"Biasakan buat nolong, bantu, berbuat baik sama orang lain, karena kita ga bakal tahu kebaikan mana yang akan nolong kita nantinya." Kurang lebih itu kata-kata mutiara dari bapak yang selalu terngiang. Ada juga kata bijak lainnya yang kudapat dari Ibu, "Tetaplah berbuat baik sekalipun orang itu tak sebaik itu ke kamu."Â
Bapak dan Ibu selalu memberi petuah baik secara langsung dan tidak langsung. Diam-diam kebijaksanaan mereka lah yang membuatku termotivasi ingin menjadi lebih baik lagi.Â
Sebenarnya jujur saja kalau orang lain menyuruhku untuk menceritakan tentang bagimana orang tuaku, ataupun hanya sekedar menuliskannya, aku akan menjadi orang yang bingung.Â
Bukan karena apa-apa, tapi terlalu banyak hal yang ingin ku-narasikan. Ya sudahlah ya, izinkan jemari anak pertama dari Ibu dan Bapak ini menuliskan sedikit kisah curhatnya tentang sosok orang tua yang amat disayanginya.
Memulai hari dari pagi ke pagi dengan label sebagai orang tua dari anak-anaknya, Â Bapak yang selalu mengantarkan aku dan adik ke sekolah lalu berangkat kerja. Sedangkan ibu tetap tinggal di rumah mengurusi pekerjaan rumah ataupun terkadang juga menemani eyang.Â
Bagiku Bapak dan Ibu adalah orang yang tak kenal lelah dan penuh kasih untuk anak-anaknya. Bapak sebagai sosok pekerja keras dan bertanggung jawab, hal itu tak akan lepas dari pikiranku jika ada yang menanyakan bagaimana sosok ayah di mataku. Sedangkan Ibu menjadi orang yang penuh dedikasi dengan kasih sayangnya selalu available kalau istilah inggrisnya.
Cerita dimulai dari sosok ayah yang kupanggil Bapak, dimana beliau benar-benar tak pernah menyerah untuk bertanggung jawab dan menafkahi keluarganya.Â
Sejak aku kecil aku selalu melihat Bapak berganti-ganti pekerjaan, bahkan aku sangat kagum beliau pernah mencoba berbagai hal dalam hidupnya. Mulai dari menjadi sales rokok, penggiling plastik, penjual bahan kimia, mandor, sopir taksi, hingga tak jarang pula bapak merintis berbagai usaha.Â
Usaha yang dibangun beliau mulai dari ternak lele, produksi bumbu pecel, jual krupuk, dan rasanya masih banyak lagi yang belum disebutkan. Bisa jadi juga masih banyak pekerjaan Bapak lainnya yang belum pernah aku ketahui sebelumnya. Beliau benar-benar orang yang pantang menyerah.
Bapak juga selalu bisa menjadi kawan cerita dan diskusi yang seru bagi anak-anaknya. Terlebih jika Bapak dan aku sudah membicarakan suatu hal yang mana kita sama-sama tertariknya, seperti sejarah, ekonomi, hingga teori konspirasi (ketawa dulu yuk).Â
Bahkan yang tak jarang pula kita berdiskusi dengan mempertahankan persepsi atau opini masing-masing, bisa dibilang sedikit berdebat sih hehe. Tapi tenang saja karena kita tak pernah berdebat hingga terbawa emosi, hanya sampai pada titik bertukar pendapat saja.Â
Terlapas dari itu semua Bapak telah menceritakan berbagai hal dan pemikiran yang membuka pengetahuanku lebih luas lagi. Mulai dari hal sederhana tentang apa itu hidup, hingga hal lain seperti bagaimana sejarah berdirinya Kota Malang yang tak diketahui banyak orang.
Seorang ayah yang selalu mampu menjadi penopang bagi anak-anaknya. Selalu setia mendengarkan ocehan anak-anaknya mengenai kisah keseharian mereka yang membosankan.Â
Bapak telah mengajariku banyak hal tentang apa itu kerja keras dan perjuangan. Secara tidak langsung beliau telah menjadi panutanku dalam memperjuangkan mimpi atau cita-cita yang kumiliki. Aku berharap dapat menjadi orang yang gigih selayaknya sikap Bapak yang ingin kutiru.
Berganti pada kisah seorang yang kupanggil Ibu. Tentu saja beliau menjadi orang dengan kasih sayang paling tulus dalam hidupku. Beliau juga lah yang sudah memperjuangkan anaknya sejak masih mengandung. Ibu telah memilih menjadi ibu rumah tangga, terlepas dari kemampuan beliau yang sebenernya juga sangat mampu untuk bekerja.Â
Sejak aku masih kecil, aku selalu mengenal ibuku sebagai orang yang kuat dan tegas, tetapi juga orang yang penyayang. Â Aku selalu kagum pada bagaimana Ibu bisa menangani banyak hal sekaligus, mulai dari mengurusi anak-anaknya, memasak untuk keluarga, hingga berjualan. Saat aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar, tak jarang aku menemui ibuku membawa dagangannya setiap kali menjemputku ke sekolah.
Ibu juga senang berbisnis ataupun berjualan. Bahkan saat aku duduk di bangku SMP beliau  mulai mengajariku untuk berjualan. Selain itu aku juga sangat tertarik pada hal tersebut, dimana kemudian aku dan ibu pun sering membuat makanan atau semacamnya untuk dijual. Ibuku yang ku kenali merupakan sosok wanita yang baik hati dan ramah pada semua orang. Beliau tak pernah segan untuk menolong orang lain demi kebaikan mereka. Meskipun jujur saja, seperti emak-emak pada umumnya yang suka mengomeli anaknya, tetapi satu hal yang kutahu pasti Ibu hanya ingin anaknya menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Hal yang selalu kupelajari dari Ibu adalah mengenai kesabaran, kekuatan, serta kebaikan. Misalnya saja saat semua orang di rumah mengalami kondisi badan yang kurang sehat, Ibu selalu siap siaga. Ibu sangat jarang menunjukkan rasa sakit yang beliau rasakan. Beliau selalu mampu menjalankan tigad dengan baim. Â Selalu menjadi penghangat dalam suasana rumah, menjadikan beliau sebagai wanita terkuat dalam kacamataku sendiri. Ibu telah menjadi panutanku dalam menjadi seorang perempuan, tepatnya aku ingin dapat memiliki sifat-sifat baik yang dimiliki oleh Ibu.

Ibu dan Bapak selalu tegas dalam hal mendidik anaknya, baik pendidikan moral ataupun pendidikan yan lain-lainnya. Meskipun begitu Bapak dan Ibu memang tak pernah memaksaku untuk menjadi siswa terbaik di kelas, ataupun hal semacamnya. Tetapi mereka telah menjadi inspirasiku untuk terus berkembang menjadi lebih baik lagi hingga bisa membahagiakan mereka suatu hari nanti.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI