Begitu si penanya kembali dan menuju rumah di sebelah kita. Yang ada kita hanya tersipu malu.
"Sudah ketemu Pak RT?"
"Sudah. Katanya ini rumah yang saya cari."
"Oalaaah. Maafkan ya? Saya tidak tahu nama aslinya. Cuma tahu nama anaknya."
Hal lain yang kerap terjadi terkait nama asli tetangga kita adalah ketika ingin memberikan kartu undangan.
"Bapak sebelah itu namanya siapa ya? Masa ditulis kepada OPA. Enggak sopan banget?"
"Lha, gimana? Memang enggak tahu namanya. Selama ini orang-orang manggilnya opa, opa gitu aja."
"Ya udah besok tanya dulu sama mbak yang biasa bantu-bantu di rumah si opa. Pasti tahu dia nama asli si opa."
Ada lagi yang lebih parah. Ketika ada berita kematian dan disebutkan bapak atau ibu anu yang meninggal. Kita bingung dan saling tatap? Siapa tuh yang meninggal? Begitu diberitahu nama panggilan sehari-harinya baru kita paham.Â
"Itu, Omanya abang Kaisar yang meninggal."
"Oh, Oma. Itu sih paham orangnya. Yang setiap pagi jalan-jalan sama cucunya. Namanya itu toh.'