Mohon tunggu...
Ikwan Setiawan
Ikwan Setiawan Mohon Tunggu... Dosen - Kelahiran Lamongan, 26 Juni 1978. Saat ini aktif melakukan penelitian dan pendampingan seni budaya selain mengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Dosen dan Peneliti di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Selanjutnya

Tutup

Nature Artikel Utama

Tambak Udang dan Ancaman Punahnya Pandan Laut

29 Agustus 2023   00:10 Diperbarui: 29 Agustus 2023   12:59 939
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Bagi para peneliti yang berorientasi ekonomi dan industri, pembangunan Jalur Lintas Selatan (JLS) yang menghubungkan kawasan selatan Jawa Timur, dari Pacitan hingga Banyuwangi, seringkali diwacanakan secara positif. 

Penuntasan proyek JLS yang mengambil lahan pinggir pantai serta sebagian kawasan hutan produksi, hutan alami, dan perkebunan diyakini bisa berdampak positif berupa percepatan industri, penurunan biaya transportasi, peningkatan aktivitas ekonomi, dan penyerapan tenaga kerja (Hamid, 2014). Tidak lupa, peningkatan aktivitas pariwisata di selatan Jawa karena akses jalan yang semakin mudah (Sasongko, 2016).

Memang, dalam beberapa hal, keyakinan para peneliti tersebut bisa dibuktikan. Di Banyuwangi, misalnya, industri pertambangan emas Tumpang Pitu dan sekitarnya, serta pabrik gula di Glennmore adalah industri strategis yang menurut pemerintah akan berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan ekonomi warga masyarakat. 

Bersantai di Pantai Paseban, Kencong. Dokumentasi penulis
Bersantai di Pantai Paseban, Kencong. Dokumentasi penulis
Maka, menuntaskan JLS menjadi penting karena bisa mempercepat mobilitas hasil produksi. Bahkan, ketika itu harus menerobos kawasan Taman Nasional Meru Betiri Sukamade ataupun hutan produksi di Jember.

Memang, JLS dari kawasan Kencong hingga Puger sudah selesai. Jalan di pinggir pantai selatan Jember pun mulus dengan kualitas aspal yang cukup baik. Lalu-lalang kendaraan pun mulai ramai melintasinya, baik jenis truk, pick up, minibus, hingga sepeda motor. 

Beberapa pantai di tepi Samudra Indonesia dikelola Pokdarwis (Keleompok Sadar Wisata) seperti Pantai Pancer dan Cemara di Puger serta Pantai Paseban di Kencong. Tentu, warga masyarakat yang terlibat dalam pengelolaan maupun yang mengembangkan UMKM seperti berjualan makanan dan minuman.

Dampak industrial yang cukup mencolok adalah mulai banyaknya tambak udang di sempadan pantai selatan Jember, dari Puger, Gumukmas, hingga Kencong. Menariknya, menurut Pemkab Jember, tambak-tambak tersebut ada yang memiliki izinn, ada yang tidak berizin alias liar. 

Tambak udang di pesisir selatan Jember. Dokumentasi penulis
Tambak udang di pesisir selatan Jember. Dokumentasi penulis
Ketika melintas JLS dari arah Paseban (Kencong) menuju Puger, saya menyaksikan beberapa traktor dan backhoe sedang dioperasikan untuk membuat kolam-kolam tambak. Banyak pekerja terlibat dalam aktivitas tersebut. Untuk tambak-tambak baru, yang paling banyak kami jumpai berada di Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas.

Narasi dan wacana tentang kesejahteraan selalu saja dimobilisasi ke tengah-tengah masyarakat agar mereka mendukung aktivitas tambak udang. Bagi warga desa yang membutuhkan pekerjaan, kesempatan untuk bisa bekerja di tambak udang tentu sangat menarik. Kondisi ini memunculkan keterpecahan sudut pandang dan pilihan antara mereka yang pro dan kontra. 

Di Desa Kepanjen, perbedaan pendapat antara yang mendukung dan menolak tambak sempat mengeras, sehingga menciptakan kondisi sosial yang tidak baik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Nature Selengkapnya
Lihat Nature Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun