Saya bukan pengemar sepak bola, tapi seperti merasakan adanya cinta baru yang menarik-narik hati. Sebetulnya, sejak lama saya dikelilingi orang-orang pecinta bola, pemain bola, bahkan penjual baju dan atribut bola. Dan saya tidak pernah paham seutuhnya tentang dunia bola ini. Isu mafia, judi, politik, kurang perhatiannya Pemerintah, dan lainnya sekadar lewat melalui mata dan telinga, tidak sampai masuk ke dalam pikiran dan hati. Saya berpikir isu-isu tersebut tidak hanya terjadi pada sepak bola Indonesia, tapi juga pada banyak aspek.
7 Januari 2017, adalah hari saya meraba tubuh PSSI dengan kepengurusan barunya. Benak saya sempat terlintas, “Bukannya anggotanya itu-itu saja, ya. Paling, masih berkutat dalam hal yang sama.” Malah sebelumnya, saya bertanya pada seorang teman, “Worth it kah saya meliput PSSI?” Teman saya menjawab, “Justru itu, cari tahu cat apa yang mereka poles dan bagaimana desain renovasi pada tubuhnya. Tidak sekadar mengumumkan perubahan nama klub-klub dan nama pelatih..Haha..”
Akhirnya, saya tidak berharap apa-apa, kerap harapan itu gugur di tengah jalan. Saya membuang pikiran-pikiran negatif terhadap PSSI. Sebab, saya harus ‘bersih’ jika ingin mengenalnya secara dekat.
Geliat pada tanggal 7 Januari, jelang Kongres PSSI 2017, 8 Januari 2017, begitu terasa atmosfirnya di Hotel Aryaduta Bandung. Warga Bandung mungkin tidak merasakan apa-apa atau dampak dari terselenggaranya Kongres PSSI 2017, malah bisa jadi warga negara Indonesia lainnya. Namun, apakah kita tidak ramai berkomentar jika terjadi kemenangan atau kekalahan Timnas Sepak Bola Indonesia? ‘Keramaian’ yang tidak saja tersaja terjadi pada ruang media sosial dan cetak, tapi juga menular di warung-warung kopi sampai pasar-pasar di pelosok Nusantara.

Pelatih merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan atau tidaknya suatu tim sepak bola. Wajar saja, banyak yang mempertanyakan hal ini. Dari banyaknya wawancara dan rancangan maupun pengesahan program, pemberdayaan dan pengembangan menjadi perhatian saya.

“Pembinaan di atas segalanya untuk masa depan sepak bola Indonesia,” ditekankan dalam program saat dibacakan oleh Ade Wellington, Sekjen PBB saat kongres terbuka. Program U15 ini akan dilaksanakan bulan Januari 2017 sekaligus seleksi Timnas untuk bertanding di Thailand. Para pemain muda berbakat dari 34 propinsi akan diseleksi, di-training, dan try out dan putaran finalnya dilakukan di Jakarta. Uji coba (try out) maksimum dilakukan sebanyak 3 kali – uji coba pertama pada bulan Febuari dan Maret dengan target Sea Games. Sedangkan untuk kompetisi Asia, langkah awal PSSI sementara menargetkan mampu bersaing unggul di Asia Tenggara – berharap bisa mengalahkan Filipine dan Thailand.
Hal kedua yang menarik perhatian saya adalah timnas wanita. Beberapa tahun ini saya perhatikan, banyak kaum wanita yang menggilai sepak bola, baik itu menonton, menjadi fans, dan bermain bola. Tidak sedikit dari mereka mencari baju bola yang menempelkan klub kesayangan mereka, sayangnya ini sulit didapatkan. Belum lagi, komentar-komentar kaum wanita di media sosial ketika pertandingan bola (nasional maupun internasional), tidak kalah hebihnya dengan kaum pria penggila sepak bola.
Cerita lain dari itu.
Indonesia sejak lama memiliki Timnas wanita (1975) dan rentang 26 tahun tidak berpartisipasi dalam Kejuaran Piala Asia Wanita AFC. Kemudian, terdengar lagi tahun 2016, Tim Futsal Wanita masuk ke babak final divisi wanita AFF Futsal Club Championship.
Program PSSI dengan pengurusan baru akan melakukan kegiatan rutin persiapan Timnas wanita untuk bulan Juli di Thailand. PSSI juga bakal menggairahkan insan wanita untuk bermain bola, mendorong, dan mengelar kompetisi. Menemukan bibit-bibit pemain wanita di 34 propinsi, sayangnya masih difinalisasi. Kemungkinan melakukan invitasi di beberapa zona:barat, timur, dan tengah, dari tim-tim terbaik yang terseleksi akan di-invite lagi di tingkat 6 besar 18 nasional. Meski target program masih jangkah menengah, PSSI tidak akan menganaktirikan tim sepak bola wanita, malah akan terus didorong sampai mengikuti turnamen luar negeri.
Ade Wellington juga menjelaskan bahwa antusias wanita dalam permaianan sepak bola cukup besar, permasalahannya selama ini adalah tidak adanya yang mengfasilitasi lapangan, klub, dan kompetisi (tidak seperti di Singapura dan Malaysia). Di sinilah peran PSSI untuk mewujudkannya.
Menurut Radi Rahmadiar, pemerhati dan promotor sepak bola, mengenai pemain wanita sepak bola: ada kemungkinan pemain wanita lebih unggul dibanding pria. Beliau mengambil contoh negara Amerika dan Tiongkok yang punya tim wanita lebih unggul daripada tim prianya. “Bola itu, kan bundar, jadi apa pun bisa terjadi, apalagi futsal wanita Indonesia sudah dikenal di scope Asia” ujarnya.
Jangan menyebut “aku cinta kamu” bila cintamu hoax atau kamu masih hoax. Orang-orang yang punya cinta akan terlihat dari sinar matanya, pandangannya, cara bicaranya, perilakunya, dan perjuanganya yang tidak habis-habis. Bicara sekjen PSSI baru, saya kenal masa mudanya yang memang keranjingan bola. Ternyata sampai sekarang cintanya terus berlanjut. Menatap lelah di sepasang mata Ketua PSSI baru, saya merasakan apa adanya dan kerelaannya, barangkali awalnya beliau “don’t know how to..” namun tubuhnya berbicara lantang dia berupaya. Orang yang benar-benar cinta akan berusaha apa pun demi yang dicintainya. Dan pengabdian beliau pada negeri masih bersangkar dalam jiwanya.

Sementara saat saya berada di Kongres PSSI 2017 kemarin, jujur saya sangat menikmati pria-pria yang cinta pada dunia atau profesinya yang hadir.
Bicara cinta sering dianggap lebay atau baper, tapi ini semua tentang pikiran dan rasa. Apa pun kamu dan apa pun itu.
Perkara berita/kabar hoax, “kamu saja hoax, apalagi berita.” Masih adakah “the real you” pada era ini? Kemudian, baru kita bisa bicara tentang cinta dan menumpahkannya.



Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI