Mohon tunggu...
Deviatul Indah Pramadhani
Deviatul Indah Pramadhani Mohon Tunggu... Mahasiswa - Universitas Jember

Mathematics 4lyfe

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Desa Damai dengan Beribu Potensi: KKN 23 Desa Jampit Gali Potensi Desa lewat Observasi dan Wawancara

3 Agustus 2023   08:29 Diperbarui: 3 Agustus 2023   16:37 392
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Mahasiswa KKN 23 berfoto bersama saat penerjunan KKN pada Rabu (12/07/2023) pagi, bertempat di depan gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP)

Jampit, Bondowoso -- Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) reguler dari Universitas Jember pada tahun ini mengusung jenis KKN Tematik. KKN jenis ini menggabungkan para mahasiswa dari berbagai program studi yang kemudian memiliki fokus yang lebih spesifik dan terstruktur. Fokus utama  KKN Universitas Jember tahun ini adalah pada Unej Membangun Desa (UMD) sebagai konsepnya. Tujuan dari metode Kuliah Kerja Nyata Tematik ini adalah  untuk menumbuhkan rasa empati dan kepedulian terhadap masalah-masalah yang terjadi di masyarakat, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Penempatan KKN Tematik UMD Universitas Jember tersebar di empat kabupaten, yakni Bondowoso, Situbondo, Jember dan Lumajang. Akan tetapi, untuk penempatan di Kabupaten Jember mahasiswa dari Universitas Jember akan berkolaborasi dengan beberapa perguruan tinggi di Kabupaten Jember. Sementara mahasiswa yang ditempatkan di wilayah Tapal Kuda alias Kabupaten Bondowoso, Situbondo dan Lumajang diterjunkan ke 202 desa dengan masing-masing desa akan dinaungi satu kelompok. Salah satu dari 100 kelompok yang ditempatkan di Kabupaten Bondowoso adalah Kelompok 23.

Koordinator Desa dari Kelompok 23 adalah M. Rosyid Iqbal Haqiqi dari FASILKOM dengan Sekretaris yaitu Deviatul Indah Pramadhani dari FMIPA dan Endang Pertiwi dari FIB sebagai Bendahara. Adapun Sie Agenda dari Kelompok 23 yang beranggotakan Valentino Dimas Adi Nugroho dan Wiwin Widyawati yang sama-sama dari FIB. Sementara untuk Sie Humas beranggotakan Hafidya Salima dari FISIP dan Wardatul Jannah dari FAPERTA. Untuk Sie Mediatek beranggotakan Biramaya Harsi Maharani dari FASILKOM dan Alfath Royan Santoso dari FAPERTA. Untuk Sie Perkap beranggotakan Christopher Leonardo Andikajaya dari FK, Malika Bulqis dari FAPERTA dan Dwiyen Aditya Prayogi dari FISIP. Dua belas anggota Kelompok 23 ini ditempatkan di Desa Jampit.

Desa Jampit merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Ijen, Kabupaten Bondowoso. Desa Jampit memiliki 3 dusun, yakni Krepekan, Mlaten, dan Jampit. Desa ini berada di ketinggian 1.100 sampai 1.600 mdpl. Jampit termasuk desa yang terletak paling tinggi di antara keenam desa lain di Kecamatan Ijen, sehingga Desa Jampit menjadi desa terdingin sekecamatan Ijen.

Mahasiswa KKN 23 dengan pengurus kecamatan saat observasi awal bertempat di Kantor Kecamatan, pada Jum'at (07/07/2023) siang / dokpri
Mahasiswa KKN 23 dengan pengurus kecamatan saat observasi awal bertempat di Kantor Kecamatan, pada Jum'at (07/07/2023) siang / dokpri

Mahasiswa KKN 23 menyerahkan surat Pemberitahuan Penerjunan Mahasiswa KKN Periode II TA 2022/2023 UNEJ kepada Agus (Sekretaris Kecamatan)  dokpri
Mahasiswa KKN 23 menyerahkan surat Pemberitahuan Penerjunan Mahasiswa KKN Periode II TA 2022/2023 UNEJ kepada Agus (Sekretaris Kecamatan)  dokpri

"Kalau di Ijen 12°, di Jampit bisa sampai 9°. Puncaknya dingin itu bulan Juli sampai September," ungkap Agus, sekretaris kecamatan saat ditemui oleh kelompok KKN 23 pada Jum'at (07/07/2023) lalu.

Mahasiswa KKN 23 berfoto bersama di depan Masjid Al Barokah (Dusun Krepekan, Desa Jampit), pada Jum'at (07/07/2023) sore  / dokpri
Mahasiswa KKN 23 berfoto bersama di depan Masjid Al Barokah (Dusun Krepekan, Desa Jampit), pada Jum'at (07/07/2023) sore  / dokpri

Desa Jampit terletak jauh dari hiruk pikuk perkotaan, sehingga desa ini belum banyak terjamah oleh khalayak umum. Padahal Desa Jampit memiliki berbagai potensi yang indah dan menawan. Berdasarkan wawancara dan observasi, kelompok KKN 23 berhasil menggali berbagai potensi Desa Jampit dengan harapan bisa memperkenalkan desa ini kepada orang-orang di luar sana. Potensi-potensi tersebut diantaranya:

 1. Potensi Sumber Daya Alam

 

Dokumentasi kebun di Desa Jampit, diambil oleh Mahasiswa KKN 23 pada Senin (17/07/2023) siang / dokpri
Dokumentasi kebun di Desa Jampit, diambil oleh Mahasiswa KKN 23 pada Senin (17/07/2023) siang / dokpri

Kecamatan Ijen, termasuk Desa Jampit menempati tanah milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) dan Perusahaan Umum Kehutanan Negara (Perhutani). Hal tersebut mengakibatkan sebagian besar wilayah Desa Jampit adalah wilayah perkebunan. Mayoritas hasil perkebunannya adalah kopi. Luas perkebunan kopi yang dikelola oleh PTPN XII di Desa Jampit sekitar 1.600 Ha.

Tak hanya itu, ada juga berbagai hasil ladang masyarakat Desa Jampit seperti kentang, kubis, bawang prei dan wortel. Pemasaran hasil ladang tersebut kebanyakan akan diserahkan kepada pengepul setelah panen. Ada juga yang sudah kontrak dengan mitra, seperti kentang putih yang dikontrak dengan pihak PT Indofood Sukses Makmur.  Sementara itu, ada potensi hasil hutan berupa tanaman sengon yang dapat ditemui di sepanjang kebun di Desa Jampit.

 2. Potensi Sumber Daya Manusia

Christopher Leonardo mengamati masyarakat Desa Jampit yang bekerja sebagai buruh kopi, bertempat di kebun Desa Jampit pada Senin (17/07/2023) siang / dokpri
Christopher Leonardo mengamati masyarakat Desa Jampit yang bekerja sebagai buruh kopi, bertempat di kebun Desa Jampit pada Senin (17/07/2023) siang / dokpri

Oleh karena tanah yang ditempati masyarakat Desa Jampit semuanya milik PTPN dan Perhutani, maka mayoritas masyarakat Desa Jampit bekerja di kebun. Umumnya, masyarakat bekerja sebagai buruh kopi yang dikelola oleh PTPN XII. Selain buruh kopi, masyarakat juga bekerja sebagai petani kentang dan kubis.

Mahasiswa KKN 23 bersama dengan petani kentang, bertempat di Rumah Petani Kentang pada Senin (17/07/2023) sore / dokpri
Mahasiswa KKN 23 bersama dengan petani kentang, bertempat di Rumah Petani Kentang pada Senin (17/07/2023) sore / dokpri

"Masyarakat sudah beraktivitas mulai pukul 5 pagi (untuk absen bekerja), bulan-bulan ini musim panen jadi selesai bekerja sore sekitar jam 3 sampai 4," tutur Agus. Hal itu mengakibatkan kegiatan lainnya akan lebih efektif jika dilaksanakan pada sore sampai malam hari. Desa Jampit menjadi desa yang damai karena masyarakat disibukkan dengan pekerjaannya masing-masing. Desa ini pun juga sangat aman, tidak perlu takut ada pencuri.

Adapun pekerjaan lain masyarakat Desa Jampit, contohnya menjadi peternak. Hewan ternak yang dipelihara mayoritas adalah kambing dan sapi. Akan tetapi, menjadi peternak hanyalah pekerjaan sampingan. Pekerjaan utama masyarakat Desa Jampit tetaplah bekerja di kebun.

"Kalau peternak, kebanyakan orang-orang melihara kambing, minimal 30 sampai 40 ekor," ujar Hendra, Kepala Dusun Krepekan I yang juga ditemui oleh kelompok KKN 23 pada Jum'at (07/07/2023) lalu. Sekedar informasi, masing-masing dusun di Desa  Jampit memiliki dua kepala dusun. Sehingga, total kepala dusun di Desa Jampit sejumlah 6 orang.

3. Potensi Pariwisata

Dokumentasi Bukit Jabal Kirmit, diambil oleh Mahasiswa KKN 23 pada Senin (17/07/2023) siang / dokpri
Dokumentasi Bukit Jabal Kirmit, diambil oleh Mahasiswa KKN 23 pada Senin (17/07/2023) siang / dokpri

Bukit Jabal Kirmit adalah salah satu tempat wisata yang menarik di Desa Jampit. Bukit Jabal Kirmit terletak di kawasan base camp pendakian menuju Kawah Ijen. Bukit ini menawarkan pemandangan indah dengan hamparan rumput hijau yang menawan.  Wisatawan dapat menikmati keindahan perkebunan kopi yang luas dan hijau dari atas bukit. Bukit Jabal Kirmit diharapkan menjadi daya tarik utama wisatawan untuk mengunjungi Desa Jampit.

Dokumentasi Guest House Jampit, diambil oleh Mahasiswa KKN 23 pada Senin (17/07/2023) siang / dokpri
Dokumentasi Guest House Jampit, diambil oleh Mahasiswa KKN 23 pada Senin (17/07/2023) siang / dokpri

Selain Bukit Jabal Kirmit, Desa Jampit memiliki tempat wisata lainnya yaitu Guest House Jampit. Guest House ini terletak di ketinggian 1600 mdpl sejauh 56 kilometer dari pusat Kota Bondowoso.  Guest House ini dimanfaatkan sebagai homestay yang dapat disewa oleh umum dengan harga sewa mulai dari Rp 2.250.000 per unit dengan sarapan gratis. Guest House Jampit dengan dua lantai ini memiliki gaya arsitektur Eropa yang kokoh dan ditonjolkan dengan dominasi kayu bercat hitam. Harga penginapan di Guest House Jampit cukup tinggi karena menawarkan keindahan alam yang menakjubkan dan fasilitas yang lengkap.

Itulah berbagai potensi yang berhasil digali oleh kelompok KKN 23. Tidak menutup kemungkinan masih banyak potensi lain di Desa Jampit yang belum dituliskan disini. Harapannya dengan adanya tulisan ini orang-orang dapat mengenal sekaligus mengagumi indahnya Desa Jampit. Harapannya juga dari pihak kelompok KKN 23 dapat menggali potensi-potensi lain dalam periode waktu 40 hari (12 Juli sampai 21 Agustus) kedepan.

Penulis : Deviatul Indah Pramadhani & Wiwin Widyawati

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun