Suzuki atau lainnya. Namun, seiring waktu berjalan, geng motor kerap diidentikkan dengan aksi anarkis yang dilakukan oleh anak remaja.
Beberapa alasan anak remaja yang bergabung dengan geng motor adalah untuk mencari identitas diri yang diekspresikan melalui tingkah laku, gaya bahasa, dan gaya berpakaian yang berlawanan dengan budaya universalnya yaitu norma berperilaku, norma kesopanan dan sebagainya (Irmayani, 2018).
Namun, seperti judul dari Artikel ini, kita akan membahas klub motor di Bandung yang cukup berbeda dari geng motor pada umumnya. Klub motor yang bernama SSMC (Suzuki Satria M150 Club) ini mempunyai tujuan untuk memperbaiki stigma negatif dalam masyarakat serta mengajak masyarakat untuk berpikiran terbuka terhadap kata geng motor dengan melakukan kegiatan positif seperti bakti sosial, sosialisasi dan pelatihan keselamatan berkendara.
Hubungan dengan Politik Identitas
Sebuah budaya dikatakan sebagai politik identitas jika terdapat ideologi untuk memanipulasi perbedaan dengan tujuan tertentu misalnya kekuasaan (Anam, 2019)
Politik identitas dalam kasus ini dapat dilihat dari bagaimana klub SSMC menunjukkan eksistensinya.
Untuk meraih eksistensi yang jelas dimata masyarakat, klub SSMC ini secara rutin akan nongkrong di bawah flyover Jalan Cikapayang. Hal ini secara langsung ataupun tidak, akan membentuk 'identitas' bahwa ruang tersebut identik dengan klub SSMC dan akan menumbuhkan visibilitas mereka dimata masyarakat.